BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan telah mengidentifikasi 63 jenazah korban kecelakaan kapal KM Virgo Transport 8. Proses tersebut dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin sebagai bagian dari upaya memastikan identitas setiap korban secara akurat. Hasil identifikasi menjadi informasi penting bagi keluarga yang masih menunggu kepastian mengenai anggota keluarganya.
Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin hingga kini telah menerima 80 jenazah. Dengan demikian, masih terdapat 17 jenazah yang belum teridentifikasi dan sedang menjalani tahapan pemeriksaan lebih lanjut. Tim DVI terus bekerja untuk mencocokkan berbagai data yang tersedia, sehingga proses penetapan identitas dapat dilakukan secara cermat dan sesuai prosedur.
Dalam proses itu, sebagian sampel DNA dari jenazah dikirim ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri di Jakarta. Pengiriman sampel dilakukan untuk mendukung pemeriksaan dan pencocokan data genetik apabila diperlukan. Pemeriksaan tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam membantu tim memperoleh hasil identifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Upaya identifikasi terhadap 17 jenazah lainnya masih berlangsung di Banjarmasin dan melibatkan koordinasi tim DVI, rumah sakit, serta laboratorium terkait. Petugas perlu memastikan setiap data yang diperiksa memiliki kesesuaian sebelum hasilnya disampaikan. Karena itu, proses ini dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan ketelitian, terutama dalam memastikan tidak terjadi kekeliruan saat menetapkan identitas korban. Pembaruan mengenai hasil identifikasi akan disampaikan setelah seluruh pemeriksaan dan pencocokan data selesai dilakukan.
Kabid Dokkes Polda Kalimantan Selatan, Kombes Pol dr Much Sofwan, menyampaikan bahwa korban meninggal dunia dalam kecelakaan kapal KM Virgo Transport 8 yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 63 orang. Dari jumlah tersebut, korban asal Jawa Timur menjadi kelompok terbanyak, yakni 28 orang. Data ini menjadi salah satu keterangan utama dalam perkembangan proses identifikasi korban yang dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).
Angka 28 korban dari Jawa Timur menunjukkan asal daerah yang paling banyak tercatat di jenazah yang sudah dikenali hingga saat ini. Penyebutan asal daerah tersebut didasarkan pada pencocokan identitas korban oleh tim terkait, bukan pada perkiraan sementara. Karena itu, data identifikasi dapat menjadi rujukan penting bagi keluarga dan pemerintah daerah dalam memastikan informasi mengenai korban.
Tim DVI masih mencatat dan memverifikasi identitas jenazah korban kecelakaan kapal Virgo Transport 8 secara bertahap. Setiap korban yang berhasil dikenali akan dimasukkan ke dalam daftar resmi berdasarkan hasil pemeriksaan serta pencocokan data yang tersedia. Proses ini diperlukan untuk menjaga ketepatan informasi, terutama ketika kondisi jenazah atau dokumen pendukung memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Keterangan mengenai 63 korban yang telah teridentifikasi tersebut menggambarkan perkembangan penanganan pascakecelakaan hingga saat ini. Di dalamnya, 28 korban berasal dari Jawa Timur, sehingga provinsi itu tercatat sebagai daerah dengan jumlah korban teridentifikasi paling banyak. Informasi tersebut disampaikan sebagai bagian dari pencatatan tim DVI dan dapat diperbarui apabila proses pengenalan terhadap jenazah lainnya telah selesai dilakukan.
Jenazah pertama yang berhasil diidentifikasi dalam rangkaian penanganan korban KM Virgo Transport 8 adalah Reyner Fausta Yosilianto. Reyner diketahui berusia 22 tahun dan merupakan warga atau korban asal Malang, Jawa Timur. Identifikasi tersebut menjadi penanda awal dari proses pengenalan jenazah yang dilakukan oleh tim terkait terhadap para korban yang telah ditemukan dan dibawa untuk menjalani pemeriksaan.
Reyner berhasil diidentifikasi pada Senin, 14 September. Penetapan identitasnya dilakukan berdasarkan catatan sidik jari. Data tersebut menjadi dasar pemeriksaan dalam memastikan kesesuaian identitas jenazah, sehingga nama Reyner Fausta Yosilianto dapat dicatat sebagai korban pertama yang berhasil dikenali dalam proses tersebut.
Penemuan dan pemeriksaan jenazah yang dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin merupakan bagian dari rangkaian kerja tim Disaster Victim Identification atau DVI Polda Kalimantan Selatan. Tim ini menjalankan proses identifikasi secara bertahap dengan menggunakan data yang tersedia, termasuk catatan sidik jari sebagai salah satu dasar pencocokan identitas korban.
Dengan teridentifikasinya Reyner, proses pengenalan terhadap jenazah korban lainnya terus menjadi bagian dari pekerjaan tim DVI Polda Kalimantan Selatan. Setiap jenazah yang dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin diperiksa dalam rangkaian prosedur identifikasi. Hasil pemeriksaan kemudian menjadi dasar pencatatan identitas, sebagaimana dilakukan terhadap Reyner Fausta Yosilianto, korban berusia 22 tahun asal Malang, Jawa Timur, yang identitasnya dipastikan melalui catatan sidik jari pada Senin, 14 September.
Setelah Jawa Timur menjadi daerah asal dengan jumlah korban teridentifikasi terbanyak, data menunjukkan sebaran korban berasal dari sejumlah wilayah lain. Jawa Tengah berada di urutan berikutnya dengan 16 orang yang telah teridentifikasi. Selanjutnya, terdapat delapan korban yang berasal dari Kalimantan Selatan, sedangkan Jawa Barat tercatat menyumbang enam korban teridentifikasi.
Rincian tersebut menjadi bagian dari proses pemutakhiran data korban KM Virgo Transport 8. Setiap identifikasi dilakukan melalui pencocokan informasi yang dikumpulkan dari jenazah dengan data ante mortem milik keluarga. Data itu dapat mencakup berbagai keterangan penting yang diperlukan untuk memastikan kecocokan identitas, sesuai prosedur yang dijalankan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).
Tim DVI tetap bekerja tanpa libur untuk menangani proses identifikasi. Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, termasuk pada Sabtu dan Minggu. Setiap kali jenazah diterima, tim langsung melakukan pemeriksaan dan mencocokkan temuan pemeriksaan dengan data ante mortem yang disampaikan oleh keluarga korban. Langkah itu dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari penanganan dan pendataan korban.
Sofwan meminta keluarga korban untuk tetap bersabar selama proses identifikasi berlangsung. Ia menyampaikan bahwa pemeriksaan dan pencocokan data terus dikerjakan oleh tim terkait. Keluarga diharapkan menunggu informasi resmi mengenai hasil identifikasi, sementara seluruh data yang diperlukan terus diproses sesuai ketentuan yang berlaku.











