Jakarta, 7 Oktober 2026 — Letnan Jenderal TNI Iwan Setiawan dipromosikan menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Ia menggantikan Letnan Jenderal TNI Mohammad Fadjar yang sebelumnya menduduki posisi strategis tersebut. Promosi ini menjadi bagian dari penyegaran kepemimpinan di lingkungan TNI Angkatan Darat sekaligus menempatkan Iwan pada salah satu jabatan komando paling penting dalam struktur pertahanan darat Indonesia.
Perubahan jabatan itu dikonfirmasi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Menurut Maruli, mutasi dan promosi Iwan berlangsung bersamaan dengan pelantikan enam panglima komando daerah militer (pangdam) baru. Rangkaian keputusan tersebut menunjukkan adanya penataan sejumlah posisi kepemimpinan untuk mendukung kesinambungan komando dan pelaksanaan tugas TNI AD.
Maruli menyampaikan bahwa surat mengenai pengangkatan tersebut telah diterbitkan bersamaan dengan keputusan untuk mengangkat pangdam-pangdam baru. “Suratnya sudah diterbitkan bersamaan dengan pengangkatan pangdam baru,” ujar Maruli. Pernyataan itu mempertegas bahwa promosi Iwan sebagai Pangkostrad merupakan bagian dari keputusan mutasi yang telah ditetapkan secara resmi, bukan sekadar wacana pergantian jabatan.
Sebagai Pangkostrad, Iwan Setiawan akan memimpin Kostrad, satuan strategis TNI AD yang memiliki peran penting dalam kesiapsiagaan operasional dan pengerahan kekuatan Angkatan Darat. Penunjukan tersebut juga menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya, terutama karena pengalaman penugasan di berbagai lingkungan komando. Namun, fokus utama keputusan kali ini adalah peralihan kepemimpinan Kostrad dari Mohammad Fadjar kepada Iwan, sejalan dengan mutasi sejumlah pejabat tinggi TNI AD pada 7 Oktober 2026.
Iwan Setiawan merupakan lulusan Akademi Militer angkatan 1992. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia menapaki pengabdian sebagai perwira TNI Angkatan Darat dengan penugasan yang sebagian besar berlangsung di lingkungan Korps Kopassus. Lingkungan pasukan khusus tersebut menjadi ruang penting bagi pembentukan pengalaman kepemimpinan, kemampuan operasional, serta pemahaman terhadap pengelolaan satuan. Dari satu jabatan ke jabatan berikutnya, perjalanan kariernya menunjukkan proses peningkatan tanggung jawab yang berlangsung secara bertahap.
Pada 1995–1996, Iwan Setiawan dipercaya sebagai Komandan Sub Tim 5/2/13 Grup 1/Parako Kopassus. Setahun kemudian, pada 1996–1998, ia menjalankan tugas sebagai Komandan Tim 5/2/13 Grup 1/Parako Kopassus. Peralihan dari komandan sub tim menjadi komandan tim mencerminkan bertambahnya lingkup kendali dan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Setelah itu, ia menjabat Komandan Kompi 1/12 Grup 1/Parako Kopassus hingga 2000. Posisi tersebut menempatkannya pada tingkat kepemimpinan yang lebih besar, dengan tanggung jawab terhadap pembinaan personel, kesiapan satuan, dan pelaksanaan tugas operasional.
Dalam rangkaian waktu yang berdekatan, mulai 5 Februari 2000, Iwan juga tercatat sebagai Perwira Latihan Seksi Pengamanan Detasemen Markas Grup 1 Kopassus. Penugasan ini memperluas pengalamannya ke bidang latihan dan pengamanan, sekaligus memperlihatkan kebutuhan organisasi untuk memanfaatkan kapasitasnya dalam lebih dari satu aspek pembinaan satuan. Pada 2002, ia melanjutkan pengabdian sebagai Kepala Seksi Operasional Grup 1/Parako Kopassus. Jabatan tersebut berkaitan erat dengan perencanaan serta pengendalian kegiatan operasional. Berikutnya, pada 2004 hingga 2007, ia dipercaya menjadi Wakil Komandan Batalyon 12 Grup 1 Kopassus. Rangkaian jabatan itu menjadi bagian penting dari dasar pengalaman militernya sebelum memasuki tanggung jawab kepemimpinan yang lebih luas dalam karier berikutnya.
Fase pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) menjadi bagian penting dalam perjalanan karier Iwan Setiawan. Pada masa menjalani pendidikan tersebut, ia tercatat menjabat sementara sebagai perwira menengah Detasemen Markas Kopassus. Kedudukan itu menunjukkan bahwa proses pendidikan berlangsung bersamaan dengan penugasan dalam lingkungan satuan Kopassus. Dengan demikian, fase Seskoad tidak berdiri terpisah dari pengalaman kedinasannya, melainkan berlangsung ketika ia masih berada dalam lingkup penugasan operasional dan organisasi pasukan khusus.
Penugasan sebagai perwira menengah Detasemen Markas Kopassus menempatkan Iwan Setiawan dalam struktur satuan yang sebelumnya menjadi bagian dari lingkungan kariernya. Dalam periode tersebut, perhatian utamanya mencakup penyelesaian pendidikan di Seskoad, sementara status jabatannya tetap disebut sebagai perwira menengah pada Detasemen Markas Kopassus. Informasi ini menggambarkan tahap peralihan yang berlangsung secara bertahap, dari tanggung jawab kedinasan di satuan menuju penguatan kapasitas melalui pendidikan staf dan komando.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Seskoad, Iwan Setiawan kemudian dipercaya sebagai komandan pusat pendidikan dan latihan pasukan khusus. Perubahan tersebut menandai perpindahan tanggung jawab dari penugasan di lingkungan Detasemen Markas Kopassus menuju bidang pendidikan dan latihan. Dalam peran ini, kedudukannya berkaitan dengan pusat yang menangani pembinaan pendidikan serta latihan pasukan khusus. Urutan penugasan itu memperlihatkan kesinambungan pengalaman di satuan Kopassus, pendidikan di Seskoad, dan tanggung jawab dalam pengembangan kemampuan pasukan khusus. Namun, keterangan mengenai fase ini terbatas pada jabatan yang diemban selama pendidikan serta penugasan setelah pendidikan selesai, sehingga tidak mencakup alasan pengangkatan maupun durasi masa jabatan.
Di luar rangkaian jabatan struktural yang pernah diembannya, Iwan Setiawan juga memiliki catatan penting dalam kegiatan ekspedisi. Keterlibatan tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan pengabdiannya sebagai prajurit, sekaligus memperlihatkan pengalaman yang melampaui ruang lingkup penugasan kedinasan pada umumnya. Catatan itu berkaitan dengan ekspedisi menuju salah satu puncak tertinggi di dunia, yang digagas oleh Prabowo Subianto pada 1997.
Pada saat mengikuti ekspedisi tersebut, Iwan Setiawan masih berpangkat Letnan Satu. Ia menjadi salah satu peserta tim yang berupaya mencapai puncak Gunung Everest. Dalam kegiatan itu, Iwan tidak berangkat seorang diri. Ia bersama Misirin dan Asmujiono berhasil mencapai puncak Gunung Everest melalui jalur selatan.
Capaian tersebut tercatat sebagai salah satu pengalaman menonjol dalam rekam jejak Iwan Setiawan. Nama Iwan Setiawan, Misirin, dan Asmujiono disebut sebagai bagian dari keberhasilan mencapai puncak Gunung Everest melalui jalur selatan pada 1997. Informasi itu melengkapi gambaran mengenai perjalanan Iwan sebelum kemudian dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab dalam struktur TNI.
Dengan demikian, keterlibatan Iwan Setiawan dalam ekspedisi yang digagas Prabowo Subianto pada 1997 menjadi bagian penting dari rekam jejaknya di luar jabatan formal. Pada masa itu, statusnya sebagai Letnan Satu dan keberhasilannya mencapai puncak Gunung Everest melalui jalur selatan bersama Misirin serta Asmujiono menjadi catatan yang melekat dalam perjalanan kariernya. Pengalaman tersebut hadir sebagai salah satu latar belakang perjalanan pengabdiannya sebelum ia dipercaya menduduki posisi Pangkostrad.










