Jakarta | Kategori half marathon 21K men open di Jakarta Running Festival (JRF) 2026 menempatkan empat pelari asal Kenya pada posisi teratas. Vincent Kipkemoi Ngetich finis di urutan pertama, disusul Gideon Kiprotich Rop di posisi kedua dan Bernard Wambua di posisi ketiga. James Kahura melengkapi empat besar dengan menempati peringkat keempat. Urutan tersebut menunjukkan kuatnya kehadiran pelari Kenya dalam hasil kategori ini, sekaligus memberi konteks bagi perhatian terhadap Kahura. Meski tidak naik ke podium, posisinya di para pelari terdepan membuat kisahnya relevan dalam pembahasan mengenai kebiasaan yang ia bagikan menjelang perlombaan. Sorotan di sini bukan pada jalannya lomba, melainkan pada pengalaman Kahura sebagai pelari.
Menjelang JRF 2026, Kahura berbagi mengenai kebiasaan makan dan latihan yang menjadi bagian dari persiapannya. Informasi tentang rutinitas tersebut memberi gambaran tentang aspek keseharian yang ia perhatikan ketika bersiap menghadapi perlombaan, tanpa perlu menambahkan rincian yang tidak ia sampaikan. Kebiasaan makan dan latihan merupakan dua topik yang sering menarik minat pembaca karena keduanya berkaitan dengan rutinitas seorang pelari. Namun, uraian tentang Kahura sebaiknya tetap bertumpu pada hal-hal yang benar-benar ia bagikan. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan menu tertentu, jadwal latihan khusus, atau perubahan yang ia lakukan hanya dari hasil finisnya di posisi keempat.
Dengan demikian, hasil 21K men open dan cerita Kahura dapat ditempatkan berdampingan secara proporsional: klasemen menyebutkan posisi para pelari, sementara kebiasaan yang dibagikan Kahura membuka ruang untuk mengenal sisi persiapannya. Pembahasan mengenai menu dan rutinitas latihan akan lebih berguna bila disampaikan sesuai keterangan yang tersedia, bukan sebagai resep universal bagi pelari lain. Setiap atlet memiliki pengalaman dan kebutuhan yang berbeda, sehingga kebiasaan Kahura tidak otomatis menjadi pola yang harus ditiru. Pembaca dapat melihatnya sebagai gambaran tentang pendekatan pribadi seorang pelari Kenya yang bersaing di JRF 2026, dengan tetap membedakan fakta hasil lomba dari informasi mengenai persiapan yang ia ceritakan.
Dalam menyiapkan diri untuk perlombaan, pilihan makanan James Kahura selama sepekan sebelumnya berpusat pada beberapa bahan yang akrab dalam kesehariannya: ubi jalar, ugali, dan nasi. Ia menyampaikan menu tersebut saat berada di JRF 2026 pada Sabtu, 24 Oktober 2026. “Sweet potato, makanan tradisional, ugali, dan nasi,” ujarnya, merangkum makanan yang biasa ia konsumsi menjelang perlombaan. Daftar itu menunjukkan bahwa persiapannya mencakup sumber pangan yang sederhana dan dikenal luas, bukan semata-mata hidangan khusus. Meski demikian, informasi yang tersedia tidak merinci porsi, jadwal makan, cara pengolahan, ataupun apakah setiap bahan dikonsumsi setiap hari. Karena itu, menu tersebut paling tepat dipahami sebagai gambaran kebiasaan makannya selama pekan sebelum berlomba.
Ugali memiliki tempat penting dalam pola makan di sejumlah negara Afrika Timur, termasuk Kenya. Hidangan ini dibuat dengan mencampurkan tepung jagung dan air, lalu memasaknya hingga menjadi adonan yang padat. Bahan dan proses pembuatannya relatif sederhana, tetapi ugali dapat menjadi bagian utama dari sajian sehari-hari. Kandungan utamanya adalah karbohidrat, zat gizi yang berperan sebagai sumber energi bagi tubuh. Dalam konteks latihan dan persiapan kompetisi, energi dibutuhkan untuk menunjang aktivitas fisik, mulai dari sesi latihan hingga kebutuhan bergerak sepanjang hari. Peran tersebut menjelaskan mengapa makanan berbasis jagung seperti ugali lazim hadir dalam menu masyarakat di kawasan itu. Namun, keterangan Kahura hanya menyebut pilihan makanannya; tidak ada rincian bahwa ia mengikuti perhitungan gizi tertentu atau menjalankan pola makan khusus.
Ubi jalar dan nasi melengkapi daftar makanan yang disebut Kahura. Keduanya juga dikenal sebagai sumber karbohidrat, sehingga dapat menyumbang energi untuk aktivitas fisik. Memasukkan ketiga pilihan tersebut dalam gambaran menu sepekan memberi konteks tentang makanan yang ia andalkan menjelang JRF 2026, sekaligus menunjukkan kedekatan persiapannya dengan bahan pangan yang umum dikonsumsi. Pilihan ini tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh rutinitas nutrisi seorang atlet, sebab kebutuhan makan dapat bergantung pada intensitas latihan, porsi, waktu konsumsi, dan kebutuhan individu. Yang dapat dipastikan dari keterangannya adalah ubi jalar, ugali, dan nasi termasuk makanan yang biasa ia konsumsi pada pekan sebelum perlombaan. Dengan demikian, menu tersebut menonjolkan karbohidrat sebagai bagian dari asupan untuk mendukung energi, tanpa mengklaim rincian program makan yang tidak disampaikan.
Menjelang hari perlombaan, James Kahura menyebut bahwa ia hanya makan nasi. Pilihan ini mengandalkan bahan pangan yang akrab dan mudah ditemukan, sekaligus menyediakan karbohidrat sebagai salah satu sumber energi tubuh. Nasi dapat menjadi bagian dari persiapan makan sebelum lomba, tetapi satu pilihan menu tidak otomatis sesuai bagi semua pelari. Kebutuhan energi, kebiasaan makan, dan toleransi pencernaan setiap orang berbeda. Karena itu, strategi makan sebaiknya mempertimbangkan jenis lomba, durasi berlari, serta pengalaman pribadi, bukan sekadar meniru menu atlet lain.
Dalam olahraga ketahanan, sebagian pelari menerapkan carbo loading, yaitu strategi meningkatkan asupan karbohidrat menjelang perlombaan untuk menambah simpanan glikogen di otot dan hati. Glikogen tersebut berfungsi sebagai cadangan energi yang dapat digunakan selama aktivitas panjang. Penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan individu; jumlah makanan dan waktu konsumsinya tidak harus sama bagi setiap pelari. Porsi yang terlalu besar atau waktu makan yang kurang tepat dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Makanan yang direncanakan untuk sebelum lomba sebaiknya telah dicoba saat latihan, sehingga pelari dapat menilai kecocokannya dan mengurangi kemungkinan kejutan pada hari perlombaan.
Selama race, Kahura mengatakan ia hanya minum air dan tidak mengonsumsi energy gel maupun sumber karbohidrat lain. Energy gel umumnya dirancang sebagai cara praktis untuk memperoleh karbohidrat ketika berolahraga dalam durasi panjang, saat membawa atau mengonsumsi makanan biasa mungkin kurang mudah. Namun, penggunaannya bukan keharusan dan belum tentu cocok bagi setiap pelari. Saat ditanya mengenai alasan menghindari gel, Kahura menyinggung adanya masalah pada perutnya. Keterangan tersebut tidak menjelaskan diagnosis ataupun rincian lebih lanjut, sehingga tidak tepat menarik kesimpulan medis. Pelari yang mempertimbangkan gel dapat menguji produk dan waktu konsumsinya dalam latihan, serta memperhatikan respons tubuh. Pendekatan fueling yang nyaman dan terencana dapat berbeda-beda, dengan air dan asupan energi disesuaikan pada kebutuhan masing-masing.Bagi James Kahura, konsistensi menjadi bagian penting dari persiapannya menghadapi JRF 2026. Ia menggambarkan pendekatannya dengan sederhana: “rahasia latihan saya adalah berlatih setiap hari, tidak melewatkan latihan.” Pernyataan ini menekankan kebiasaan menjaga kesinambungan latihan, bukan sekadar mengandalkan satu sesi berat atau mencari jalan pintas menjelang perlombaan. Dengan hadir secara rutin, seorang pelari dapat membangun pola persiapan yang teratur dan mengenali bagaimana tubuh merespons beban latihan dari waktu ke waktu.
Makna konsistensi tersebut tidak harus ditafsirkan sebagai keharusan bagi semua pelari untuk menjalani jadwal yang sama persis. Kebutuhan istirahat, tingkat kebugaran, pengalaman berlari, dan kondisi kesehatan dapat berbeda. Karena itu, berlatih setiap hari dalam kisah Kahura merupakan pengakuan tentang rutinitas pribadinya, bukan aturan umum yang otomatis cocok untuk setiap orang. Pelari tetap perlu memperhatikan tanda kelelahan dan menyesuaikan intensitas maupun pemulihan agar persiapan berlangsung secara terukur. Jika ada nyeri atau keluhan yang menetap, mencari saran tenaga profesional dapat membantu menentukan langkah yang aman.
Cerita persiapan Kahura juga mencakup pilihan makanan serta asupan yang ia gunakan selama lomba.










