Banjir Melanda Tiga Kecamatan di Padang, Ratusan Warga Mengungsi

Banjir Melanda Tiga Kecamatan di Padang, Ratusan Warga Mengungsi

Kota Padang | Sejumlah kawasan di Kota Padang, Sumatera Barat, dilanda banjir setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu, 10 Oktober 2026. Curah hujan yang berlangsung dalam waktu cukup lama menyebabkan air meluap dan menggenangi permukiman warga di beberapa bagian kota. Kondisi ini berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama mereka yang tinggal di wilayah dengan kontur rendah atau berada di sekitar aliran air.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Sumatera Barat, hingga Minggu, 11 Oktober 2026 pukul 03.34 WIB, genangan masih terdapat di sejumlah permukiman. Laporan tersebut mencatat bahwa banjir melanda tiga kecamatan di Kota Padang, yakni Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo. Petugas terus memantau perkembangan kondisi di lapangan seiring kemungkinan perubahan tinggi muka air dan cuaca.

Bacaan Lainnya

Wilayah terdampak tersebar di enam kelurahan. Di Kecamatan Kuranji, banjir dilaporkan terjadi di Kelurahan Kuranji. Sementara itu, Kecamatan Koto Tangah mencakup Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Batipuh Panjang, dan Lubuk Minturun. Adapun di Kecamatan Nanggalo, genangan melanda Kelurahan Tabiang Banda Gadang dan Gurun Laweh. Sebaran lokasi tersebut menunjukkan bahwa dampak hujan lebat dirasakan di beberapa kawasan permukiman yang berbeda.

Air yang masih menggenangi rumah warga pada dini hari menjadi perhatian petugas penanggulangan bencana dan pemerintah daerah. Data mengenai jumlah warga terdampak serta kebutuhan penanganan di setiap lokasi terus dihimpun untuk mendukung langkah evakuasi dan bantuan. Masyarakat di kawasan yang masih tergenang diimbau tetap memantau informasi resmi, dan mengutamakan keselamatan apabila kondisi air meningkat.

Hasil pendataan sementara menunjukkan bahwa banjir yang melanda tiga kecamatan di Kota Padang telah berdampak langsung pada 225 kepala keluarga atau 498 jiwa. Data tersebut menggambarkan jumlah warga yang rumah atau aktivitasnya terdampak oleh genangan, baik karena air masuk ke permukiman maupun karena akses menuju tempat tinggal terganggu. Kondisi di lapangan masih terus dipantau karena banjir berpotensi menyebabkan perubahan jumlah warga terdampak, terutama apabila curah hujan meningkat atau ketinggian air belum berangsur turun.

Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi tercatat mencapai 672 jiwa. Mayoritas pengungsi berada di Kecamatan Kuranji, salah satu wilayah yang menerima dampak cukup besar dari banjir. Para warga dipindahkan ke lokasi yang lebih aman untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan, sekaligus memudahkan penyaluran bantuan dan pemantauan kebutuhan dasar. Tempat pengungsian menjadi pusat pendataan lanjutan, termasuk untuk mengetahui kebutuhan makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta perlengkapan bagi kelompok rentan.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara. Petugas masih melakukan pendataan dan pemutakhiran informasi di berbagai lokasi terdampak maupun titik pengungsian. Karena proses verifikasi terus berjalan, jumlah kepala keluarga, jiwa terdampak, dan warga yang mengungsi dapat berubah mengikuti perkembangan situasi serta hasil pemeriksaan di lapangan.

Dalam penanganan darurat, tim SAR gabungan juga telah mengevakuasi 238 jiwa dari lokasi yang dinilai berbahaya. Evakuasi dilakukan untuk memastikan warga menjauh dari ancaman genangan yang lebih tinggi, arus deras, maupun kondisi bangunan dan lingkungan yang tidak lagi aman. Tim gabungan bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus berkoordinasi untuk mengevakuasi warga yang masih membutuhkan pertolongan, memperbarui data, serta memastikan keselamatan masyarakat selama banjir berlangsung.

Setelah proses evakuasi dilakukan, warga terdampak banjir ditampung di tiga titik penampungan. Penempatan tersebut disesuaikan dengan kondisi warga yang membutuhkan tempat aman selama situasi darurat berlangsung. Pemerintah bersama tim gabungan membuka posko pengungsian sebagai bagian dari penanganan kondisi darurat akibat banjir yang melanda tiga kecamatan di Padang.

Sebanyak 367 jiwa saat ini ditampung di tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga. Penampungan di dua tempat tersebut menjadi salah satu titik utama bagi warga yang telah meninggalkan tempat tinggalnya. Warga berada di lokasi penampungan sambil menunggu kondisi memungkinkan untuk kembali ke rumah masing-masing. Tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga digunakan untuk menampung jumlah pengungsi yang cukup besar.

Sementara itu, sebanyak 250 jiwa berada di Mushalla Ar Ridwan Kampung Tangah. Mushalla tersebut menjadi titik penampungan bagi warga yang telah dievakuasi dari wilayah terdampak. Penampungan ini menambah kapasitas tempat bagi masyarakat yang memerlukan perlindungan selama banjir berlangsung.

Selain dua titik tersebut, sebanyak 55 jiwa lainnya menempati Warung Jembatan Guo. Dengan demikian, seluruh warga yang telah dievakuasi tersebar di tiga titik penampungan, yakni tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga dengan jumlah 367 jiwa, Mushalla Ar Ridwan Kampung Tangah dengan 250 jiwa, serta Warung Jembatan Guo dengan 55 jiwa. Posko pengungsian yang dibuka pemerintah bersama tim gabungan menjadi bagian dari penanganan kondisi darurat dan mendukung pengaturan penampungan warga terdampak.

Pemerintah pusat dan daerah terus memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak banjir di Kota Padang. Bantuan logistik disalurkan secara bertahap kepada para pengungsi, terutama di wilayah Koto Tangah dan Kuranji. Bantuan tersebut terdiri atas 500 bungkus nasi, 100 selimut, 23 dus mi instan, 30 paket makanan anak, 30 paket perlengkapan keluarga, 16 paket pakaian anak, serta 30 unit kasur. Penyaluran dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan setiap lokasi, sehingga warga dapat memperoleh makanan, perlindungan, dan perlengkapan penting selama berada di tempat pengungsian.

Untuk mempercepat penanganan banjir, Polda Sumatera Barat mengerahkan ratusan personel gabungan. Kekuatan tersebut melibatkan personel Brimob, Direktorat Samapta, Polairud, Polresta Padang, unsur SAR, dan Basarnas. Mereka diterjunkan ke sejumlah titik yang terdampak, lain Perumahan Lumin Park, Kuranji, Goa, dan Sungai Lareh. Tim gabungan menjalankan evakuasi, pencarian, pemantauan kondisi lapangan, serta membantu pemindahan warga menuju lokasi yang lebih aman.

Seluruh warga di wilayah yang berada dalam penanganan Polri berhasil dievakuasi dengan selamat. Hingga penanganan tersebut berlangsung, tidak terdapat laporan korban jiwa. Pemerintah dan petugas tetap mengimbau warga untuk mengikuti arahan evakuasi serta menghindari area yang masih tergenang atau berpotensi mengalami arus deras.

Selain distribusi bantuan dan evakuasi, posko kesehatan serta posko SAR juga didirikan untuk memastikan kebutuhan warga dapat ditangani secara cepat. Sebanyak 250 personel disiagakan untuk berpatroli, memantau situasi, dan menjaga rumah-rumah warga yang ditinggalkan sementara waktu. Petugas turut memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak dan lansia. Warga yang pakaianya basah juga menerima pakaian ganti agar tetap terlindungi dari kondisi cuaca dan risiko gangguan kesehatan selama berada di pengungsian.

Baca juga: Kebakaran Melanda TPA Galuga di Bogor, Ini Penyebabnya | TNI Intensifkan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di 11 Kecamatan Kabupaten Melawi, Kalbar

Pos terkait