Kabupaten Banyuwangi | Gandrung Sewu 2026 direncanakan berlangsung pada Sabtu malam, 24 Oktober, di Pantai Marina Boom, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Jadwal ini menandai perubahan penting dari penyelenggaraan sebelumnya, ketika pertunjukan digelar pada siang hari. Kali ini, suasana malam akan menjadi bagian utama dari pengalaman menonton, menghadirkan pemandangan yang berbeda bagi penari maupun penonton. Pantai Marina Boom dipilih sebagai panggung terbuka, dengan Selat Bali sebagai latar alami pertunjukan.
Konsep yang diusung adalah glow in the dark, atau tampilan yang menyala dalam gelap. Para penari direncanakan mengenakan busana atau menggunakan instrumen khusus yang dapat memancarkan warna-warni ketika suasana pantai temaram. Cahaya pada kostum dan perlengkapan tersebut akan membantu gerak serta formasi para penari terlihat dari kejauhan, sekaligus membangun kesan visual yang khas. Perpaduan warna terang dengan langit malam di tepi laut diharapkan memberi dimensi baru pada sajian tari kolosal ini.
Peralihan dari pertunjukan siang menuju malam juga mengubah cara penonton menikmati acara. Jika cahaya matahari sebelumnya menjadi penerang utama, pada edisi 2026 pencahayaan buatan dan efek visual akan memegang peran lebih besar. Gelapnya malam bukan sekadar latar, melainkan unsur yang mendukung konsep pertunjukan. Siluet penari, kilau instrumen, dan bentang perairan Selat Bali dapat membentuk komposisi yang berbeda dari penampilan pada waktu siang.
Meski demikian, daya tarik acara tidak hanya terletak pada efek bercahaya. Gerak tari, kekompakan para penari, dan pengolahan panggung tetap menjadi unsur penting yang menyampaikan karakter Gandrung. Konsep malam memberi ruang bagi unsur-unsur tersebut untuk tampil melalui permainan cahaya dan kontras. Bagi pengunjung, pengalaman menyaksikan tarian di kawasan pesisir setelah matahari terbenam dapat menawarkan suasana yang lebih dramatis, dengan angin laut serta cakrawala gelap sebagai bagian dari latarnya.
Rencana ini menjadikan Gandrung Sewu 2026 sebagai pertunjukan yang memadukan tradisi tari Banyuwangi dengan pendekatan visual yang lebih kontemporer. Dengan konsep menyala dalam gelap di Pantai Marina Boom, penyelenggaraan malam hari diharapkan menghadirkan wajah baru tanpa menghilangkan perhatian pada tari dan budaya lokal.
Memasuki penyelenggaraan tahun ke-14, Gandrung Sewu menegaskan posisinya sebagai salah satu festival budaya penting di Banyuwangi. Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa pertunjukan tari yang berakar pada tradisi lokal tersebut terus dirawat dan dikembangkan dari tahun ke tahun. Pengakuannya juga semakin luas, lain karena Gandrung Sewu telah tercatat dalam Kalender Event Nasional. Pencatatan itu menjadi penanda bahwa festival ini memiliki daya tarik yang melampaui daerah asalnya sekaligus berpotensi memperkuat promosi budaya Indonesia.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani berharap Gandrung Sewu dapat terus berkembang dan semakin dikenal di panggung dunia. Menurutnya, festival ini memiliki kekuatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat yang lebih luas. Untuk mendorong perkembangan tersebut, pemerintah daerah menjalin kerja sama dengan InJourney dalam menghadirkan konsep baru. Pembaruan diharapkan dapat membuat pengalaman festival semakin menarik, tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi ciri khasnya. Kolaborasi ini juga membuka peluang bagi Gandrung Sewu untuk menjangkau audiens yang lebih beragam dan memperkuat posisinya sebagai agenda budaya unggulan.
Ipuk menegaskan bahwa Gandrung Sewu tidak semata-mata diselenggarakan sebagai daya tarik wisata. Festival ini merupakan wujud keluhuran budaya Banyuwangi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui pertunjukan dan keterlibatan anak muda, nilai-nilai tradisi dapat dikenali, dipelajari, dan diteruskan oleh generasi penerus. Pada saat yang sama, festival memberi ruang bagi budaya lokal untuk diperkenalkan kepada dunia. Dengan demikian, pengembangan konsep dan jangkauan acara berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga warisan budaya. Harapan untuk tampil di panggung global bukan hanya tentang memperbesar nama festival, tetapi juga membawa cerita, identitas, dan kebanggaan masyarakat Banyuwangi kepada khalayak internasional.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, memandang Banyuwangi memiliki fondasi kuat untuk mengembangkan pariwisata karena ditopang kekayaan alam sekaligus budaya yang khas. Kedua unsur tersebut menjadi modal penting bagi daerah untuk menawarkan pengalaman yang beragam kepada wisatawan, mulai dari menikmati lanskap pesisir hingga mengenal tradisi dan ekspresi seni setempat. Gelaran seperti Gandrung Sewu dapat menjadi ruang untuk menampilkan kekayaan budaya Banyuwangi dalam bentuk pertunjukan yang menarik, sekaligus memperkuat daya tarik destinasi. Potensi itu, menurut Maya, perlu dikembangkan dengan cara yang saling terhubung agar tidak berhenti sebagai aset yang berdiri sendiri.
Atas dasar tersebut, InJourney berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menghubungkan berbagai potensi Banyuwangi dan menciptakan nilai tambah bagi daerah. Kerja sama ini mencakup upaya membangun keterkaitan atraksi, akses, dan kegiatan wisata, sehingga kekayaan alam maupun budaya dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang lebih utuh. InJourney merupakan perusahaan di bawah Danantara yang bergerak di sektor aviasi dan pariwisata. Peran lintas sektor tersebut menjadi landasan bagi perusahaan dalam mendorong ekosistem pariwisata yang terintegrasi, khususnya di daerah yang terhubung dengan jaringan penerbangan, termasuk Banyuwangi.
Bagi Maya, keterhubungan akses penerbangan dengan destinasi dan aktivitas wisata dapat membantu memperluas peluang kunjungan, tetapi ukuran keberhasilan pariwisata tidak semata-mata jumlah pengunjung. Penilaian juga perlu memperhatikan berapa lama wisatawan tinggal, kegiatan apa yang mereka lakukan selama berada di daerah, serta seberapa besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat setempat. Wisatawan yang tinggal lebih lama dan mengikuti lebih banyak kegiatan berpeluang membelanjakan lebih banyak untuk layanan lokal, seperti akomodasi, kuliner, transportasi, dan produk masyarakat. Karena itu, pengembangan destinasi perlu mendorong pengalaman yang membuat pengunjung tertarik menjelajahi lebih banyak hal, sambil membuka kesempatan bagi pelaku usaha setempat untuk terlibat. Kolaborasi InJourney dan pemerintah daerah diarahkan untuk menghubungkan potensi tersebut dengan kebutuhan wisatawan serta peluang ekonomi lokal. Dengan pendekatan ini, kekuatan alam dan budaya Banyuwangi diharapkan memberi dampak yang lebih luas, bukan hanya meningkatkan daya tarik perjalanan, tetapi juga memperkuat manfaat pariwisata bagi daerah.Gandrung Sewu 2026 mengusung tema Kembang Darmo dengan melibatkan 1.300 penari. Jumlah tersebut menunjukkan skala keterlibatan yang besar dalam penyelenggaraan festival, sementara asal peserta tidak terbatas pada Banyuwangi. Penari dari luar kota juga turut ambil bagian, sehingga pelaksanaan acara menghimpun peserta dari lebih dari satu wilayah. Tema dan jumlah penari menjadi dua unsur utama yang membingkai rencana penyajian Gandrung Sewu tahun ini.
Kembang Darmo menjadi tema yang menaungi penyajian festival. Dalam konteks acara, tema tersebut berperan sebagai landasan bagi penampilan yang direncanakan, tanpa perlu mengasumsikan rincian bentuk atau makna yang belum disampaikan. Kehadiran 1.300 penari memberi gambaran tentang banyaknya orang yang akan terlibat dalam penyajian bersama. Informasi ini juga memperlihatkan bahwa festival dirancang dalam skala yang melibatkan kelompok peserta cukup luas.
Keterlibatan peserta dari luar Banyuwangi melengkapi partisipasi penari setempat. Dengan demikian, 1.300 penari yang ambil bagian tidak hanya berasal dari satu daerah. Cakupan peserta tersebut menjadi bagian dari perencanaan festival, sejalan dengan tema Kembang Darmo dan jumlah penari yang telah ditetapkan. Tanpa menambahkan rincian mengenai asal kota tertentu ataupun susunan penampilan, skala partisipasi ini dapat dipahami sebagai salah satu aspek penting dalam menyiapkan acara.
Dalam merencanakan penyajian, jumlah penari dan keberagaman asal peserta merupakan informasi yang saling berkaitan. Keduanya memberikan gambaran tentang luasnya keterlibatan yang perlu diperhitungkan dalam pelaksanaan festival, sekaligus menjaga perhatian pada tema yang diusung.










