Palembang | Operasional penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang berangsur kembali normal setelah kondisi jarak pandang di area landasan mengalami peningkatan. Jarak pandang yang mencapai sekitar 2.000 meter memberikan dukungan penting bagi aktivitas penerbangan, terutama dalam proses kedatangan dan keberangkatan pesawat. Perbaikan kondisi tersebut telah berlangsung sejak Senin, 12 Oktober 2026.
Sebelumnya, jarak pandang yang terbatas dapat memengaruhi kelancaran pergerakan pesawat di bandar udara. Dalam situasi seperti itu, maskapai dan pengelola bandara perlu menyesuaikan jadwal serta prosedur operasional dengan mempertimbangkan aspek keselamatan. Setelah jarak pandang membaik, aktivitas penerbangan di SMB II dapat berjalan lebih lancar dan bertahap kembali pada pola layanan normal.
Peningkatan jarak pandang menjadi faktor utama yang mendukung pemulihan operasional tersebut. Kondisi ini memungkinkan pesawat yang tiba maupun yang akan berangkat untuk menjalankan proses penerbangan dengan lebih teratur. Pergerakan penumpang di terminal pun turut terbantu karena kegiatan check-in, boarding, dan pengambilan bagasi dapat berlangsung seiring dengan membaiknya jadwal penerbangan.
Meski operasional telah berangsur normal, perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang tetap menjadi perhatian dalam pelaksanaan penerbangan. Pengelola bandara, maskapai, serta pihak terkait perlu terus memantau situasi untuk memastikan setiap penerbangan berlangsung aman dan efisien. Penumpang juga disarankan memeriksa informasi jadwal terbaru melalui maskapai masing-masing sebelum menuju bandara.
Dengan jarak pandang sekitar 2.000 meter, Bandara SMB II Palembang kini menunjukkan pemulihan aktivitas penerbangan setelah sebelumnya menghadapi kondisi yang membatasi operasional. Perbaikan ini berdampak langsung terhadap kelancaran arus kedatangan dan keberangkatan pesawat, sekaligus membantu menjaga layanan transportasi udara di Palembang tetap berjalan.
Operasional penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang pada Senin, 12 Oktober 2026, berlangsung normal. Berdasarkan keterangan Humas Bandara SMB II Palembang, Nidia Basthonie, jarak pandang pada hari tersebut mencapai 2.000 meter. Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan jarak pandang yang tercatat pada hari-hari sebelumnya.
Peningkatan jarak pandang tersebut membuat aktivitas penerbangan tidak mengalami gangguan. Pergerakan pesawat di bandara dapat berlangsung seperti biasa, baik untuk penerbangan yang datang maupun penerbangan yang berangkat. Dengan kondisi operasional yang berjalan normal, layanan penerbangan kepada penumpang tetap terlaksana sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Seluruh penerbangan kedatangan pada Senin itu berlangsung sesuai jadwal. Pesawat-pesawat yang dijadwalkan tiba dapat menjalankan proses kedatangan tanpa hambatan terkait kondisi jarak pandang. Hal serupa juga terjadi pada penerbangan keberangkatan. Pesawat yang memiliki jadwal lepas landas dapat menjalankan aktivitasnya sesuai waktu yang telah ditentukan.
Keterangan tersebut menegaskan bahwa perbaikan jarak pandang berpengaruh terhadap kelancaran aktivitas penerbangan di SMB II Palembang. Setelah pada hari-hari sebelumnya kondisi jarak pandang lebih terbatas, situasi pada Senin, 12 Oktober 2026, menjadi lebih mendukung bagi operasional bandara. Tidak terdapat gangguan terhadap penerbangan kedatangan maupun keberangkatan pada hari itu, sehingga seluruh rangkaian aktivitas penerbangan berjalan sesuai jadwal.
Operasional penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang pada Selasa, 13 Oktober 2026, secara umum masih berlangsung normal. Aktivitas keberangkatan dan kedatangan pesawat tetap berjalan, meskipun terdapat dua penerbangan yang mengalami keterlambatan pada pagi hari.
Penerbangan pertama yang mengalami penundaan adalah Lion Air nomor JT 246 dengan rute Palembang–Batam. Pesawat tersebut semula dijadwalkan berangkat pada pukul 06.00 WIB. Namun, keberangkatannya mengalami keterlambatan sehingga pesawat baru lepas landas pada pukul 07.07 WIB. Dengan demikian, penerbangan tersebut terlambat selama lebih dari satu jam dari jadwal yang telah ditetapkan.
Keterlambatan juga terjadi pada penerbangan Super Air Jet nomor IU 921 dengan rute Palembang–Jakarta. Pesawat ini semula dijadwalkan berangkat pada pukul 06.00 WIB, tetapi waktu keberangkatannya berubah menjadi pukul 09.25 WIB. Perubahan jadwal tersebut membuat penerbangan mengalami keterlambatan lebih dari tiga jam.
Meski terdapat penundaan pada dua penerbangan tersebut, kondisi operasional bandara tetap terkendali. Penyesuaian waktu keberangkatan tidak mengganggu keseluruhan aktivitas penerbangan di Bandara SMB II Palembang. Penumpang diimbau untuk memperhatikan informasi terbaru dari maskapai terkait perubahan jadwal, proses check-in, serta waktu boarding agar dapat menyesuaikan rencana perjalanan.
Nidia menyampaikan bahwa operasional Bandara SMB II Palembang pada Selasa tersebut berjalan lancar. Pernyataan itu menegaskan bahwa dua keterlambatan penerbangan bersifat terbatas dan tidak menunjukkan adanya gangguan besar terhadap kegiatan penerbangan secara keseluruhan. Layanan bandara tetap beroperasi sebagaimana mestinya, sementara maskapai melakukan pengaturan sesuai kondisi penerbangan masing-masing.
Perkembangan terbaru menunjukkan kondisi jarak pandang di area landasan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, telah membaik. Pada pukul 10.00 WIB, jarak pandang tercatat mencapai 2.000 meter. Angka tersebut berada di atas standar operasional keselamatan penerbangan, sehingga aktivitas penerbangan dapat kembali berlangsung dengan kondisi yang lebih mendukung dibandingkan saat jarak pandang masih terbatas.
Peningkatan ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan kondisi pada Minggu, 11 Oktober 2026. Pada hari tersebut, jarak pandang di landasan hanya mencapai 600 meter. Keterbatasan visibilitas itu berdampak terhadap operasional 18 pesawat. Gangguan yang terjadi dapat berupa penundaan, penyesuaian jadwal, maupun pengaturan ulang pergerakan penerbangan sesuai dengan pertimbangan keselamatan dan kondisi cuaca di sekitar bandara.
Sehari sebelumnya, kondisi jarak pandang bahkan lebih rendah, yakni sekitar 350 meter. Situasi tersebut menyebabkan 26 pesawat mengalami gangguan operasional. Perbandingan data itu memperlihatkan perubahan visibilitas yang cukup besar dalam waktu singkat, dari 350 meter, kemudian 600 meter, hingga mencapai 2.000 meter pada pengamatan terbaru pukul 10.00 WIB.
Nidia menyampaikan bahwa jarak pandang di landasan telah berada dalam kondisi normal sejak hari sebelumnya. Keterangan tersebut sejalan dengan hasil pengamatan terbaru yang mencatat jarak pandang 2.000 meter dan menunjukkan kondisi yang lebih baik daripada dua hari sebelumnya, ketika visibilitas masih berada pada 600 meter dan 350 meter serta berdampak terhadap operasional sejumlah pesawat.
Baca juga: Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Bandara-Bandara Utama Indonesia Kembali Beroperasi Setelah Ditutup Akibat Erupsi











