Kabupaten Cianjur Metty Triantika | Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Metty Triantika, mendorong pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat untuk memperkuat kerja sama dalam mengoptimalkan potensi pertanian daerah. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar sumber daya yang tersedia dapat dikelola secara terarah dan memberi manfaat bagi kebutuhan pangan warga. Pemerintah desa dapat berperan menghubungkan berbagai pihak serta mendukung perencanaan kegiatan, sementara kelompok tani memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengolah lahan. Keterlibatan masyarakat juga diperlukan supaya upaya yang dirancang sesuai kebutuhan setempat. Dengan koordinasi yang baik, potensi pertanian Cianjur diharapkan menjadi salah satu pijakan bagi kemandirian pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Metty menyampaikan bahwa membangun ketahanan pangan bukan hanya tugas pemerintah. Upaya itu, katanya, perlu diwujudkan bersama oleh pemerintah dan masyarakat melalui kerja nyata, mulai dari mengenali potensi lokal hingga mendorong pengelolaannya secara konsisten. Kerja sama antarpihak dapat membantu menyelaraskan program, memperluas partisipasi warga, serta menjaga agar inisiatif pertanian berangkat dari kondisi desa masing-masing. Kelompok tani dapat menyampaikan tantangan yang mereka hadapi, sedangkan pemerintah desa dan masyarakat dapat turut mendukung langkah yang sesuai. Pendekatan bersama ini menjadi penting untuk memperkuat kemampuan daerah memenuhi kebutuhan pangan dan mengembangkan potensi lokal tanpa mengabaikan peran setiap pihak.
Dorongan tersebut disampaikan dalam keterangannya pada Sabtu (17/10/2026), dalam kegiatan Temu Tokoh bertema “Membangun Kemandirian Pangan: Strategi Kolaboratif Mewujudkan Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Lokal di Kabupaten Cianjur”. Tema kegiatan itu menekankan pentingnya strategi kolaboratif untuk mengembangkan ketahanan dan kedaulatan pangan lokal. Melalui ruang dialog seperti Temu Tokoh, pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat dapat membahas peluang serta kebutuhan pertanian di wilayahnya. Koordinasi yang berkelanjutan diharapkan membantu gagasan bersama diterjemahkan menjadi langkah yang nyata dan terarah. Bagi Cianjur, keterlibatan berbagai unsur tersebut merupakan bagian penting dari upaya mengoptimalkan pertanian sekaligus membangun kemandirian pangan daerah.
Metty memandang kesuburan tanah di wilayah Cipanas, khususnya Sindangjaya, sebagai modal penting bagi pengembangan pertanian. Kondisi alam yang mendukung memberi peluang bagi masyarakat untuk mengelola lahan secara produktif dan memperkuat kegiatan pertanian setempat. Potensi tersebut merupakan bekal yang bernilai, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin pengelolaan berjalan optimal. Pemanfaatannya memerlukan perhatian, perencanaan, serta kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan lahan dan masyarakat yang menggarapnya.
Menurut pandangan itu, kualitas tanah perlu diiringi pengetahuan mengenai cara mengelola lahan dengan baik. Pemahaman yang memadai membantu petani mengambil keputusan secara lebih terarah, mulai dari mengenali kondisi lahan hingga menentukan langkah pengelolaan yang tepat. Pengetahuan juga dapat mendukung penggunaan sumber daya secara bijaksana, sehingga potensi alam tidak sekadar tersedia, melainkan dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, kesuburan tanah menjadi dasar yang dapat dikembangkan melalui proses belajar dan penerapan praktik yang sesuai.
Keterampilan juga menjadi unsur penting dalam mengubah potensi menjadi capaian yang lebih optimal. Kemampuan praktis memungkinkan masyarakat menerapkan pengetahuan dalam kegiatan sehari-hari serta menyesuaikan pengelolaan dengan keadaan di lapangan. Karena itu, upaya pengembangan pertanian di Cipanas dan Sindangjaya perlu memberi perhatian pada peningkatan kapasitas petani, bukan hanya pada keberadaan lahan yang subur. Keselarasan potensi alam, pengetahuan, dan keterampilan dapat membantu pengelolaan pertanian berlangsung lebih terencana. Pandangan Metty menegaskan bahwa tanah yang mendukung merupakan titik awal, sedangkan pemahaman dan kecakapan menjadi penopang agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan oleh masyarakat setempat.
Metty mendorong agar kelompok tani diperkuat sebagai wadah kerja sama bagi para petani di Cianjur. Kelompok ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk saling berbagi pengalaman, menyampaikan kebutuhan, dan menyusun langkah bersama. Melalui kerja sama yang lebih terorganisasi, petani dapat membahas persoalan yang mereka hadapi dalam kegiatan pertanian sehari-hari. Pendekatan tersebut penting karena kebutuhan petani dapat berbeda menurut kondisi lahan, jenis komoditas, maupun tahap pengelolaan usaha tani. Dengan komunikasi yang terbuka, masukan dari anggota dapat dihimpun dan dibicarakan secara lebih terarah. Penguatan kelompok tani, menurut dorongan Metty, diharapkan membuat petani memiliki wadah yang lebih bermanfaat untuk bekerja sama.
Kelompok yang aktif juga diharapkan membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Anggota dapat saling bertukar pengetahuan serta membicarakan cara memperbaiki kegiatan budidaya sesuai kebutuhan mereka. Ketika petani memiliki kesempatan belajar dan bekerja bersama, upaya meningkatkan hasil pertanian dapat dilakukan dengan lebih terkoordinasi. Pembahasan dalam kelompok dapat mencakup berbagai kebutuhan yang dirasakan petani, sehingga persoalan tidak berhenti sebagai pengalaman masing-masing individu. Wadah bersama ini juga memberi ruang untuk mengidentifikasi hal yang perlu diperhatikan dalam proses produksi. Dengan demikian, penguatan kelompok tani berkaitan langsung dengan upaya mengoptimalkan potensi pertanian setempat, sekaligus mendorong hasil panen yang lebih baik dari sisi mutu dan jumlah.
Peningkatan keterampilan menjadi bagian penting dari dukungan terhadap kelompok tani. Petani membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan agar potensi pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal. Dukungan kepada kelompok dapat membantu menghadirkan ruang belajar, bertukar pandangan, dan membahas kebutuhan bersama secara berkelanjutan. Upaya tersebut tidak hanya diarahkan pada kegiatan produksi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Ketika kelompok mampu berfungsi sebagai wadah kerja sama, kebutuhan petani lebih mudah disampaikan dan dibicarakan. Karena itu, penguatan kapasitas anggota dan keberadaan kelompok tani dipandang sebagai bagian dari upaya yang saling berkaitan: memperbaiki hasil pertanian, merespons kebutuhan petani, serta mendukung kesejahteraan masyarakat Cianjur.
Metty menekankan bahwa pengembangan potensi pangan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah ataupun masyarakat. Kedua pihak memiliki keterbatasan dan sumber daya yang berbeda. Pemerintah mempunyai kewenangan, program, serta dukungan kebijakan, tetapi belum tentu mengetahui seluruh persoalan yang dihadapi warga dalam kegiatan sehari-hari. Sebaliknya, masyarakat memahami kondisi lahan, kebiasaan setempat, dan peluang komoditas, namun dapat menghadapi kendala dalam akses pendampingan, sarana, maupun koordinasi. Karena itu, keduanya perlu saling melengkapi agar upaya memperkuat pangan berjalan sesuai kebutuhan dan dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Dalam pandangan Metty, pemerintah desa memiliki posisi penting dalam membangun hubungan tersebut. Aparat desa berada paling dekat dengan warga, sehingga dapat mengenali kebutuhan, potensi, serta tantangan yang dihadapi kelompok tani dan masyarakat lainnya. Kedekatan ini memungkinkan pemerintah desa menyampaikan informasi secara lebih tepat, menghimpun masukan dari warga, dan membantu menghubungkan mereka dengan dukungan dari tingkat kecamatan maupun kabupaten. Peran tersebut juga penting agar program pangan tidak hanya disusun dari atas, tetapi bertolak dari kondisi nyata di lingkungan desa.
Pembangunan yang bertumpu pada potensi lokal, termasuk di Desa Sindangjaya, menurut Metty patut melibatkan para pemangku kepentingan desa. Pemerintah desa, kelompok tani, tokoh masyarakat, dan unsur terkait lainnya dapat bersama-sama mengenali sumber daya yang tersedia, menentukan kebutuhan prioritas, serta menyusun langkah pengembangan yang realistis. Dengan keterlibatan berbagai pihak, gagasan warga dapat dipertimbangkan sejak awal dan dukungan pemerintah dapat diarahkan pada kebutuhan yang lebih jelas. Koordinasi juga membantu mengurangi tumpang tindih kegiatan, memperkuat komunikasi, serta membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut menjaga hasil program.
Pentingnya kerja bersama itu turut menjadi pokok pembahasan dalam kegiatan Temu Tokoh. Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Dinas Pangan Kabupaten Cianjur, Firman Edi, sebagai salah satu narasumber.
Baca juga: Penguatan Kawasan Industri di Jawa Timur | Kolaborasi Unik Poké Wayang dan Budaya Indonesia









