Bandung | Yumika Phingkan Ayu, siswi berusia 16 tahun di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memilih tinju sebagai jalan untuk mengejar cita-cita. Ia ingin menjadi atlet dan membanggakan kedua orang tuanya. Bagi Yumika, keberhasilan di ring bukan hanya tentang kemenangan atau medali, tetapi juga kesempatan menunjukkan bahwa ia mampu berusaha keras demi keluarga. Cita-cita itu tumbuh bersama tekadnya untuk membantu mengangkat kondisi keluarganya, sekaligus membalas perhatian dan pengorbanan ayah serta ibunya.
Yumika membagikan kisah perjuangannya setelah menghadiri penutupan perayaan satu tahun Sekolah Rakyat dan peringatan Sumpah Pemuda di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Kamis. Kehadirannya dalam acara tersebut menjadi kesempatan untuk menceritakan apa arti tinju dalam hidupnya. Olahraga ini menuntut disiplin, latihan yang konsisten, dan keberanian menghadapi tantangan. Ia menekuninya dengan harapan dapat berkembang sebagai atlet, meski jalan menuju cita-cita itu tentu membutuhkan ketekunan dan dukungan. Pengalaman bersekolah di SRT menjadi bagian dari perjalanan yang sedang ia jalani.
Di balik pilihannya menekuni olahraga bela diri, tersimpan tujuan yang bersifat personal. Tinju bagi Yumika bukan sekadar kegiatan fisik atau cara mengisi waktu, melainkan bentuk tekad untuk membuktikan baktinya kepada ayah dan ibu. Ia ingin menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat membuka peluang bagi masa depan yang lebih baik. Keinginan membanggakan orang tua juga menjadi dorongan saat ia menghadapi proses latihan dan berupaya menjaga semangatnya. Bagi seorang remaja, cita-cita menjadi atlet sekaligus membantu keluarga merupakan tanggung jawab besar, tetapi Yumika menjadikannya alasan untuk terus melangkah. Kisahnya memperlihatkan bagaimana harapan terhadap masa depan dapat berangkat dari rasa sayang kepada keluarga. Dengan tinju, ia berusaha membangun jalan menuju cita-cita itu, sembari membawa harapan untuk membuat ayah dan ibunya bangga.
Sebelum masuk Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 4 Bandung, kehidupan Yumika dan keluarganya diwarnai tekanan ekonomi serta persoalan kesehatan. Ibunya mengalami stroke dan serangan jantung setelah terbebani biaya pendidikan bagi empat dari tujuh anak. Kebutuhan sekolah yang harus dipenuhi membuat keadaan keluarga semakin berat, sementara kondisi kesehatan sang ibu membatasi kemampuannya untuk mengurus rumah tangga dan mencari penghasilan. Di tengah situasi tersebut, pendidikan Yumika ikut terancam. Keinginan untuk tetap bersekolah harus berhadapan dengan kebutuhan sehari-hari yang mendesak, dan pilihan keluarga menjadi semakin terbatas.
Penghasilan keluarga juga berkurang setelah ayah Yumika berhenti berjualan baju. Usaha tersebut terdampak pandemi COVID-19, sehingga ia tidak lagi dapat mengandalkannya sebagai sumber nafkah. Ketika pemasukan tak menentu dan biaya sekolah terus menjadi beban, Yumika sempat menunda impiannya untuk bersekolah. Ia kemudian bekerja serabutan di rumah orang lain agar dapat membantu keluarga. Bagi Yumika, pekerjaan itu merupakan cara untuk meringankan keadaan di rumah, meski harus mengesampingkan pendidikan yang ingin ia jalani. Pengalaman tersebut menggambarkan bagaimana kesulitan ekonomi dapat memengaruhi kesempatan anak untuk belajar dan merencanakan masa depan.
Perubahan mulai terbuka ketika tim Kementerian Sosial datang ke rumah Yumika. Mereka menyampaikan tawaran pendidikan gratis melalui program Sekolah Rakyat, yang memberi keluarga jalan untuk kembali mempertimbangkan pendidikan Yumika tanpa menambah beban biaya sekolah. Dukungan yang diterima tidak hanya terkait akses belajar. Keluarganya juga memperoleh bantuan modal usaha PPSE untuk mendukung warung sang ibu, serta jaminan kesehatan melalui BPJS. Bantuan ini menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan yang saling berkaitan, mulai dari pendapatan hingga kebutuhan layanan kesehatan. Di tengah kondisi yang sebelumnya membuat Yumika menunda sekolah, kehadiran program dan dukungan tersebut membuka kesempatan baginya untuk melanjutkan pendidikan. Langkah awal itu menjadi titik perubahan bagi keluarga, sekaligus memberi Yumika ruang untuk kembali mengejar cita-citanya.Setelah lebih dari satu tahun tinggal di asrama Sekolah Rakyat Bandung, Yumika kini duduk di kelas 11 dan semakin mantap mengembangkan kemampuannya. Perubahan dalam kesehariannya terlihat melalui kesempatan belajar, berlatih, dan mengikuti kegiatan yang mendukung minatnya. Dengan bimbingan guru olahraga, ia menekuni tinju hingga meraih gelar juara tingkat Jawa Barat dalam kejuaraan bela diri tinju Fighter Reborn Bandung, yang terafiliasi dengan KONI Jawa Barat. Prestasi tersebut menjadi pencapaian penting sekaligus dorongan baginya untuk terus berlatih dengan disiplin.
Di luar ring, Yumika juga mengasah olah vokal dan seni tradisi. Ia belajar bersyair dan nyinden dengan kekhasan Sunda, serta pernah tampil dalam berbagai acara resmi negara. Kemampuan sinden itu diwarisi dari ibunya, sementara minatnya pada bela diri dan seni juga disebut berkaitan dengan ayahnya. Beragam pengalaman tersebut memberinya ruang untuk mengenali potensi diri, baik sebagai atlet maupun sebagai pengisi acara. Ia bahkan memperoleh kesempatan mengikuti rekaman lagu resmi Sekolah Rakyat di Jakarta, pengalaman yang mempertemukan bakat seninya dengan kegiatan sekolah.
Yumika memiliki cita-cita menjadi atlet tinju atau anggota TNI yang mahir bela diri. Ia terus menyiapkan diri melalui latihan dan kegiatan belajar, sembari menjaga semangat untuk meraih masa depan yang diinginkan. Fasilitas sekolah mendukungnya menjalani kegiatan dengan lebih terarah, sedangkan disiplin kehidupan asrama membiasakannya mengatur waktu dan mengikuti rutinitas. Teknologi pembelajaran juga menjadi bagian dari pengalaman belajarnya, membantu membuka akses terhadap proses belajar yang lebih beragam. Dukungan tersebut tidak menjamin jalan menuju cita-cita selalu mudah, tetapi memberi Yumika lingkungan untuk bertumbuh dan mengembangkan kemampuan.
Dengan pengalaman yang telah dijalani, ia mengaku lebih optimistis menatap masa depan. Kesempatan berlatih tinju, berkesenian, belajar, dan tampil dalam berbagai kegiatan membuatnya dapat membayangkan pilihan hidup dengan lebih jelas. Yumika menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas program Sekolah Rakyat. Baginya, kesempatan tinggal dan belajar di sekolah itu menjadi bekal untuk terus berusaha, mengembangkan bakat, serta mengejar cita-cita yang telah ia tetapkan.
Kisah Yumika di Bandung dapat dipahami dalam konteks upaya Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Namun, keberadaan program nasional ini tidak dengan sendirinya berarti setiap layanan di dalamnya telah diterima secara pribadi oleh Yumika. Pengalaman dan dukungan yang diperoleh masing-masing siswa dapat berbeda, sehingga kisahnya perlu ditempatkan sebagai bagian dari konteks yang lebih luas, bukan sebagai bukti bahwa seluruh fasilitas program telah ia manfaatkan.
Sekolah Rakyat merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menyediakan pendidikan gratis bagi anak dari keluarga dalam desil 1–4 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Rancangannya menghubungkan pendidikan dengan pendekatan pengentasan kemiskinan terpadu. Artinya, perhatian program tidak hanya tertuju pada kegiatan belajar di sekolah, tetapi juga pada berbagai dukungan sosial yang dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar. Pendekatan tersebut dimaksudkan agar hambatan ekonomi tidak terus membatasi kesempatan anak untuk bersekolah dan mengembangkan potensinya.
Dalam kerangka program secara umum, dukungan yang terintegrasi mencakup Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta jaminan kesehatan melalui Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK). Program ini juga dihubungkan dengan inisiatif Koperasi Merah Putih dan program 3 juta rumah. Penyebutan layanan-layanan tersebut menjelaskan cakupan kebijakan, bukan memastikan bahwa setiap siswa atau keluarga telah memperoleh seluruhnya. Penyaluran dan akses dapat bergantung pada pelaksanaan program serta kondisi masing-masing penerima.
Menurut data Kementerian Sosial dalam bahan sumber terdapat.
Baca juga: Transformasi Digital di Sekolah Rakyat Medan | Perjuangan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 | Ancaman Hukum Bagi Mantan Kepala Sekolah atas Tindakan Kekerasan Terhadap Siswa










