Jakarta | Kandula Nagaraju, mantan karyawan NCS di Singapura, menghapus 180 server virtual milik perusahaan setelah kontraknya dihentikan. Tindakan itu merusak sistem pengujian yang digunakan NCS dan menimbulkan kerugian sebesar S7.832. Nilai tersebut setara sekitar S8.000 atau Rp12,9 miliar menurut bahan sumber. Nagaraju dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan atas perbuatannya. Kasus ini menyoroti dampak serius yang dapat timbul ketika akses sistem perusahaan tetap dapat digunakan setelah hubungan kerja berakhir.
Server virtual yang dihapus bukan sekadar perangkat terpisah, melainkan bagian dari lingkungan teknologi yang mendukung kegiatan pengujian. Ketika sejumlah besar server tersebut tidak lagi tersedia, perusahaan menghadapi gangguan pada sistem yang dipakai untuk pekerjaan internal. Kerusakan itu juga menuntut upaya pemulihan, pemeriksaan, dan penggantian sumber daya yang terdampak. Karena sistem yang terganggu berkaitan dengan pengujian, dampaknya dapat menjalar ke jadwal kerja serta kemampuan tim untuk menjalankan proses teknis secara normal. Angka kerugian yang tercatat menunjukkan besarnya biaya yang dapat timbul akibat satu tindakan terhadap infrastruktur digital.
Penghapusan 180 server setelah kontrak Nagaraju dihentikan memperlihatkan pentingnya pengelolaan akses bagi mantan karyawan. Organisasi perlu memastikan bahwa hak masuk ke sistem dan layanan penting segera ditinjau ketika status pekerjaan berubah. Pengendalian tersebut dapat mencakup pencabutan kredensial, pemantauan aktivitas, serta pembatasan kewenangan sesuai kebutuhan kerja. Langkah-langkah ini membantu mengurangi peluang terjadinya perubahan yang tidak sah pada aset digital. Namun, perkara ini juga menunjukkan bahwa perlindungan tidak hanya bergantung pada kebijakan tertulis; penerapannya harus konsisten dan dapat diperiksa. Bagi perusahaan yang mengoperasikan banyak server virtual, pengawasan terhadap akun dan perubahan konfigurasi merupakan bagian penting dari pengamanan operasional.
Nagaraju, warga negara India berusia 39 tahun, pernah bekerja sebagai bagian dari tim yang mengelola sistem komputer quality assurance (QA) milik NCS. Ia bergabung dalam tim beranggotakan 20 orang yang menangani sistem tersebut sekitar November 2021 hingga Oktober 2022. NCS menyediakan layanan informasi, komunikasi, dan teknologi. Peran tim itu berkaitan dengan pengelolaan sarana pengujian perangkat lunak dan program sebelum produk diluncurkan.
Sistem QA tersebut digunakan untuk memastikan perangkat lunak dan program dapat diuji sebelum dirilis. NCS menyebutnya sebagai sistem pengujian mandiri. Sistem itu terdiri atas sekitar 180 server virtual dan, menurut perusahaan, tidak memuat informasi sensitif. Keterangan mengenai fungsi dan isi sistem ini menjadi bagian dari latar belakang perkara yang melibatkan Nagaraju, tetapi persoalan mengenai penghapusan server muncul setelah masa kerjanya berakhir.
Kontrak Nagaraju dihentikan pada Oktober 2022. Alasan yang diberikan adalah kinerja buruk. Hari terakhirnya bekerja di NCS tercatat pada 16 November 2022. Dalam persidangan, Nagaraju menyampaikan bahwa ia merasa kecewa atas pemutusan kontraknya. Ia juga mengatakan bahwa menurut penilaiannya, kontribusinya selama bekerja tergolong baik. Pernyataan tersebut mencerminkan pandangannya sendiri mengenai pekerjaan dan penilaian perusahaan, tanpa mengubah fakta bahwa kontraknya dihentikan atas dasar kinerja.
Berakhirnya pekerjaan itu kemudian berdampak pada keadaan Nagaraju setelah ia meninggalkan NCS. Ia tidak memperoleh pekerjaan lain di Singapura, lalu harus kembali ke India. Rangkaian peristiwa tersebut menjelaskan situasi ketenagakerjaannya pada periode sebelum insiden yang menjadi perkara hukum. Dengan demikian, informasi tentang masa kerjanya, ukuran tim, fungsi sistem QA, alasan kontrak dihentikan, serta kepulangannya ke India memberi konteks dasar mengenai hubungan Nagaraju dengan NCS. Keterangan ini tidak dengan sendirinya menjelaskan tindakan yang kemudian dipersoalkan; hal tersebut perlu dibedakan dari riwayat pekerjaannya dan penilaiannya atas kinerja sendiri.
Setelah kontraknya berakhir, Nagaraju meninggalkan Singapura dan kembali ke India. Namun, kepulangannya tidak menghentikan aksesnya ke sistem NCS. Dengan menggunakan laptop dan kredensial administrator, ia masuk tanpa izin ke sistem perusahaan sebanyak enam kali 6 dan 17 Januari 2023. Rentang waktu tersebut menandai awal rangkaian akses yang berlanjut selama beberapa bulan. Kredensial yang dimiliki memberinya jalan untuk menjangkau sistem NCS meskipun ia tidak lagi bekerja berdasarkan kontrak. Setiap akses yang dilakukan setelah hubungan kerjanya berakhir berlangsung tanpa izin, dan aktivitas tersebut kemudian berkembang dari upaya masuk menjadi pengujian skrip yang dapat menghapus server virtual.
Pada Februari, Nagaraju kembali ke Singapura setelah mencari pekerjaan baru. Ia menyewa kamar bersama seorang mantan rekan kerja. Pada 23 Februari, ia menggunakan jaringan Wi-Fi milik rekannya untuk mengakses sistem NCS sekali lagi. Akses ini terjadi setelah enam kali masuk pada Januari, sehingga kegiatan tersebut tidak terbatas pada satu periode singkat. Dalam rentang sekitar dua bulan itu, Nagaraju juga menulis sejumlah skrip untuk menguji apakah server dapat dihapus. Pengembangan skrip tersebut menjadi bagian penting dari kronologi, karena menunjukkan persiapan yang berlangsung sebelum penghapusan server dilakukan. Fakta yang tersedia mencatat adanya pengujian kemungkinan penghapusan, tanpa menyebutkan rincian teknis mengenai isi atau cara kerja masing-masing skrip.
Pada Maret, akses Nagaraju ke sistem QA tercatat sebanyak 13 kali. Aktivitas itu mendahului tindakan yang berdampak langsung pada lingkungan server NCS. Pada 18 dan 19 Maret, ia menjalankan skrip yang telah disiapkannya untuk menghapus server virtual. Penghapusan dilakukan satu per satu, dengan total 180 server virtual terdampak. Dengan demikian, urutannya mencakup akses tanpa izin pada Januari, satu akses tambahan pada Februari, penyusunan skrip selama rentang dua bulan, lalu akses berulang ke sistem QA pada Maret. Skrip tersebut akhirnya digunakan selama dua hari berturut-turut untuk menghapus server, bukan sekadar menguji apakah tindakan itu mungkin dilakukan. Kronologi ini menggambarkan perubahan dari akses menggunakan kredensial administrator menjadi penghapusan infrastruktur virtual.
Sehari setelah skrip dijalankan, tim NCS mendapati sistem tidak dapat diakses. Kondisi tersebut menjadi tanda awal adanya gangguan, tetapi upaya pemecahan masalah yang dilakukan tim tidak berhasil memulihkan akses. Dalam pemeriksaan, tim kemudian menemukan bahwa 180 server virtual telah dihapus. Temuan itu menjelaskan mengapa sistem tidak dapat digunakan sekaligus memperlihatkan dampak langsung dari skrip yang dijalankan sehari sebelumnya. Urutan kejadian tersebut mendorong NCS menelusuri apa yang terjadi dan melaporkan penghapusan server kepada pihak berwenang. Upaya awal untuk mengatasi masalah tidak membuahkan hasil, sementara temuan penghapusan memperjelas skala insiden yang dihadapi perusahaan.
NCS membuat laporan polisi pada 11 April 2023. Dalam laporan tersebut, perusahaan menyerahkan alamat IP yang diperoleh melalui penyelidikan internal. Informasi itu menjadi bagian dari bahan yang diberikan kepada polisi untuk mendukung penyelidikan atas penghapusan server. Polisi kemudian menyita laptop milik Nagaraju. Dari perangkat tersebut, petugas menemukan skrip yang digunakan untuk menghapus server virtual. Penemuan skrip pada laptop menghubungkan perangkat itu dengan tindakan penghapusan yang ditemukan tim NCS. Rangkaian langkah ini membawa insiden dari pemeriksaan internal menuju proses penyelidikan oleh pihak kepolisian. Laporan dan alamat IP yang diserahkan NCS menjadi bagian dari tindak lanjut atas peristiwa tersebut, bersama bukti yang diperoleh dari laptop Nagaraju.
Penyelidikan juga menemukan bahwa Nagaraju mencari melalui Google skrip untuk menghapus server virtual. Ia kemudian menggunakan skrip yang ditemukan sebagai dasar untuk membuat skripnya sendiri. Temuan tersebut menjelaskan bagaimana pencarian daring mendahului pembuatan skrip yang dipakai dalam penghapusan. Skrip yang ditemukan pada laptop menjadi bukti yang diperiksa dalam penyelidikan, sementara informasi mengenai pencarian dan pembuatannya turut menggambarkan proses yang mendahului penghapusan server.
Baca juga: Tindak Kecurangan Pemuda di Serang Berujung Penangkapan










