Dion Markx dan Thom Haye mencatat pencapaian istimewa pada 2026 dengan meraih dua gelar dalam satu tahun. Keduanya menjadi pemain Timnas Indonesia yang berhasil menggabungkan trofi kompetisi domestik dan gelar internasional regional. Catatan tersebut terasa semakin penting karena kedua gelar itu diraih melalui perjalanan bersama klub dan negara, sekaligus menegaskan peran mereka sebagai bagian dari generasi yang membawa sepak bola Indonesia menuju pencapaian baru.
Perjalanan mereka dimulai ketika Dion Markx dan Thom Haye menjadi bagian dari Persib Bandung pada musim 2025/2026. Bersama klub berjuluk Maung Bandung tersebut, keduanya membantu mengamankan gelar Super League 2025/2026. Keberhasilan itu menjadi fondasi pertama bagi catatan ganda mereka. Persib tampil sebagai tim yang mampu menjaga konsistensi sepanjang kompetisi, sementara kontribusi para pemain, termasuk Markx dan Haye, mendukung klub dalam menyelesaikan musim dengan status sebagai juara.
Setelah kompetisi domestik berakhir, fokus keduanya beralih ke Timnas Indonesia. Dion Markx dan Thom Haye kembali memperkuat skuad Garuda dalam FIFA ASEAN Cup 2026, turnamen regional yang mempertemukan negara-negara Asia Tenggara. Indonesia menjalani rangkaian pertandingan dengan target untuk membuktikan kapasitasnya di tingkat regional. Peran pemain berpengalaman dan talenta muda menjadi bagian penting dari upaya tersebut, termasuk kemampuan Markx dan Haye dalam menjaga keseimbangan permainan serta membantu tim menghadapi tekanan pertandingan.
Timnas Indonesia kemudian berhasil meraih gelar perdana FIFA ASEAN Cup 2026. Trofi itu melengkapi keberhasilan yang sebelumnya mereka dapatkan bersama Persib Bandung. Dengan demikian, Markx dan Haye tidak hanya menjadi juara di level klub, tetapi juga menorehkan prestasi bersama tim nasional pada tahun yang sama. Dua gelar tersebut menjadikan 2026 sebagai periode bersejarah bagi keduanya, sekaligus memperlihatkan bahwa konsistensi di kompetisi domestik dapat berlanjut ketika mereka mengenakan seragam Indonesia.
Persib Bandung memastikan diri sebagai juara Super League 2025/2026 setelah melewati pekan terakhir dengan hasil imbang tanpa gol melawan Persijap Jepara. Pertandingan tersebut berlangsung ketat dan penuh kehati-hatian karena Persib hanya membutuhkan tambahan poin untuk mempertahankan posisi di puncak klasemen. Meskipun tidak mampu mencetak gol, Maung Bandung tetap berhasil menjaga keseimbangan permainan hingga peluit panjang berbunyi.
Tambahan satu poin dari laga itu membuat Persib mengakhiri kompetisi dengan koleksi 79 poin. Perolehan tersebut sebenarnya sama dengan milik Borneo FC yang juga menutup musim dengan jumlah poin identik. Namun, Persib berhak berada di posisi teratas karena unggul dalam rekor pertemuan langsung atau head to head atas pesaing utamanya. Keunggulan tersebut menjadi penentu penting dalam persaingan gelar yang berlangsung hingga pertandingan terakhir.
Kepastian juara ini menunjukkan konsistensi Persib sepanjang musim. Tim asal Bandung itu mampu mempertahankan performa di tengah persaingan ketat dengan klub-klub papan atas. Stabilitas hasil pertandingan, kedalaman skuad, serta kemampuan mengelola tekanan pada fase akhir kompetisi menjadi faktor yang membantu Persib mengamankan posisi pertama. Hasil imbang melawan Persijap pun cukup untuk melengkapi perjalanan mereka menuju gelar.
Gelar Super League 2025/2026 juga memiliki nilai historis yang besar bagi Persib Bandung. Keberhasilan tersebut menjadi gelar ketiga secara beruntun setelah sebelumnya menjuarai kompetisi pada musim 2023/2024 dan 2024/2025. Pencapaian tiga gelar berturut-turut itu mencatatkan hattrick juara, sekaligus menegaskan dominasi Persib dalam beberapa musim terakhir. Dengan demikian, klub tersebut tidak hanya mempertahankan status sebagai juara, tetapi juga membangun salah satu periode paling sukses dalam sejarahnya.
Dion Markx dan Thom Haye sama-sama tercatat sebagai bagian dari skuad Persib yang meraih gelar pada musim 2025/2026. Namun, keduanya menjalani perjalanan dengan porsi kontribusi yang berbeda. Perbedaan tersebut terutama terlihat dari waktu bermain, kesinambungan keterlibatan dalam pertandingan, serta posisi masing-masing dalam rencana pelatih sepanjang kompetisi.
Markx merupakan bagian dari skuad Persib pada musim 2025/2026 ketika klub tersebut menuntaskan perjalanan sebagai juara. Kehadirannya menjadi bagian dari kedalaman tim yang dibangun untuk menghadapi persaingan sepanjang musim. Setelah musim tersebut berakhir, ia dipinjamkan ke Persita Tangerang untuk musim 2026/2027. Status peminjaman itu menunjukkan bahwa perjalanan Markx tetap berlanjut dalam kompetisi, meskipun pada periode berikutnya ia tidak lagi berada dalam daftar utama Persib.
Berbeda dari Markx, Haye memegang peran yang lebih menonjol dalam perjalanan Persib menuju gelar. Ia tampil dalam 28 pertandingan Super League 2025/2026 dan memberikan kontribusi langsung melalui lima gol serta enam assist. Catatan tersebut menggambarkan keterlibatannya yang konsisten, baik dalam membantu membangun serangan maupun menciptakan peluang bagi rekan setim. Pengalaman dan kualitas distribusinya juga membuat Haye menjadi salah satu pemain penting dalam keseimbangan permainan Persib.
Perbandingan keduanya perlu ditempatkan secara proporsional. Haye memiliki kontribusi statistik dan peran pertandingan yang lebih besar, sedangkan Markx berstatus sebagai bagian dari skuad juara pada musim yang sama. Dalam sebuah tim, keberhasilan meraih gelar tidak hanya ditentukan oleh jumlah penampilan atau catatan gol dan assist, tetapi juga oleh komposisi skuad serta kontribusi setiap pemain dalam struktur klub. Karena itu, Markx dan Haye tetap memiliki kaitan yang sama dengan keberhasilan Persib, meskipun bentuk kontribusi mereka berbeda.
Setelah kompetisi klub berakhir, perhatian Thom Haye dan Dion Markx beralih kepada agenda bersama Timnas Indonesia. Keduanya mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari perjalanan skuad Garuda dalam FIFA ASEAN Cup 2026, meskipun memiliki peran dan pengalaman yang berbeda. Haye masuk ke dalam skuad yang ditangani John Herdman. Sebagai pemain senior, gelandang tersebut diharapkan mampu memberikan ketenangan, pengalaman, serta kualitas dalam mengatur permainan di lini tengah.
Sementara itu, Dion Markx dipanggil sebagai salah satu opsi di lini belakang. Persaingan untuk mendapatkan tempat utama membuat pemain muda tersebut lebih sering memulai pertandingan dari bangku cadangan. Kendati demikian, keberadaannya tetap penting bagi kedalaman skuad Indonesia. Pemanggilan tersebut juga menjadi bagian dari proses perkembangan Markx setelah menjalani musim yang cukup dinamis di level klub.
Indonesia kemudian memastikan gelar perdana FIFA ASEAN Cup setelah melewati pertandingan dramatis melawan Thailand. Kedua tim bermain imbang 2-2 selama 120 menit, sehingga pemenang harus ditentukan melalui adu penalti. Dalam babak tersebut, Indonesia tampil lebih efektif dan mengamankan kemenangan dengan skor 4-2. Hasil itu mengantarkan skuad Garuda meraih trofi perdana dalam ajang tersebut sekaligus menciptakan catatan baru bagi sepak bola nasional.
Bagi Haye dan Markx, keberhasilan itu menambah koleksi gelar mereka menjadi dua trofi sepanjang 2026. Namun, keduanya mencapainya melalui pengalaman yang berbeda. Haye menjalani musim sebagai pemain senior Persib dan memiliki peran lebih besar dalam perjalanan tim. Di sisi lain, Markx juga mengawali musim sebagai pemain Persib sebelum dipinjamkan ke Persita untuk mendapatkan kesempatan bermain dan pengalaman tambahan. Perbedaan jalur tersebut tidak mengurangi arti pencapaian mereka. Haye dan Markx tetap tercatat sebagai bagian dari sejarah Indonesia ketika negara itu meraih gelar perdana FIFA ASEAN Cup.











