Jakarta | Kenaikan harga sejumlah bahan pangan mulai dirasakan pedagang dan pelanggan di Pasar Senen, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Cabai dan berbagai jenis sayuran menjadi komoditas yang paling banyak disebut mengalami peningkatan harga. Perubahan tersebut terlihat dalam aktivitas jual beli harian, ketika pelanggan mulai mempertimbangkan kembali jumlah bahan pangan yang dibeli. Jika sebelumnya kebutuhan rumah tangga dapat dipenuhi dalam jumlah lebih banyak, kini sebagian pelanggan memilih mengurangi takaran atau menyesuaikan pilihan belanja dengan anggaran yang tersedia.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat, harga rata-rata cabai rawit merah secara nasional mencapai Rp132.850 per kilogram. Sementara itu, harga rata-rata cabai merah keriting berada di level Rp112.450 per kilogram. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai tingginya harga cabai yang turut dirasakan dalam perdagangan di pasar tradisional. Di lapangan, pedagang harus menghadapi perubahan daya beli pelanggan yang berlangsung bersamaan dengan meningkatnya harga sejumlah sayuran.
Pedagang di Pasar Senen menyampaikan bahwa kenaikan harga berdampak langsung pada penjualan. Pelanggan tetap datang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi tidak lagi membeli dengan jumlah yang sama seperti sebelumnya. Sebagian pembeli memilih membeli cabai dan sayuran secukupnya, sedangkan lainnya mengurangi jenis barang yang masuk ke dalam keranjang belanja. Kondisi ini membuat transaksi tetap berjalan, namun nilai pembelian cenderung menurun. Bagi pedagang, penurunan jumlah belanja pelanggan menjadi tantangan karena harga komoditas yang lebih tinggi tidak otomatis meningkatkan pendapatan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga pangan telah memengaruhi kegiatan perdagangan sekaligus pola belanja masyarakat di Pasar Senen.
Harga cabai di Pasar Senen menunjukkan tekanan yang dirasakan pedagang dan pembeli secara langsung. Iwan, salah seorang pedagang sayur di pasar tersebut, menjual cabai rawit merah dengan harga Rp95.000 per kilogram. Sementara itu, cabai merah keriting dipasarkan seharga Rp85.000 per kilogram. Perbedaan harga kedua jenis cabai tersebut mencerminkan variasi komoditas yang tersedia di lapak, sekaligus menjadi gambaran mengenai harga yang dihadapi konsumen ketika berbelanja di tingkat pasar.
Angka dari lapak Iwan perlu dibandingkan secara hati-hati dengan rata-rata nasional yang dicatat oleh Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS). Data PIHPS berfungsi sebagai rujukan untuk melihat perkembangan harga secara lebih luas, sedangkan harga di Pasar Senen merupakan kondisi pada lokasi, waktu, kualitas, dan jalur perdagangan tertentu. Karena itu, angka Rp95.000 dan Rp85.000 per kilogram tidak secara otomatis dapat dianggap mewakili harga nasional. Perbandingan yang tepat perlu memperhatikan tanggal pencatatan, jenis cabai, mutu barang, serta satuan pengukuran yang digunakan dalam data PIHPS.
Dengan kerangka tersebut, harga di lapak Iwan dapat dipandang sebagai potret kondisi lapangan yang melengkapi data rata-rata nasional, bukan sebagai pengganti data tersebut. Rata-rata PIHPS membantu menunjukkan kecenderungan umum, sementara harga pasar memberikan gambaran mengenai nilai transaksi yang harus dibayar masyarakat di wilayah tertentu. Selisih keduanya, apabila dihitung berdasarkan periode yang sama, perlu dibaca sebagai informasi mengenai variasi harga antarlokasi dan bukan langsung sebagai kesimpulan mengenai penyebabnya.
Iwan juga menyampaikan bahwa kenaikan tidak hanya terjadi pada komoditas cabai. Sejumlah sayuran lain turut mengalami kenaikan harga. Keterangan ini menunjukkan bahwa tekanan belanja yang dirasakan konsumen dapat meluas ke berbagai kebutuhan dapur, sehingga perubahan harga di pasar tidak semata-mata berkaitan dengan satu jenis komoditas. Bagi pedagang, kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan kemampuan belanja pembeli yang datang ke Pasar Senen.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai, tetapi juga terlihat pada sejumlah sayuran yang dijual di lapak Iwan. Salah satu komoditas yang mengalami perubahan cukup jelas adalah buncis. Sebelumnya, harga buncis berada di kisaran Rp20.000 per kilogram. Kini, harganya meningkat menjadi sekitar Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Perbedaan harga tersebut bergantung pada kualitas buncis yang tersedia. Dengan demikian, pembeli perlu memperhatikan mutu produk ketika membandingkan harga di lapak.
Tomat juga termasuk sayuran yang mengalami kenaikan. Di lapak Iwan, harga tomat kini telah berada di atas Rp20.000 per kilogram. Perubahan harga pada komoditas ini turut menambah beban belanja bagi konsumen yang membutuhkan tomat sebagai bahan masakan sehari-hari. Selain buncis dan tomat, Iwan menyebut timun, caisim, serta daun bawang sebagai sayuran lain yang harganya ikut naik. Kenaikan pada beberapa komoditas tersebut membuat pilihan sayuran dengan harga lebih terjangkau menjadi semakin terbatas bagi sebagian pembeli.
Meski sejumlah sayuran mencatat kenaikan, tidak semua komoditas mengalami perubahan serupa. Harga bawang disebut relatif stabil dan cenderung lebih murah dibandingkan sayuran yang mengalami peningkatan harga. Kondisi ini memberikan sedikit pilihan bagi konsumen untuk menyesuaikan belanja ketika harga buncis, tomat, timun, caisim, dan daun bawang meningkat. Perbedaan pergerakan harga antarkomoditas tersebut terlihat dari penjualan harian di lapak Iwan, sekaligus menunjukkan bahwa kenaikan tidak berlaku secara merata pada seluruh jenis sayuran yang tersedia di pasar.
Kenaikan harga cabai dan sayuran langsung memengaruhi pola belanja pelanggan di Pasar Senen. Iwan mengatakan, pembeli kini cenderung menyesuaikan jumlah barang yang dibeli dengan kemampuan mereka. Pelanggan yang sebelumnya terbiasa membeli satu kilogram mulai mengurangi pembelian menjadi setengah kilogram. Perubahan serupa juga terlihat pada pembeli yang biasanya mengambil dua kilogram, tetapi sekarang hanya membeli satu kilogram.
Pengurangan kuantitas tersebut membuat transaksi pedagang ikut terdampak. Meskipun pelanggan tetap datang dan masih membutuhkan cabai serta sayuran untuk keperluan sehari-hari, jumlah belanja yang lebih kecil membuat nilai pembelian menurun. Pedagang harus menghadapi situasi ketika harga komoditas meningkat, sementara pelanggan semakin berhati-hati menentukan kebutuhan yang akan dibawa pulang.
Bagi pedagang, kondisi ini menjadi tantangan karena kenaikan harga tidak selalu dapat diikuti oleh peningkatan penjualan. Mereka tetap perlu menyediakan barang dagangan, tetapi harus melihat kemampuan pelanggan yang kini membeli dalam jumlah lebih sedikit. Penyesuaian tersebut terjadi pada berbagai ukuran pembelian, dari pelanggan rumah tangga yang mengurangi belanja hingga pembeli yang sebelumnya mengambil beberapa kilogram dan kini hanya mengambil sebagian.
Iwan menilai situasi berjualan saat ini terasa semakin berat. Kenaikan harga komoditas dan berkurangnya kuantitas belanja pelanggan berlangsung bersamaan, sehingga pedagang harus menghadapi tekanan dalam kegiatan perdagangan sehari-hari. Ia menggambarkan kondisi jualan sekarang dengan ungkapan bahwa situasinya terasa “pahit”.
Baca juga: Penurunan Drastis Harga Emas Perhiasan di Jakarta | Kenaikan Drastis Harga Cabai di Jakarta: Emak-Emak Mulai Berhemat | Lonjakan Harga Cabai Rawit di Jakarta: Penyebab dan Dampaknya










