Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dilaksanakan di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, berlangsung selama seminggu dan menarik perhatian banyak kalangan. Kegiatan ini merupakan salah satu acara penting bagi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Muktamar ini dibuka secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto, yang juga mendapatkan sambutan hangat dari ribuan peserta yang hadir dari berbagai daerah di tanah air. Dalam sambutannya, Prabowo menekankan pentingnya solidaritas dan kebersamaan dalam menjaga keutuhan dan persatuan di tengah keberagaman yang ada di Indonesia.
Acara pembukaan dimulai dengan tradisi khas NU yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh umat Islam, pemuda, dan masyarakat sekitar. Ini menggambarkan pentingnya peran Nahdlatul Ulama dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan moderasi. Setelah pembukaan, rangkaian kegiatan muktamar berlangsung dengan berbagai diskusi, seminar, serta kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat.
Setelah seminggu penuh dengan aktivitas, Muktamar ke-35 ditutup secara resmi pada hari Senin dengan prosesi yang khidmat. Penutupan ini melibatkan simbolis pemukulan beduk dan kentungan, yang merupakan tanda berakhirnya rangkaian acara tersebut. Menurut Prabowo, penutupan ini bukanlah akhir dari suatu kegiatan, tetapi harus menjadi awal dari aksi nyata dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan dan sosial yang harus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Ia berharap semua peserta dapat membawa pulang semangat dan hasil dari muktamar ini untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Dengan diadakannya muktamar ini, diharapkan Nahdlatul Ulama semakin solid dalam menjalankan tugasnya sebagai organisasi yang mengedepankan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil-Alamin. Penutupan resminya muktamar ini menjadi momen penting dan diharapkan dapat membangun sinergi sesama anggota serta masyarakat luas dalam menjaga ukhuwah dan kedamaian di Indonesia.
Dalam kesempatan penutupan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, Prabowo Subianto memberikan pidato yang penuh harapan dan penghargaan kepada para pemimpin baru organisasi tersebut. Beliau dengan tulus mengucapkan selamat kepada K.H. Abdul Hakim Mahfudz, yang terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode 2026-2031. Pidato ini menjadi momen penting bagi pengembangan arah dan strategi organisasi ke depan.
Selain itu, Prabowo juga menyampaikan ucapan selamat kepada K.H. Miftachul Akhyar yang telah terpilih sebagai Rais Aam. Validitas pemilihan ini menunjukkan dukungan yang kuat dari para nahdliyin kepada mereka berdua, yang diharapkan dapat membawa NU menuju masa depan yang lebih cerah dan produktif. Dengan pengalaman dan keahlian yang dimiliki oleh para pemimpin baru ini, diharapkan mereka mampu menavigasi tantangan dan menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Prabowo menekankan pentingnya kontribusi NU bagi negara dan bangsa di masa yang akan datang. Beliau berharap bahwa di bawah kepemimpinan yang baru ini, NU dapat menjadi motor penggerak dalam mewujudkan kemaslahatan sosial dan keagamaan. Ia menggarisbawahi bahwa selagi NU tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam ahlussunnah wal-jamaah, kontribusi organisasi ini akan semakin relevan di tengah dinamika sosial dan politik yang ada.
Dengan dukungan penuh dari semua pihak, Prabowo yakin bahwa Nahdlatul Ulama akan terus menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, menjaga persatuan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui diskusi yang produktif dan kolaborasi yang erat, harapan ini diharapkan bisa terwujud demi tercapainya cita-cita bersama.
Pada penutupan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, Prabowo Subianto mendapatkan kesempatan yang istimewa untuk menerima kartu tanda anggota Nahdlatul Ulama (NU) dari Rais Aam, K.H. Miftachul Akhyar. Momen ini bukan hanya sekadar simbolis, tetapi juga mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya peran Nahdlatul Ulama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
Prabowo mengungkapkan rasa terhormatnya atas penerimaan tersebut, menunjukkan bahwa keanggotaan NU yang kini disandangnya bukan saja merupakan sebuah pengakuan, tetapi lebih dari itu, adalah langkah strategis untuk membangun kerja sama yang lebih baik dengan seluruh elemen masyarakat Indonesia. Ia menekankan bahwa kolaborasi antar berbagai pihak, terutama dalam konteks organisasi besar seperti NU, dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi kemajuan bangsa.
Dalam pandangannya, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang memiliki pengaruh luas di Indonesia, memiliki potensi besar dalam menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam berbagai bidang kehidupan, baik itu sosial, ekonomi, maupun politik. Dengan bergabungnya Prabowo sebagai anggota NU, diharapkan dapat memperkokoh jalinan kerja sama pemerintah dan masyarakat, serta menumbuhkan semangat gotong royong di kalangan rakyat.
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan bahwa keanggotaan di NU seharusnya dimaknai sebagai komitmen untuk berkontribusi secara aktif di dalam masyarakat. Ini menunjukkan bagaimana pentingnya keberadaan organisasi masyarakat sipil dalam mendukung dan memperkuat pembangunan bangsa. Dengan semangat tersebut, Prabowo berharap dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat.
Penutupan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang dipimpin oleh Prabowo Subianto memberikan pesan moral yang dalam mengenai pentingnya persatuan dan solidaritas di anggota organisasi. Dalam sambutannya, Prabowo menekankan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, telah berhasil menunjukkan bagaimana perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan cara yang damai dan konstruktif. Ini menjadi contoh ideal bagi organisasi-organisasi lain dalam mengelola keberagaman.
Melalui muktamar yang berlangsung secara harmonis, NU menunjukkan bahwa dialog dan kerja sama adalah kunci utama dalam menjalin persatuan. Prabowo menyoroti pentingnya komunikasi terbuka dan saling menghargai antar anggota sebagai langkah untuk mencapai kesepakatan, meskipun terdapat beragam pandangan dan ide. Pesan ini menjadi semakin relevan di tengah dinamika sosial yang sering kali dibarengi dengan konflik. Keberhasilan muktamar dalam menghasilkan kesepakatan dan menjauhkan diri dari keributan mencerminkan kematangan organisasi dalam menghadapi tantangan.
Lebih dari itu, Muktamar Ke-35 ini mencerminkan komitmen NU untuk terus menjadi pelopor dalam menciptakan kedamaian dan harmoni di tengah masyarakat. Prabowo menekankan bahwa misi ini bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan semangat gotong royong dan rasa saling percaya, segala perbedaan dapat dikelola dengan baik. Oleh karena itu, pesan moral yang dapat diambil dari pelaksanaan muktamar ini adalah bahwa kesatuan dalam keragaman bukan hanya mungkin, tetapi juga sangat diperlukan untuk kemajuan bangsa.









