Jakarta | Kabar duka datang dari Jakarta pada Ahad, 18 Oktober 2026. Prof. KH Syukron Mamun, ulama yang dikenal luas dengan suara dan kritiknya yang kuat, telah wafat pada usia 84 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah. Berita kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang tokoh agama yang namanya lekat dengan ruang dakwah dan pemikiran keislaman di Indonesia.
Informasi mengenai wafatnya Syukron Mamun menjadi kabar yang mengundang perhatian, terutama bagi mereka yang mengikuti kiprahnya sebagai ulama. Dalam menyampaikan berita ini, penting untuk berpegang pada keterangan yang tersedia: ia wafat di Jakarta pada tanggal tersebut, berusia 84 tahun, dan sebelumnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah. Tidak ada keterangan mengenai penyebab wafat maupun rincian perawatan yang dapat ditambahkan. Karena itu, kabar duka ini disampaikan dengan tetap menghormati batas informasi yang telah diketahui.
Kepergian seorang ulama tidak hanya menjadi berita tentang berakhirnya kehidupan seseorang. Momen ini juga mengajak masyarakat mengenang kehadiran tokoh agama dalam kehidupan bersama, serta ruang yang pernah diisi oleh suara dan pandangannya. Bagi banyak orang, kabar wafat dapat menjadi saat untuk berhenti sejenak, menyampaikan doa, dan mengenang hal-hal yang dianggap bermakna dari perjalanan seseorang. Namun, berita ini tidak perlu disertai dugaan atau keterangan yang belum terverifikasi. Yang dapat dipastikan ialah Prof. KH Syukron Mamun wafat pada Ahad, 18 Oktober 2026, di Jakarta, dalam usia 84 tahun, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan menghadapi masa kehilangan ini.
Syukron Mamun dikenal sebagai ulama yang mengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman. Dalam peran tersebut, ia berada dekat dengan kehidupan pesantren dan pendidikan keislaman, sebuah lingkungan yang membentuk keseharian banyak santri melalui pembelajaran agama, pembinaan akhlak, serta kebiasaan hidup bersama. Sosok pengasuh bukan hanya mengelola lembaga, tetapi juga menjadi rujukan bagi komunitas yang tumbuh di dalamnya. Karena itu, kepergiannya menandai hilangnya figur yang memiliki hubungan penting dengan pesantren dan umat yang mengenalnya.
Nama Syukron Mamun juga lekat dengan suara dan kritik yang kuat, sebagaimana tercermin dalam gambaran dirinya sebagai ulama yang berani menyampaikan pandangan. Suara seorang ulama dapat hadir dalam ruang keagamaan dan sosial, dengan perhatian pada persoalan yang dinilai penting bagi masyarakat. Namun, mengenang peran tersebut tidak berarti menambahkan sikap atau pernyataan tertentu yang tidak tercatat. Yang dapat disampaikan adalah bahwa ia dikenang melalui kiprahnya sebagai pengasuh Daarul Rahman dan melalui karakter suaranya yang tegas.
Kepergian Syukron Mamun dirasakan sebagai kehilangan bagi umat Islam. Kehilangan seorang ulama tidak hanya berkaitan dengan wafatnya individu, tetapi juga dengan berakhirnya kehadiran langsung seorang pendidik dan pemimpin di tengah komunitasnya. Bagi lingkungan pesantren, sosok pengasuh memiliki tempat tersendiri karena pengajaran dan keteladanan berlangsung dalam hubungan yang dekat, dari waktu ke waktu. Bagi umat yang lebih luas, wafatnya tokoh agama dapat menjadi pengingat akan peran para ulama dalam kehidupan bersama, sekaligus pentingnya menjaga ilmu dan nilai yang diwariskan.
Dengan demikian, mengenang Syukron Mamun berarti mengingat keterkaitannya dengan Pondok Pesantren Daarul Rahman serta kehadirannya sebagai ulama yang dikenal memiliki suara kuat. Penghormatan terhadap sosoknya dapat disampaikan secara wajar, tanpa mengatasnamakan pihak tertentu atau mengada-adakan reaksi. Kisah tentang kiprahnya memberi ruang untuk memahami arti seorang pengasuh bagi pesantren dan bagi umat yang merasakan kehilangan atas kepergiannya.
Kepergian Syukron Mamun meninggalkan kesan kuat bukan hanya melalui kiprahnya sebagai ulama, tetapi juga lewat cara ia hadir di hadapan jamaah. Suaranya yang menggelegar menjadi ciri yang mudah diingat dan memberi warna tersendiri pada setiap kemunculannya di podium. Bahkan suara seraknya yang khas turut membentuk identitas yang melekat dalam ingatan banyak orang. Kehadirannya dapat segera dikenali oleh jamaah ketika ia naik ke podium, sebelum isi penyampaiannya berkembang lebih jauh. Ciri tersebut menjadikan sosoknya terasa akrab bagi mereka yang mengikuti kiprahnya, sekaligus menegaskan bahwa suara dapat menjadi bagian penting dari cara seorang tokoh menyampaikan kehadiran dan wibawanya di ruang publik keagamaan.
Suara lantang itu berpadu dengan kritik yang dikenal tajam. Kesan yang tertinggal bukan sekadar tentang volume suara, melainkan juga tentang ketegasan dalam menyampaikan pandangan. Ia digambarkan sebagai sosok yang tidak ragu mengutarakan kritik, sehingga kata-katanya memiliki bobot tersendiri di tengah masyarakat. Sikap tersebut membuat kehadirannya di podium terasa lebih dari sekadar penampilan seorang penceramah. Jamaah mengenali suara khasnya, sementara ketajaman kritik menjadi bagian lain dari citra yang melekat pada dirinya. Kedua ciri itu saling melengkapi: suara menggelegar menarik perhatian, sedangkan sikap kritis menunjukkan keberanian menyampaikan pendapat. Dengan demikian, kesan tentang dirinya terbentuk melalui cara berbicara sekaligus keteguhan sikap yang tercermin dalam penyampaiannya.
Keberaniannya berhadapan dengan kekuasaan juga menjadi bagian penting dari kesan yang ditinggalkan. Gambaran tersebut memperlihatkan seorang ulama yang bersedia menyuarakan kritik secara terbuka, tanpa menghilangkan ciri khasnya yang mudah dikenali. Tidak perlu merujuk pada peristiwa tertentu untuk melihat bahwa keberanian itu telah menjadi unsur penting dalam citra publiknya. Bagi jamaah, suara serak yang segera dikenali saat ia naik ke podium dan kritiknya yang tajam merupakan penanda kuat dari sosok Syukron Mamun. Perpaduan suara lantang, ketegasan, dan keberanian itulah yang membuat kepergiannya terasa sebagai kehilangan bagi mereka yang mengingatnya. Warisan kesan tersebut bertahan melalui cara ia menyampaikan pandangan dan keberaniannya menjaga suara kritis di hadapan kekuasaan.
Kabar wafat KH Syukron Ma’mun disampaikan pada Jumat, 27 Desember 2024. Informasi yang beredar menyebut beliau meninggal dunia pada pagi hari di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Dengan demikian, rumah sakit tersebut merupakan lokasi yang disebut dalam kabar duka, sementara waktu yang dapat dinyatakan secara hati-hati adalah pagi hari. Rincian lain mengenai keadaan beliau pada saat itu tidak perlu ditambahkan apabila tidak disertai keterangan yang dapat dipastikan.
Syukron Ma’mun berusia 87 tahun ketika wafat. Angka usia ini menjadi salah satu keterangan yang menyertai pemberitaan tentang kepergiannya. Penyebutan usia memberikan konteks dasar mengenai perjalanan hidupnya, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan kondisi kesehatan atau hal-hal yang terjadi sebelum beliau meninggal. Karena itu, informasi tersebut sebaiknya dipisahkan dari dugaan mengenai penyebab wafat.
Beliau dikenal sebagai pengasuh Pesantren Daarul Rahman. Keterangan mengenai peran ini menempatkan kepergiannya dalam konteks kehidupan pesantren yang selama ini dipimpinnya. Namun, informasi yang tersedia di sini tidak merinci perubahan kepemimpinan setelah wafatnya, susunan keluarga yang ditinggalkan, ataupun agenda pemakaman. Hal-hal tersebut memerlukan sumber dan konfirmasi tersendiri agar tidak tercampur dengan fakta yang telah disebutkan.
Sebelum wafat, Syukron Ma’mun menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah. Fakta tentang perawatan itu dapat dicantumkan bersama waktu dan lokasi kabar duka, tetapi tidak cukup untuk menetapkan diagnosis ataupun penyebab kematian. Dengan demikian, pokok informasi yang dapat disampaikan secara terbatas adalah bahwa ia wafat pada Jumat pagi, 27 Desember 2024, di rumah sakit tersebut, pada usia 87 tahun, dan dikenal sebagai pengasuh Pesantren Daarul Rahman. Penjelasan lebih jauh mengenai kondisi medisnya tidak disertakan tanpa keterangan pendukung yang dapat diverifikasi.
Baca juga: Tragedi kepergian mantan pejabat pertambangan ESDM Jatim









