Perjalanan tim tinju Indonesia pada Asian Games 2026 berakhir tanpa raihan medali. Hasil tersebut menjadi catatan penting bagi Pengurus Besar Tinju Amatir Indonesia (Perbati), terlebih karena cabang tinju diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kontingen Merah Putih dalam ajang olahraga terbesar di Asia tersebut. Namun, seluruh petinju Indonesia harus mengakhiri perjuangan di Jepang tanpa membawa pulang medali.
Perbati mengakui bahwa hasil ini menunjukkan masih adanya sejumlah kekurangan yang perlu segera dibenahi. Evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi penampilan para atlet selama pertandingan. Pembenahan tersebut diperlukan agar persiapan tim pada kompetisi berikutnya dapat berlangsung lebih terarah, baik dari sisi program latihan maupun kesiapan menghadapi tekanan pertandingan.
Kondisi fisik menjadi salah satu hal yang disoroti setelah tim tinju Indonesia menyelesaikan seluruh rangkaian pertandingan. Ketahanan dan kebugaran atlet dinilai memiliki peran penting dalam menjaga konsistensi penampilan, terutama ketika petinju harus menjalani pertandingan dengan intensitas tinggi. Selain itu, faktor penilaian dalam pertandingan juga menjadi perhatian Perbati untuk dikaji secara lebih mendalam sebagai bagian dari evaluasi.
Meski belum mampu meraih medali, pengalaman di Asian Games 2026 tetap menjadi bahan berharga bagi pembinaan tinju nasional. Perbati berencana segera melakukan pembenahan dengan menjadikan hasil di Jepang sebagai dasar untuk menyusun langkah berikutnya. Evaluasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penilaian terhadap hasil akhir, tetapi juga menghasilkan perbaikan konkret dalam persiapan atlet dan tim pendukung.
Seluruh petinju Indonesia yang mengikuti ajang tersebut telah kembali ke Tanah Air pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Kepulangan itu menandai berakhirnya perjalanan kontingen tinju Indonesia di Asian Games 2026. Setelah ini, perhatian Perbati beralih pada proses evaluasi dan upaya memperkuat kesiapan tim agar dapat tampil lebih kompetitif pada kejuaraan mendatang.
Indonesia menurunkan lima petinju pada Asian Games 2026, dengan komposisi kelas yang tersebar dari nomor 54 hingga 80 kilogram. Nabila Maharani menjadi wakil pada kelas 54 kilogram, sedangkan Huswatun Hasanah tampil di kelas 65 kilogram. Jill Mandagie bertanding pada kelas 55 kilogram, Asri Udin turun di kelas 60 kilogram, dan Maikhel Muskita mewakili Indonesia pada kelas 80 kilogram.
Kelima petinju tersebut belum mampu membawa Indonesia meraih medali. Pencapaian tertinggi seluruh wakil Indonesia hanya sampai babak perempat final. Hasil itu menunjukkan bahwa perjalanan mereka terhenti sebelum memasuki semifinal, sehingga tidak ada satu pun dari lima petinju tersebut yang melanjutkan persaingan hingga perebutan medali.
Salah satu hasil yang menjadi sorotan terjadi pada kelas 80 kilogram. Maikhel Muskita harus menghadapi petinju Korea Selatan, Minseong Kim, pada babak perempat final. Kekalahan dari Minseong Kim membuat Maikhel gagal melaju ke semifinal. Dengan demikian, capaian Maikhel berhenti di perempat final, sama seperti batas pencapaian tertinggi yang diraih para wakil Indonesia lainnya dalam daftar tersebut.
Urutan wakil Indonesia itu mencakup Nabila Maharani pada kelas 54 kilogram, Huswatun Hasanah di kelas 65 kilogram, Jill Mandagie pada kelas 55 kilogram, Asri Udin di kelas 60 kilogram, serta Maikhel Muskita pada kelas 80 kilogram. Meskipun telah mencapai perempat final, tidak ada yang mampu menembus babak semifinal. Kondisi tersebut menjadi catatan utama dari penampilan lima petinju Indonesia pada Asian Games 2026, terutama karena perjuangan mereka berakhir sebelum menghasilkan medali.
Sekretaris Jenderal Perbati, Hengky Silatang, menilai kualitas petinju Indonesia sebenarnya tidak tertinggal dari para petinju Asia lainnya. Penilaian itu juga mencakup negara-negara yang memiliki banyak juara Olimpiade. Menurutnya, kemampuan teknik, keberanian bertanding, dan potensi atlet Indonesia berada pada level yang kompetitif. Perbedaan hasil di arena lebih banyak dipengaruhi oleh kesiapan fisik serta kemampuan menjaga performa sepanjang pertandingan.
Evaluasi Perbati menunjukkan bahwa sejumlah petinju Indonesia mampu tampil meyakinkan pada ronde awal, tetapi mengalami penurunan tenaga pada ronde berikutnya. Maikhel, Huswatun, dan Jill disebut sebagai contoh atlet yang sempat unggul, namun kemudian kehilangan konsistensi sehingga lawan dapat membalikkan keadaan. Pola tersebut membuat keunggulan angka atau momentum yang telah dibangun sejak awal tidak dapat dipertahankan hingga ronde terakhir.
Hengky secara khusus menyoroti penampilan Maikhel. Ia menilai Maikhel seharusnya mampu mencapai semifinal setelah unggul 4-1 pada ronde pertama. Namun, kondisi pertandingan berubah pada ronde kedua dan ketiga ketika Maikhel mulai tertinggal. Penurunan stamina itu memberi ruang bagi lawan untuk meningkatkan tekanan, mengumpulkan angka, dan mengamankan kemenangan. Bagi Perbati, situasi tersebut menjadi bukti bahwa aspek fisik perlu ditangani secara lebih terukur dan profesional.
Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah belum adanya pelatih fisik khusus dalam pendampingan tim tinju Indonesia. Perbati berencana menghadirkan tenaga ahli yang dapat menyusun program kekuatan, daya tahan, pemulihan, serta pengaturan beban latihan sesuai kebutuhan setiap atlet. Pendampingan tersebut tidak cukup dilakukan menjelang kompetisi, melainkan perlu berlangsung secara berkelanjutan dalam pemusatan latihan dan kalender pertandingan. Dengan pembinaan fisik yang konsisten, atlet diharapkan mampu mempertahankan intensitas sejak ronde pertama hingga akhir, sehingga kualitas teknik yang sudah dimiliki dapat menghasilkan prestasi lebih baik.
Hengky menilai kegagalan Indonesia meraih medali pada Asian Games 2026 tidak semata-mata menunjukkan bahwa kualitas para petinju berada di bawah lawan. Menurutnya, terdapat faktor nonteknis yang turut memengaruhi hasil pertandingan, terutama keputusan juri. Dalam olahraga tinju, penilaian tidak seluruhnya ditentukan oleh ukuran yang sepenuhnya terukur seperti waktu, jarak, atau catatan angka yang bersifat objektif. Hasil pertandingan banyak bergantung pada pengamatan langsung juri terhadap pukulan efektif, penguasaan ring, pertahanan, serta inisiatif yang ditampilkan petinju selama setiap ronde.
Kondisi tersebut membuat keberadaan perwakilan Indonesia di lingkungan tinju internasional menjadi penting. Selain berfungsi sebagai peserta, mereka juga perlu hadir dalam ekosistem pertandingan agar dapat memahami karakter penilaian, membangun komunikasi profesional, dan memastikan perkembangan tinju nasional tetap diperhitungkan. Hengky melihat pengalaman bertanding di level internasional sebagai bagian dari proses yang tidak dapat dipisahkan dari upaya meningkatkan kualitas atlet maupun kesiapan tim.
Ia mencontohkan penampilan Maikhel yang dinilai masih memiliki peluang untuk memenangi pertandingan. Hengky berpandangan bahwa Maikhel mampu mengambil ronde ketiga, sehingga hasil akhir sebenarnya masih terbuka hingga pertandingan berakhir. Namun, keputusan juri tidak berpihak kepada petinju Indonesia tersebut. Penilaian itu menjadi gambaran bahwa performa yang dinilai cukup kompetitif belum selalu berujung pada kemenangan, terutama ketika perbedaan antarpetinju berlangsung ketat.
Perbati tetap menyatakan tanggung jawab atas hasil yang diperoleh di Asian Games 2026. Evaluasi akan dilakukan terhadap seluruh aspek, baik kondisi fisik, strategi pertandingan, kesiapan mental, maupun faktor pendukung yang berkaitan dengan penilaian juri. Sikap tersebut diperlukan agar setiap kekurangan dapat diidentifikasi secara terbuka dan diperbaiki melalui persiapan yang lebih terarah. Hasil evaluasi akan menjadi dasar pembenahan untuk target berikutnya, yaitu meloloskan petinju Indonesia ke Olimpiade serta menghadapi SEA Games di Malaysia. Perbati berharap pengalaman ini memperkuat sistem pembinaan dan meningkatkan konsistensi prestasi pada kompetisi mendatang.










