Kebahagiaan ala Finlandia: Hidup Sederhana, Dekat dengan Alam, dan Saling Percaya

Kebahagiaan ala Finlandia: Hidup Sederhana, Dekat dengan Alam, dan Saling Percaya

Jakarta | Kebahagiaan merupakan harapan banyak orang, tetapi maknanya tidak selalu sama bagi setiap individu. Ada yang mengaitkannya dengan keberhasilan karier atau kepemilikan materi, sementara yang lain menemukannya dalam hubungan yang hangat, rasa aman, dan kehidupan sehari-hari yang terasa cukup. Warga Finlandia kerap menjadi perhatian karena dikenal memiliki kualitas hidup yang baik dan mampu menjaga kesejahteraan dalam berbagai aspek kehidupan.

Salah satu ungkapan yang mencerminkan sikap mereka adalah pepatah Finlandia, “kell’ onni on, se onnen kätkeköön”. Maknanya kurang lebih, “siapa yang berbahagia, biarlah menyimpan kebahagiaannya”. Pepatah ini bukan berarti seseorang harus menyembunyikan perasaan positif atau enggan berbagi kabar baik. Pesannya lebih dekat pada sikap rendah hati: kebahagiaan tidak perlu dipamerkan, dan hidup tidak harus terus-menerus diukur dengan membandingkan diri terhadap orang lain. Dengan mengurangi perbandingan sosial, seseorang dapat lebih memperhatikan hal-hal yang sungguh berarti baginya.

Bacaan Lainnya

Reputasi Finlandia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tinggi juga tercermin dalam World Happiness Report. Negara Nordik ini menempati posisi pertama selama enam tahun berturut-turut, dari 2018 hingga 2023. Peringkat tersebut didasarkan pada penilaian penduduk terhadap kehidupan mereka, bukan sekadar ukuran suasana hati sesaat. Faktor seperti dukungan sosial, kebebasan menentukan pilihan, kepercayaan, dan rasa aman ikut memberi gambaran tentang kesejahteraan masyarakat.

Untuk memahami kebiasaan yang dipercaya mendukung kebahagiaan warga Finlandia, pandangan Frank Martela kerap dijadikan rujukan. Ia adalah filsuf dan ahli psikologi asal Finlandia yang meneliti kesejahteraan serta makna hidup. Menurut Martela, kehidupan yang baik tidak selalu bertumpu pada pencapaian besar. Kebiasaan sederhana, seperti menghargai waktu luang, menjaga hubungan dengan orang lain, dan merasa terhubung dengan alam, dapat membentuk keseharian yang lebih memuaskan. Prinsip-prinsip ini menawarkan sudut pandang yang relevan: kebahagiaan bisa tumbuh ketika orang merasa cukup, dipercaya, dan memiliki ruang untuk menjalani hidup dengan cara yang selaras dengan nilai mereka.

Menurut filsuf dan peneliti Finlandia Frank Martela, salah satu gambaran tentang kebahagiaan di Finlandia berkaitan dengan sikap yang tidak terlalu menonjolkan kekayaan atau keberhasilan pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian orang mungkin memilih rumah yang nyaman dan fungsional, bukan sesuatu yang harus mengundang perhatian. Sikap ini sejalan dengan pepatah Finlandia, “Kell’ onni on, se onnen kätkeköön,” yang kurang lebih berarti bahwa orang yang berbahagia tidak perlu memamerkan kebahagiaannya. Pepatah tersebut bukan aturan yang diikuti semua orang, melainkan ungkapan yang mencerminkan nilai kesahajaan dan kehati-hatian dalam menampilkan diri.

Gagasan utamanya bukan bahwa ambisi atau pencapaian harus disembunyikan. Martela menekankan pentingnya mengenali hal-hal yang sungguh membuat diri sendiri merasa bahagia, alih-alih menjadikan pengakuan orang lain sebagai ukuran utama. Bagi seseorang, kebahagiaan dapat datang dari waktu bersama keluarga, pekerjaan yang bermakna, ketenangan, atau kesempatan menikmati alam. Bagi orang lain, sumber kepuasan itu mungkin berbeda. Karena itu, keberhasilan tidak harus selalu ditunjukkan melalui barang mahal, jabatan, atau gaya hidup yang mencolok agar terasa nyata dan bernilai.

Menentukan standar hidup sendiri juga membantu mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial dan lingkungan sekitar kerap menampilkan potongan kehidupan yang terlihat sempurna, padahal gambaran tersebut tidak selalu memperlihatkan keseluruhan cerita. Ketika seseorang terus memakai pencapaian orang lain sebagai patokan, ia dapat merasa tertinggal meskipun kebutuhan dan tujuannya sendiri sebenarnya telah terpenuhi. Memilih ukuran yang lebih personal berarti bertanya apa yang cukup, apa yang penting, dan kehidupan seperti apa yang ingin dijalani. Pendekatan ini tidak menuntut semua warga Finlandia bersikap seragam; masyarakatnya tetap beragam dalam selera dan pilihan. Namun, nilai kesederhanaan yang sering dibahas Martela menawarkan pengingat bahwa kebahagiaan tidak perlu dipertontonkan untuk diakui. Menjalani hidup dengan ukuran yang sesuai kebutuhan sendiri dapat memberi ruang untuk merasa puas tanpa terus mengejar standar yang dibentuk oleh perbandingan sosial.

Hubungan masyarakat Finlandia dengan alam bukan sekadar bagian dari gaya hidup, melainkan juga sumber ketenangan dan pemulihan. Dalam survei Sitra pada 2021, sebanyak 87 persen responden menyatakan bahwa alam penting dalam kehidupan mereka. Banyak yang mengaitkannya dengan pikiran yang lebih tenang, tambahan energi, serta kesempatan untuk bersantai. Nilai ini terlihat dalam kebiasaan sehari-hari: hutan, danau, pesisir, dan ruang hijau mudah dijangkau, sehingga seseorang dapat meluangkan waktu di luar rumah tanpa harus merencanakan perjalanan besar. Berada di alam dipandang sebagai cara sederhana untuk menjauh sejenak dari tuntutan rutin dan memberi perhatian pada keadaan diri.

Kesempatan beristirahat juga didukung oleh hak pekerja di Finlandia untuk memperoleh libur musim panas selama empat minggu. Waktu tersebut kerap dimanfaatkan untuk meninggalkan kota dan pergi ke pedesaan, tempat orang dapat menikmati suasana yang lebih lapang dan dekat dengan alam. Aktivitasnya tidak selalu harus berupa perjalanan yang padat agenda. Berjalan di hutan, berenang di danau, memancing, atau sekadar duduk di tepi air dapat menjadi bagian dari liburan. Bagi sebagian orang, kualitas istirahat justru meningkat ketika fasilitas modern semakin minim. Ada yang memilih pondok sederhana, bahkan pengalaman tanpa listrik atau air bersih, untuk mengurangi gangguan dan merasakan hidup yang lebih dekat dengan lingkungan sekitar.

Pilihan tersebut bukan berarti kenyamanan modern tidak dihargai, tetapi menunjukkan bahwa kebutuhan untuk pulih dapat berbeda bagi setiap orang. Mengurangi akses terhadap perangkat dan kemudahan tertentu memberi ruang untuk memperlambat ritme, memperhatikan cuaca, serta menjalani kegiatan dengan lebih sadar. Waktu di alam terbuka juga dipandang mendukung ketahanan hidup: seseorang belajar menghadapi kondisi yang berubah, menyesuaikan diri, dan mengandalkan keterampilan praktis. Pada saat yang sama, pengalaman ini dapat menopang kesejahteraan melalui aktivitas fisik dan jeda dari tekanan harian. Kesendirian, kebersamaan, dan kesempatan merenung pun memberi peluang bagi pengembangan diri. Dengan demikian, alam berperan sebagai ruang istirahat sekaligus lingkungan yang membantu orang membangun rasa percaya diri dan keseimbangan.

Selain hidup sederhana dan dekat dengan alam, Martela menyoroti pentingnya tidak merusak kepercayaan serta tidak mengambil hak orang lain. Kejujuran bukan sekadar nilai pribadi, melainkan bagian dari cara masyarakat menjaga kehidupan bersama. Ketika warga dapat mengandalkan satu sama lain, mereka cenderung merasa lebih aman dan nyaman dalam keseharian. Rasa percaya juga mengurangi kekhawatiran bahwa orang lain akan mengambil keuntungan secara tidak adil.

Gagasan ini sejalan dengan temuan penelitian yang diterbitkan National Bureau of Economic Research. Penelitian tersebut mengaitkan tingkat kebahagiaan suatu negara dengan tingginya kejujuran dan rasa saling percaya di warganya. Hubungan itu menunjukkan bahwa kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi atau kepuasan pribadi. Kualitas hubungan sosial dan keyakinan bahwa orang lain akan bertindak jujur turut membentuk pengalaman hidup yang lebih tenteram.

Salah satu gambaran konkret tentang kejujuran muncul dalam eksperimen “dompet hilang” yang dilakukan Reader’s Digest pada 2022. Sebanyak 192 dompet dijatuhkan di 16 kota di dunia untuk melihat apakah orang yang menemukannya akan mengembalikannya. Di Helsinki, 11 dari 12 dompet yang dijatuhkan berhasil kembali kepada pemiliknya. Hasil tersebut menempatkan warga kota itu di kelompok yang menunjukkan tingkat pengembalian sangat tinggi dalam pengujian tersebut.

Martela menjelaskan bahwa warga Finlandia menghargai kejujuran dan menganggap mengembalikan barang berharga yang tertinggal sebagai tindakan yang wajar.

Pos terkait