Kidult Economy: Saat Nostalgia Masa Kecil Menjadi Pilihan Belanja Orang Dewasa

Kidult Economy: Saat Nostalgia Masa Kecil Menjadi Pilihan Belanja Orang Dewasa

Jakarta | Kidult economy menggambarkan tren konsumsi ketika orang dewasa membeli produk atau memilih kegiatan yang selama ini lekat dengan dunia anak-anak. Istilah ini menggabungkan gagasan tentang konsumen dewasa dengan pengalaman bermain dan nostalgia. Bentuknya beragam, mulai dari mengoleksi mainan, komik, dan action figure hingga mengunjungi wahana permainan. Produk-produk tersebut tidak lagi hanya ditujukan kepada anak, karena sebagian orang dewasa juga tertarik pada desain, karakter, cerita, maupun pengalaman yang ditawarkannya. Perkembangan ini menunjukkan bahwa batas pasar anak-anak dan pasar dewasa dapat menjadi lebih lentur, terutama ketika merek menghadirkan kembali tokoh atau produk yang dikenal lintas generasi.

Bagi sebagian konsumen, membeli atau mengoleksi benda tertentu memberikan kesempatan untuk terhubung kembali dengan kenangan masa kecil. Action figure, misalnya, dapat mengingatkan seseorang pada karakter yang dahulu disukai, sementara komik menghadirkan cerita dan dunia fiksi yang pernah menjadi bagian dari keseharian. Mengunjungi wahana permainan pun dapat menawarkan suasana yang terasa akrab sekaligus menyenangkan. Pengalaman tersebut tidak selalu semata-mata berkaitan dengan kepemilikan barang; unsur hiburan, hubungan sosial, dan kesenangan pribadi juga dapat berperan. Karena itu, makna konsumsi dalam tren ini bisa berbeda bagi setiap orang, bergantung pada alasan dan pengalaman masing-masing.

Bacaan Lainnya

Meski demikian, kidult economy tidak berarti bahwa setiap orang dewasa yang memiliki hobi tersebut otomatis berperilaku konsumtif. Mengoleksi mainan atau komik dapat menjadi minat yang dilakukan secara terencana, sama seperti kegiatan rekreasi lainnya. Gambaran tren ini lebih tepat dipahami sebagai meningkatnya perhatian pasar terhadap konsumen dewasa yang tertarik pada produk dan aktivitas bernuansa masa kecil. Pilihan belanja mereka dapat dipengaruhi oleh nostalgia, kualitas produk, nilai koleksi, atau keinginan menikmati pengalaman tertentu. Pembedaan ini penting agar hobi tidak serta-merta dinilai sebagai pengeluaran berlebihan. Pada saat yang sama, penyedia produk dan hiburan melihat peluang untuk menawarkan pilihan yang sesuai dengan minat orang dewasa, tanpa menghilangkan daya tarik yang sejak awal melekat pada dunia bermain.

Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof. Dr. Gancar C. Premananto, tren kidult berkaitan dengan perubahan cara produsen internasional melihat pasar. Konsumen dewasa yang membeli produk bernuansa masa kecil bukan sekadar kelompok yang memiliki ketertarikan pada nostalgia. Mereka juga merupakan segmen dengan daya beli lebih tinggi dibandingkan konsumen anak-anak. Kondisi tersebut membuat orang dewasa dipandang sebagai calon pembeli yang penting bagi perusahaan mainan. Dengan demikian, meningkatnya minat orang dewasa pada mainan dan produk terkait dapat membuka peluang pasar yang sebelumnya lebih banyak diasosiasikan dengan anak-anak.

Perubahan demografi turut memberi konteks bagi pergeseran perhatian produsen. Di sejumlah negara maju, jumlah anak mengalami penurunan. Karena anak-anak selama ini menjadi kelompok konsumen utama bagi produsen mainan, berkurangnya jumlah mereka berarti basis pasar tradisional perusahaan ikut menyusut. Situasi ini mendorong perusahaan untuk mencari kelompok konsumen baru agar tetap dapat menjangkau pasar yang relevan. Orang dewasa yang membeli produk untuk diri sendiri menjadi salah satu kelompok yang dapat dipertimbangkan, terutama karena mereka memiliki kemampuan belanja yang lebih besar.

Dalam kerangka tersebut, strategi produsen internasional membidik konsumen dewasa dapat dipahami sebagai respons terhadap peluang sekaligus perubahan komposisi pasar. Perusahaan tidak hanya bergantung pada pembeli anak-anak, tetapi juga berupaya melayani orang dewasa yang bersedia mengeluarkan uang untuk produk yang mengingatkan mereka pada masa kecil. Penjelasan Gancar menunjukkan bahwa kemunculan kidult tidak terlepas dari kepentingan bisnis: ketika kelompok konsumen utama menyusut, perusahaan mencari segmen lain yang memiliki potensi daya beli. Tren ini memperlihatkan bagaimana nostalgia dapat bertemu dengan pertimbangan pasar, tanpa mengubah kenyataan bahwa anak-anak tetap merupakan bagian penting dari konsumen mainan.

Gancar mengaitkan kidult economy dengan lipstick effect, yakni kecenderungan konsumen tetap membeli barang kecil yang terasa mewah atau premium ketika tekanan ekonomi meningkat. Dalam situasi penuh ketidakpastian, pembelian semacam ini dapat menjadi cara sederhana untuk memperoleh rasa senang tanpa mengambil keputusan belanja besar. Mainan, barang koleksi, maupun pengalaman bermain menawarkan kepuasan yang langsung terasa dan dapat menjadi jeda emosional dari kekhawatiran sehari-hari. Nilai belanjanya bukan semata-mata terletak pada fungsi barang, tetapi juga pada nostalgia, kenyamanan, dan pengalaman pribadi yang menyertainya.

Rutinitas harian yang padat serta tekanan pekerjaan dan kehidupan sosial turut mendorong sebagian orang mencari hiburan yang mudah dijangkau. Hobi dapat memberi ruang untuk beristirahat sejenak, menekuni minat, atau kembali terhubung dengan kenangan masa kecil. Karena itu, belanja terkait hobi kerap dipahami sebagai bentuk self-reward: hadiah bagi diri sendiri setelah menjalani tuntutan harian. Pilihan tersebut tidak selalu berupa barang mahal; pembelian kecil yang sesuai minat pun dapat menghadirkan perasaan puas. Namun, kecenderungan ini tetap berlangsung di tengah pertimbangan anggaran, sehingga konsumen dapat memilih produk yang memberi manfaat emosional dengan pengeluaran yang dirasa terukur.

Survei yang dirujuk Gancar menunjukkan bahwa mayoritas responden di Indonesia rutin mengeluarkan sekitar Rp500.000 hingga Rp1 juta per bulan untuk hobi dan nostalgia. Temuan ini memperlihatkan bahwa aktivitas tersebut telah menjadi bagian dari pola belanja berkala bagi banyak responden, bukan hanya pembelian sesekali. Bagi industri mainan, barang koleksi, dan hiburan, pengeluaran itu menandakan adanya peluang untuk menawarkan produk serta pengalaman yang relevan dengan minat orang dewasa. Peluang tersebut berkaitan dengan kemampuan pelaku usaha menghadirkan pilihan yang menarik, memiliki nilai emosional, dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Dalam lanskap kidult economy, nostalgia dan waktu bermain dapat menjadi alasan penting untuk berbelanja, selama keputusan itu tetap selaras dengan kemampuan masing-masing konsumen.

Gancar mengingatkan bahwa pengeluaran untuk hobi sebaiknya selalu disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing. Membeli mainan, mengoleksi barang, atau mengikuti kegiatan yang menyenangkan bukanlah hal yang keliru, selama biayanya tidak mengganggu kebutuhan pokok dan kewajiban lain. Karena itu, sebelum berbelanja, seseorang perlu menilai kondisi keuangan secara realistis: apakah pemasukan mencukupi, apakah tagihan rutin sudah terpenuhi, dan apakah masih tersedia dana untuk ditabung atau menghadapi kebutuhan mendadak. Dengan pertimbangan tersebut, hobi dapat tetap dinikmati tanpa menjadi sumber tekanan setelah transaksi dilakukan.

Peringatan penting lainnya adalah agar kesenangan sesaat tidak berujung pada masalah keuangan. Menggunakan pinjaman online untuk membeli barang hobi yang bukan kebutuhan utama dapat membuat pengeluaran hari ini berubah menjadi beban cicilan pada bulan-bulan berikutnya. Kemudahan memperoleh pinjaman tidak menghilangkan kewajiban membayar, termasuk bunga dan biaya lainnya. Jika dana yang tersedia belum cukup, pilihan yang lebih aman ialah menunda pembelian, menabung secara bertahap, atau menetapkan batas belanja khusus. Keputusan tersebut membantu menjaga kendali atas keuangan sekaligus menghindarkan seseorang dari utang yang tidak sebanding dengan manfaat barang yang dibeli.

Gancar juga menyarankan agar konsumen menghindari pola konsumsi berlebihan, misalnya membeli mainan berulang kali hanya untuk ditumpuk sebagai pajangan tanpa tujuan investasi yang jelas. Koleksi dapat memberi kepuasan pribadi, tetapi tidak setiap barang otomatis memiliki nilai jual kembali atau berpotensi meningkat harganya. Sebelum menambah koleksi, pertimbangkan ruang penyimpanan, frekuensi penggunaan, alasan membeli, dan dampaknya terhadap anggaran.

Baca juga: Misteri Dentuman di Langit Gorontalo: Video Meteor Menjadi Viral | Luis Diaz Diharapkan Menjadi Bintang di Laga Bayern Munchen Melawan Union Berlin | Menjelajahi Pilihan Transportasi dari Medan ke Pematang Siantar

Pos terkait