Jakarta | Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia mengerahkan tim Baznas Tanggap Bencana untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan. Pengerahan ini menjadi bagian dari respons lembaga terhadap kondisi darurat yang berdampak pada masyarakat dan lingkungan. Tim menjalankan upaya penanganan sesuai kebutuhan di lapangan, dengan mencakup pemadaman api serta penyaluran bantuan kemanusiaan. Dengan dua bentuk dukungan tersebut, Baznas berupaya membantu penanganan langsung kebakaran sekaligus memperhatikan kebutuhan orang-orang yang terdampak dan terlibat dalam respons darurat.
Upaya pemadaman ditujukan untuk mendukung penanganan titik kebakaran yang memerlukan respons, sementara bantuan kemanusiaan disalurkan bagi masyarakat terdampak, petugas, dan relawan. Ketiga kelompok tersebut menghadapi dampak dan kebutuhan yang berbeda dalam situasi karhutla, sehingga dukungan diarahkan kepada mereka tanpa mengabaikan peran masing-masing. Keterlibatan petugas dan relawan dalam penanganan juga menjadi perhatian, bersamaan dengan kebutuhan warga yang mengalami dampak kebakaran. Dalam kegiatan tanggap bencana, pemadaman dan bantuan kemanusiaan merupakan bagian dari satu respons yang saling melengkapi. Informasi mengenai pengerahan tim ini tidak merinci wilayah tertentu di Kalimantan ataupun jenis bantuan dan teknis pelaksanaan, sehingga uraian dukungan tetap mengacu pada lingkup yang telah disampaikan.
Idy Muzayyad, pimpinan Baznas RI bidang pendistribusian, pendayagunaan, dan pemberdayaan, menyampaikan bahwa Baznas menurunkan tim untuk membantu penanganan karhutla. Dalam kapasitas tersebut, ia menjelaskan fokus upaya lembaga, yakni mendukung pemadaman dan menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat, petugas, serta relawan yang terdampak. Pernyataan itu menegaskan bahwa respons Baznas tidak hanya diarahkan pada penanganan api, tetapi juga pada dukungan bagi pihak-pihak yang menghadapi dampak maupun menjalankan tugas di tengah keadaan darurat. Melalui pengerahan Baznas Tanggap Bencana, lembaga tersebut mengambil peran dalam membantu respons terhadap kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah, terutama Kalimantan, dengan cakupan bantuan yang disampaikan secara umum. Dukungan ini mencerminkan fungsi tanggap bencana Baznas dalam merespons kebutuhan kemanusiaan bersama penanganan kejadian, tanpa mengesampingkan masyarakat, petugas, maupun relawan yang terdampak.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan 15 pesawat untuk mendukung operasi modifikasi cuaca dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Pengerahan tersebut mencakup wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Informasi mengenai operasi ini disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat berada di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin. Keterangan itu menegaskan bahwa operasi sedang berlangsung dan melibatkan armada pesawat dalam jumlah yang disebutkan. Dalam konteks penanganan karhutla, langkah BMKG tersebut menjadi bagian dari upaya yang tengah dijalankan di tiga provinsi itu. Namun, informasi yang disampaikan tidak merinci jadwal penerbangan, jumlah pesawat per wilayah, maupun rincian lain mengenai pelaksanaan operasi. Karena itu, cakupan keterangan tetap pada pengerahan 15 pesawat, lokasi operasi, serta penilaian Kepala BMKG tentang skala pelaksanaannya.
Teuku Faisal menyebut operasi modifikasi cuaca sedang dilakukan secara masif. Ia juga menggambarkannya sebagai salah satu operasi terbesar yang pernah dijalankan di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin, sehingga keterangan mengenai skala operasi berasal langsung dari Kepala BMKG. Sebutan “salah satu operasi terbesar” menggambarkan penilaian atas pelaksanaan yang sedang berlangsung, tanpa menyebut peringkat, ukuran pembanding, atau periode tertentu. Demikian pula, kata “masif” merujuk pada gambaran umum operasi menurut Faisal, bukan rincian teknis yang dijelaskan lebih lanjut dalam keterangan tersebut. Dengan demikian, informasi utama yang tersedia berpusat pada besarnya pengerahan armada dan cakupan tiga provinsi yang disebutkan.
Pengerahan 15 pesawat dan pelaksanaan operasi secara masif menjadi pokok informasi BMKG terkait penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Keterangan itu tidak memuat penjelasan teknis mengenai cara operasi dilakukan, hasil yang telah dicapai, ataupun dampak yang mungkin timbul. Oleh sebab itu, rincian tersebut tidak dapat ditarik dari pernyataan yang tersedia. Hal yang dapat dipastikan dari keterangan Kepala BMKG ialah operasi modifikasi cuaca sedang berlangsung, melibatkan 15 pesawat, dan mencakup tiga provinsi tersebut. Faisal menyampaikan pula bahwa operasi itu termasuk salah satu yang terbesar yang pernah dijalankan di Indonesia. Penyampaian di Istana Kepresidenan pada Senin menjadi konteks pernyataan, sementara uraian mengenai lokasi, jumlah pesawat, serta skala operasi tetap menjadi inti informasinya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto memandang penguasaan sains dan teknologi sebagai modal penting bagi Indonesia untuk mendorong lompatan ekonomi. Kapasitas tersebut, menurut pandangan ini, perlu berjalan bersama pengembangan ekonomi kreatif agar pertumbuhan tidak hanya bertumpu pada kegiatan ekonomi konvensional. Arah tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi. Karena itu, penguatan ilmu pengetahuan, kemampuan teknologi, dan kreativitas perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menciptakan nilai tambah serta merespons perubahan ekonomi.
Ekonomi kreatif dalam kerangka tersebut bukan sekadar sektor pelengkap yang hadir setelah agenda pembangunan utama ditetapkan. Ia merupakan bagian penting dari pembangunan ekonomi yang perlu dikembangkan secara nyata. Penekanan ini mengisyaratkan perlunya melihat kreativitas sebagai kemampuan produktif, bukan hanya sebagai unsur pendukung atau kegiatan sampingan. Ketika gagasan, pengetahuan, dan teknologi dapat bertemu, peluang untuk menghasilkan produk, layanan, maupun pendekatan baru menjadi lebih terbuka. Pengembangan ekonomi kreatif karenanya berkaitan erat dengan kemampuan masyarakat dan institusi pendidikan untuk memperkuat keterampilan serta mendorong penerapan pengetahuan.
Pandangan tersebut juga berhubungan dengan agenda penguatan pembelajaran di kampus. Perguruan tinggi memiliki peran dalam membekali mahasiswa dengan pemahaman sains dan teknologi sekaligus ruang untuk mengembangkan kreativitas, sehingga pembelajaran relevan dengan kebutuhan pembangunan. Hubungan ini tidak berarti bahwa satu kebijakan atau program tertentu telah ditetapkan, melainkan menegaskan pentingnya mengarahkan proses belajar pada penguasaan pengetahuan dan kemampuan mengolahnya menjadi nilai ekonomi. Dengan demikian, kampus dapat menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung lahirnya gagasan dan kompetensi bagi sektor kreatif. Penguatan pembelajaran menjadi salah satu landasan untuk menghubungkan visi ekonomi berpendapatan tinggi dengan kapasitas manusia dan inovasi yang diperlukan untuk mencapainya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa transfer tunjangan profesi bagi guru non-ASN telah mencapai 100 persen pada Senin pukul 10.30 WIB. Capaian tersebut berlaku untuk penyaluran periode Juli, Agustus, dan September. Besaran tunjangan yang diterima adalah Rp2 juta per guru per bulan. Dengan demikian, keterangan tersebut mencakup penyelesaian transfer untuk tiga bulan yang disebutkan, dengan nominal bulanan yang sama bagi setiap guru penerima.
Informasi mengenai penyaluran tunjangan ini menjadi salah satu agenda pendidikan yang mendapat perhatian. Pernyataan Abdul Mu’ti memberikan gambaran mengenai status transfer pada waktu yang ia sampaikan, yakni Senin pukul 10.30 WIB. Periode Juli hingga September disebut secara khusus, demikian pula nilai tunjangan per bulan. Rincian tersebut membedakan jangka waktu penyaluran dan besaran yang diterima, tanpa mengubah nominal Rp2 juta untuk setiap bulan.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan salah satu penyebab dana operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak cair ke virtual account. Menurut juru bicara BGN, Tysa Novenny, hal itu dapat terjadi ketika pelaporan penggunaan dana harian tidak dilakukan melalui Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional. Keterangan tersebut menunjuk pada pelaporan harian sebagai hal yang berkaitan dengan pencairan dana operasional ke akun virtual.
Baca juga: Sejumlah mobil mewah juga ditemukan di area klaster Lapas Cibinong | Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2026: Inovasi untuk Kesejahteraan | Tantangan Terhadap Produksi Udang Nasional Akibat Impor










