Airlangga Tinjau Kinerja KEK, Investasi hingga September 2026 Belum Capai Target

Airlangga Tinjau Kinerja KEK, Investasi hingga September 2026 Belum Capai Target

Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah tengah mengevaluasi sejumlah kawasan ekonomi khusus (KEK) yang perkembangannya dinilai masih agak lambat. Evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan kawasan-kawasan tersebut dan mendorong agar pelaksanaannya berjalan lebih baik. Airlangga menyampaikan hal itu kepada awak media di kantornya pada Rabu, 21 Oktober 2026. Ia tidak merinci KEK mana saja yang sedang ditinjau, sehingga belum ada nama kawasan tertentu yang dapat disebut sebagai sasaran evaluasi secara pasti.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah perhatian pemerintah terhadap kinerja KEK, termasuk perkembangan investasi yang tercatat hingga September 2026. Namun, Airlangga tidak memaparkan dalam kesempatan itu rincian capaian investasi masing-masing kawasan maupun indikator yang menjadi dasar penilaian bahwa perkembangannya masih lambat. Pemerintah juga belum menyebutkan jadwal penyelesaian evaluasi atau langkah khusus yang akan diterapkan untuk setiap kawasan. Karena itu, evaluasi tersebut masih perlu dipahami sebagai peninjauan terhadap sejumlah KEK, bukan keputusan untuk menindak atau mengubah status kawasan tertentu.

Bacaan Lainnya

Peninjauan atas kemajuan KEK dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah memahami kendala pelaksanaan dan menilai apakah perkembangan kawasan sejalan dengan sasaran yang telah ditetapkan. Meski demikian, tanpa daftar kawasan dan data pendukung yang disampaikan secara terbuka, belum dapat dipastikan bagaimana hasil penilaian akan memengaruhi kebijakan berikutnya. Airlangga hanya menyebut bahwa beberapa KEK menunjukkan perkembangan yang agak lambat dan sedang dievaluasi. Informasi lebih lanjut mengenai kawasan yang ditinjau, penyebab perlambatan, serta tindak lanjut pemerintah masih menunggu penjelasan resmi. Dengan demikian, kabar evaluasi ini belum mengidentifikasi KEK tertentu sebagai pihak yang secara khusus menjadi fokus penilaian pemerintah.

Airlangga menilai jumlah wisatawan yang berkunjung ke KEK Lido masih perlu didorong agar potensi kawasan tersebut dapat berkembang. Untuk 2027, potensi kunjungan Lido diperkirakan mencapai 220.000 orang. Aktivitas wisatawan dalam skenario tersebut diproyeksikan menghasilkan nilai ekonomi Rp352 miliar dan potensi devisa sebesar US$1,8 miliar. Angka ini menunjukkan peluang yang dapat dikejar melalui pengembangan destinasi, peningkatan fasilitas, serta promosi yang lebih luas. Namun, proyeksi tersebut bukan catatan jumlah wisatawan yang sudah datang atau pendapatan yang telah diterima. Realisasi akan bergantung pada perkembangan investasi dan kemampuan kawasan menarik pengunjung secara berkelanjutan.

Perbandingan dengan sejumlah KEK pariwisata lain memberi gambaran mengenai skala potensi yang dipaparkan. KEK Kura Kura Bali memiliki potensi kunjungan sebanyak 600.000 wisatawan, dengan nilai ekonomi Rp600 miliar. Sementara itu, KEK Mandalika diproyeksikan dapat menarik 1,6 juta wisatawan, termasuk melalui perhelatan MotoGP, dengan nilai ekonomi Rp8,6 triliun. Besaran angka tersebut jauh melampaui proyeksi Lido, baik dari sisi jumlah pengunjung maupun nilai ekonomi. Perbandingan ini dapat menjadi acuan untuk memahami peluang relatif tiap kawasan, tetapi tidak serta-merta mencerminkan kinerja aktual atau capaian yang sudah terwujud.

KEK Tanjung Lesung juga dipaparkan memiliki potensi kunjungan 1,5 juta wisatawan dan nilai ekonomi Rp3 triliun. Dengan demikian, paparan tersebut menempatkan Lido pada skala proyeksi yang lebih rendah dibandingkan Mandalika, Tanjung Lesung, maupun Kura Kura Bali. Meski demikian, angka proyeksi tidak dapat diperlakukan sebagai hasil yang sudah tercapai. Seluruh jumlah wisatawan dan nilai ekonomi yang disebutkan merupakan potensi, bukan realisasi kunjungan, transaksi, atau kontribusi terhadap perekonomian. Karena itu, penilaian atas perkembangan Lido perlu membedakan peluang yang disampaikan dari data aktual, sembari melihat langkah konkret untuk meningkatkan daya tarik dan kunjungan pada tahun-tahun mendatang.

Realisasi investasi di seluruh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) selama Januari hingga September 2026 tercatat sebesar Rp46 triliun. Angka tersebut menjadi gambaran capaian investasi sampai dengan akhir kuartal III, sebelum memasuki tiga bulan terakhir tahun ini. Jika dibandingkan dengan sasaran investasi tahunan yang ditetapkan sebesar Rp69,1 triliun, nilai yang sudah terealisasi setara dengan sekitar 67 persen. Dengan demikian, capaian investasi KEK pada periode sembilan bulan pertama belum mencapai keseluruhan target yang telah ditentukan untuk 2026.

Perbandingan realisasi dan sasaran tahunan menunjukkan masih terdapat selisih sekitar Rp23,1 triliun untuk mencapai target Rp69,1 triliun. Selisih tersebut merupakan nilai investasi yang belum tercatat dalam realisasi hingga September, bukan proyeksi mengenai besarnya investasi yang akan masuk pada sisa tahun. Penyajian angka ini membantu menempatkan capaian Rp46 triliun dalam konteks target sepanjang 2026. Ukuran persentase juga memperlihatkan porsi sasaran yang telah dipenuhi, sementara angka nominal menunjukkan jarak yang masih tersisa hingga batas target tahunan.

Selain belum mencapai sasaran tahunan, realisasi investasi KEK hingga kuartal III 2026 turun 9,09 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Perbandingan ini merujuk pada rentang Januari–September, sehingga memberikan gambaran perubahan kinerja investasi pada periode yang sepadan, bukan perbandingan dengan keseluruhan tahun sebelumnya. Data realisasi Rp46 triliun, pencapaian 67 persen dari target, serta penurunan tahunan 9,09 persen menjadi indikator utama kinerja KEK yang ditinjau. Angka-angka tersebut mencatat kondisi investasi hingga September tanpa dengan sendirinya menjelaskan faktor yang melatarbelakangi perubahan maupun menentukan hasil pada kuartal IV.

Perbandingan capaian investasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada periode yang sama dalam dua tahun terakhir menunjukkan adanya penurunan. Hingga triwulan III 2025, realisasi investasi KEK tercatat mencapai Rp50,6 triliun. Angka tersebut merupakan data yang dicatat dalam rapat kerja nasional dan evaluasi kinerja KEK, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pembanding untuk membaca capaian pada triwulan III 2026.

Pada periode yang sama pada 2026, realisasi investasi KEK tercatat sebesar Rp46 triliun. Dengan demikian, nilai investasi yang terealisasi hingga triwulan III tahun ini lebih rendah dibandingkan capaian hingga triwulan III tahun sebelumnya. Perbandingan langsung Rp46 triliun pada 2026 dan Rp50,6 triliun pada 2025 menghasilkan selisih nominal sebesar Rp4,6 triliun.

Secara persentase, selisih tersebut setara dengan penurunan tahunan sebesar 9,09 persen. Perhitungan ini menggunakan realisasi Rp50,6 triliun pada triwulan III 2025 sebagai angka dasar, lalu membandingkannya dengan realisasi Rp46 triliun pada triwulan III 2026. Karena kedua angka merujuk pada periode hingga triwulan III, perbandingan tersebut memperlihatkan perubahan capaian investasi KEK dari tahun ke tahun pada rentang waktu yang setara.

Data dalam rapat kerja nasional dan evaluasi kinerja KEK mencatat bahwa investasi hingga triwulan III 2025 mencapai Rp50,6 triliun. Sementara itu, realisasi hingga triwulan III 2026 berada pada Rp46 triliun. Selisih Rp4,6 triliun kedua capaian tersebut menjadi dasar angka penurunan tahunan 9,09 persen. Dengan demikian, angka pembanding tahun sebelumnya menegaskan besaran perubahan yang tercatat, tanpa mengubah periode yang digunakan dalam perbandingan maupun nilai realisasi masing-masing tahun.

Baca juga: Perubahan Jadwal KRL Jabodetabek September 2026: Cek Pembatalan Perjalanan | Penyesuaian Jadwal KRL Jabodetabek hingga Akhir September 2026 | Ragam Acara Menarik di Jakarta Pusat Bulan September 2026

Pos terkait