Kesenjangan Gender Antarindustri: Sektor Perawatan Teratas, Infrastruktur Terendah

Kesenjangan Gender Antarindustri: Sektor Perawatan Teratas, Infrastruktur Terendah

Jakarta | Global Gender Gap Report 2026 dari World Economic Forum memeringkat 18 industri berdasarkan proporsi pekerja perempuan. Pemeringkatan ini memberikan gambaran lintas sektor mengenai keterwakilan perempuan dalam komposisi tenaga kerja. Angka yang disajikan bukan ukuran langsung kesetaraan upah, kesempatan promosi, atau kualitas pekerjaan. Karena itu, hasilnya perlu dipahami secara khusus sebagai perbandingan pangsa pekerja perempuan antarindustri, sesuai cakupan data yang digunakan. Temuan tersebut memperlihatkan perbedaan yang cukup lebar bidang dengan proporsi tertinggi dan sektor yang berada di urutan terbawah.

Menurut metode yang dijelaskan dalam laporan, angka untuk setiap industri merupakan rata-rata tidak tertimbang. Perhitungan ini menggunakan data LinkedIn yang mencakup 61 negara, dengan cakupan waktu hingga Juni 2026. Dengan pendekatan tersebut, hasil yang dilaporkan menggambarkan pola dalam data lintas negara, bukan perkiraan yang hanya mewakili satu negara tertentu. Oleh sebab itu, angka-angka ini tidak dapat dibaca sebagai gambaran khusus Indonesia. Metode dan cakupan geografisnya penting diperhatikan ketika membandingkan industri, menafsirkan jarak antarsektor, atau menghubungkan temuan global dengan kondisi pasar kerja nasional.

Bacaan Lainnya

Di posisi teratas, kesehatan dan layanan perawatan mencatat proporsi pekerja perempuan sebesar 60%. Pendidikan berada berikutnya dengan 54%, disusul layanan konsumen sebesar 52%. Pemerintahan dan sektor publik menempati posisi selanjutnya di hasil utama yang disebutkan, dengan angka 51%. Sementara itu, infrastruktur berada di posisi terbawah: perempuan mencakup 24% pekerja di sektor tersebut. Selisih infrastruktur dan kesehatan serta layanan perawatan mencapai 36 poin persentase. Perbandingan ini menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan tidak tersebar merata di seluruh industri. Namun, persentase tersebut sendiri tidak menjelaskan penyebab perbedaan, perubahan dari waktu ke waktu, ataupun kondisi pekerja dalam masing-masing bidang. Dengan demikian, pemeringkatan ini paling tepat digunakan sebagai peta perbandingan proporsi, bukan sebagai penjelasan menyeluruh atas kesenjangan gender di setiap sektor.

Tingginya keterwakilan perempuan di bidang kesehatan, layanan perawatan, dan pendidikan dapat dijelaskan oleh gabungan perubahan sosial, pilihan pendidikan, serta pola historis dalam pembagian kerja. Secara tradisional, pekerjaan yang berkaitan dengan merawat, mendampingi, dan mengajar sering dipandang sebagai perpanjangan dari peran perempuan di keluarga. Pandangan tersebut turut membentuk anggapan mengenai jenis pekerjaan yang dianggap sesuai bagi perempuan, sekaligus memengaruhi cara profesi tertentu dihargai dan diisi. Namun, kecenderungan ini bukan semata-mata hasil pilihan individu; norma sosial, akses terhadap pelatihan, dan peluang kerja juga ikut berperan.

Jalur pendidikan yang berubah telah membuka lebih banyak kesempatan bagi perempuan untuk memasuki beragam profesi. Di berbagai belahan dunia, semakin banyak perempuan menempuh pendidikan tinggi, meskipun tingkat partisipasi dan pilihan bidang studi berbeda antarnegara. Peningkatan tersebut tampak kuat pada bidang-bidang tertentu, termasuk kesehatan dan pendidikan, yang menyediakan jalur kualifikasi profesional serta pekerjaan yang relatif jelas. Di bidang kedokteran, Association of American Medical Colleges menyebut perempuan telah mencatat kemajuan berarti dalam pendidikan kedokteran dan profesi dokter. Perkembangan itu menunjukkan bahwa komposisi tenaga kerja dapat berubah ketika akses pendidikan dan peluang profesional meluas.

Meski demikian, bertambahnya jumlah perempuan yang masuk ke suatu sektor tidak otomatis menghapus ketimpangan pada tahap berikutnya. Association of American Medical Colleges juga mencatat bahwa kesenjangan dalam kepemimpinan dan jenjang karier masih bertahan. Hambatan dapat muncul dalam akses terhadap posisi senior, pengakuan profesional, dukungan untuk pengembangan karier, maupun pembagian tanggung jawab keluarga. Selain itu, kaitan historis perempuan dengan pekerjaan mengajar dan merawat dapat memengaruhi perekrutan dan ekspektasi karier: perempuan mungkin lebih sering diarahkan ke peran pelayanan, sementara posisi pengambil keputusan dianggap lebih sesuai bagi kelompok lain. Warisan tersebut ikut membentuk komposisi tenaga kerja, bahkan ketika kebijakan dan kesempatan pendidikan mulai berubah. Karena itu, keterwakilan yang tinggi perlu dibaca bersama mutu pekerjaan, kondisi kerja, peluang promosi, dan distribusi kepemimpinan di dalam sektor tersebut.Di sektor infrastruktur, pertambangan, manufaktur, dan transportasi, komposisi tenaga kerja masih sangat didominasi laki-laki. Ketimpangan ini bukan semata-mata cerminan minat atau pilihan individu; akses terhadap pintu masuk pekerjaan teknis juga dibentuk oleh cara industri merekrut dan menyiapkan pekerja. Jalur magang tradisional, misalnya, kerap menjadi rute utama menuju pekerjaan tertentu. Ketika kesempatan magang bergantung pada jaringan lama atau pola perekrutan yang telah terbentuk, perempuan dapat lebih sulit memperoleh pengalaman awal dan koneksi yang dibutuhkan untuk memasuki bidang tersebut. Akibatnya, dominasi yang sudah ada berpotensi berlanjut dari satu generasi pekerja ke generasi berikutnya.

Stereotip mengenai pekerjaan teknis turut memperkuat pemisahan tersebut. Anggapan bahwa pekerjaan lapangan atau fisik lebih sesuai bagi laki-laki dapat memengaruhi siapa yang didorong untuk melamar, siapa yang dianggap cocok, serta bagaimana kemampuan dinilai. Di dalam organisasi, budaya tempat kerja juga berpengaruh. Norma yang kurang inklusif, minimnya rasa memiliki, atau lingkungan yang tidak mendukung dapat membuat pekerja perempuan menghadapi hambatan dalam bertahan dan berkembang. Hambatan ini tidak selalu tampak sebagai larangan formal; hambatan dapat muncul dalam pengalaman sehari-hari, kesempatan mengikuti pelatihan, pembagian tugas, maupun akses terhadap pembimbing dan jaringan profesional. Karena itu, kesenjangan tidak cukup dijelaskan oleh jumlah perempuan yang direkrut saja.

Temuan studi McKinsey menunjukkan bahwa perempuan di sektor pertambangan melaporkan terbatasnya peluang untuk naik jabatan serta budaya kerja yang eksklusif. Pengalaman tersebut menggambarkan bahwa tantangan dapat berlanjut setelah perempuan berhasil masuk ke industri. Jika akses pada kemajuan karier terbatas dan suasana kerja membuat sebagian pekerja merasa tidak dilibatkan, mempertahankan serta mengembangkan tenaga kerja yang beragam menjadi lebih sulit. Temuan ini sejalan dengan peran jalur magang, stereotip pekerjaan, dan budaya organisasi dalam mempertahankan dominasi laki-laki di sektor teknis. Dengan demikian, perekrutan perempuan merupakan bagian penting, tetapi tidak cukup dengan sendirinya untuk menutup kesenjangan gender. Upaya juga perlu memperhatikan kondisi yang membentuk akses, pengalaman kerja, dan peluang berkembang, tanpa menganggap bahwa satu langkah saja dapat mengatasi seluruh hambatan.

Di tengah kesenjangan gender yang masih terlihat antarindustri, muncul tanda bahwa sebagian pekerja dari generasi yang lebih muda mulai menaruh perhatian baru pada pekerjaan teknis terampil. Bidang-bidang seperti ini menawarkan jalur kerja yang berbeda dari pilihan karier yang selama ini lebih banyak dibicarakan. Ketertarikan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan teknis mulai dipertimbangkan sebagai pilihan yang relevan, bukan sekadar sebagai jalur yang kurang dikenal oleh angkatan kerja muda. Namun, perubahan minat itu perlu dibaca secara hati-hati: adanya perhatian baru belum berarti bahwa komposisi pekerja di sektor-sektor tersebut sudah berubah.

Sumber mengaitkan daya tarik pekerjaan teknis terampil dengan pertimbangan praktis, terutama keamanan kerja. Bagi pekerja muda yang sedang memikirkan arah karier, prospek pekerjaan yang dinilai lebih aman dapat menjadi alasan untuk melihat kembali bidang-bidang ini. Pertimbangan lain adalah tersedianya pilihan selain menempuh pendidikan tinggi yang mahal. Jalur teknis dapat dipandang sebagai alternatif untuk memasuki dunia kerja tanpa harus mengambil pilihan pendidikan tinggi dengan biaya besar. Dengan demikian, minat yang muncul tidak hanya berkaitan dengan jenis pekerjaan, tetapi juga dengan cara pekerja muda menimbang kestabilan dan pilihan pendidikan.

Meski demikian, bertambahnya perhatian terhadap pekerjaan teknis tidak serta-merta menjawab persoalan keterwakilan gender.

Baca juga: Tiga Zona Perawatan untuk Penumpang Selamat Kapal Virgo 8

Pos terkait