JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Kejuaraan Daerah (Kejurda) Catur Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 resmi dimulai di The Tavia Heritage Hotel, Jakarta, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Ajang tahunan ini menjadi salah satu agenda penting dalam kalender pembinaan olahraga catur di Ibu Kota, sekaligus mempertemukan para pecatur dari berbagai kelompok usia dan tingkat kemampuan.
Diselenggarakan oleh Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) DKI Jakarta, Kejurda Catur DKI 2026 diikuti 420 pecatur. Peserta berasal dari kategori anak-anak hingga dewasa, sehingga kompetisi ini memberikan ruang bagi atlet muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus menguji kemampuan para pecatur senior. Keberagaman peserta juga mencerminkan luasnya basis pembinaan catur di Jakarta.
Para peserta memperebutkan total hadiah sebesar Rp100 juta. Nilai hadiah tersebut menjadi salah satu daya tarik kompetisi, tetapi tujuan penyelenggaraan kejurda tidak berhenti pada persaingan untuk meraih gelar dan penghargaan. Turnamen ini dirancang sebagai sarana pengembangan prestasi, evaluasi kemampuan atlet, serta pembentukan mental bertanding melalui persaingan yang terukur.
Bagi Percasi DKI Jakarta, kejuaraan daerah memiliki fungsi strategis dalam menyusun peta kekuatan atlet di tingkat daerah. Pertandingan yang berlangsung dapat menjadi bahan penilaian untuk melihat konsistensi permainan, kesiapan menghadapi lawan, dan potensi pecatur yang dapat dibina lebih lanjut. Dari proses tersebut, atlet-atlet terbaik diharapkan mampu mewakili Jakarta dalam kompetisi tingkat nasional maupun internasional.
Selain menjadi wadah kompetisi, Kejurda Catur Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 juga berperan sebagai bagian dari proses penyaringan dan regenerasi atlet. Peserta dari kelompok anak-anak memperoleh kesempatan untuk berkembang sejak dini, sementara pecatur dewasa dapat menjadi tolok ukur sekaligus sumber pengalaman bagi generasi berikutnya. Dengan demikian, penyelenggaraan kejurda diharapkan memperkuat kesinambungan pembinaan dan meningkatkan peluang lahirnya lebih banyak pecatur berprestasi dari DKI Jakarta.
Atlet catur DKI Jakarta, Laysa Latifah, hadir dalam pembukaan Kejuaraan Daerah (Kejurda) Catur DKI Jakarta 2026 dengan membawa pencapaian baru. Laysa baru saja memperoleh gelar Woman Grandmaster (WGM) setelah tampil pada Olimpiade Catur 2026 di Uzbekistan. Kehadirannya menjadi perhatian dalam pembukaan kejurda karena gelar tersebut merupakan pencapaian penting bagi atlet catur asal DKI Jakarta.
Apresiasi atas keberhasilan itu disampaikan oleh Ketua Percasi DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth. Ia memberikan bonus uang pembinaan sebesar Rp50 juta kepada Laysa Latifah sebagai bentuk penghargaan atas raihan gelar WGM. Pemberian bonus tersebut juga menunjukkan dukungan organisasi terhadap atlet yang berhasil mengharumkan nama DKI Jakarta melalui prestasi di tingkat internasional.
Kenneth menyampaikan bahwa dirinya merasa bahagia karena atlet DKI Jakarta berhasil meraih gelar Woman Grandmaster. Menurutnya, pencapaian Laysa sengaja ditampilkan di hadapan para peserta Kejurda Catur DKI Jakarta 2026. Langkah tersebut dilakukan agar keberhasilan Laysa dapat menjadi motivasi bagi atlet-atlet muda yang mengikuti kejuaraan.
Dengan menghadirkan Laysa dalam pembukaan kejurda dan memberikan penghargaan secara langsung, Percasi DKI Jakarta menempatkan prestasi atlet sebagai bagian penting dalam pembinaan catur. Gelar WGM yang diraih setelah penampilan Laysa di Olimpiade Catur 2026 menjadi contoh bagi peserta muda bahwa prestasi dapat menjadi sumber inspirasi dalam perjalanan mereka sebagai atlet. Apresiasi itu sekaligus menegaskan perhatian terhadap perkembangan atlet catur DKI Jakarta.
Keberhasilan Laysa Latifah meraih gelar Woman Grandmaster (WGM) dipandang sebagai bagian penting dari rencana jangka panjang Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) DKI Jakarta. Pencapaian tersebut tidak hanya menambah daftar prestasi catur Jakarta, tetapi juga menunjukkan bahwa pembinaan pecatur muda mulai menghasilkan capaian pada tingkat internasional. Gelar WGM menjadi pijakan bagi Laysa untuk terus berkembang, sekaligus menegaskan bahwa target besar organisasi dapat dibangun melalui proses yang berkelanjutan.
Ketua Percasi DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menyampaikan bahwa organisasi memiliki komitmen untuk melahirkan pecatur bergelar Grandmaster (GM) dari Jakarta. Komitmen itu pernah disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung ketika pengurus Percasi DKI Jakarta dilantik. Pada kesempatan tersebut, Kenneth berjanji untuk mengupayakan lahirnya empat pemegang titel GM asal Jakarta.
Target empat gelar tersebut merupakan agenda jangka panjang yang membutuhkan pembinaan konsisten, kompetisi berjenjang, serta dukungan dari berbagai pihak. Percasi DKI Jakarta perlu memastikan para pecatur memperoleh kesempatan bertanding secara rutin, pengalaman menghadapi lawan kuat, dan pendampingan yang mampu meningkatkan kualitas permainan mereka. Kejurda Catur DKI Jakarta 2026 menjadi salah satu langkah untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji potensi atlet yang diproyeksikan menuju level tertinggi.
Dalam konteks target itu, satu gelar telah tercapai melalui keberhasilan Laysa meraih titel WGM. Kenneth berharap pencapaian tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi pecatur Jakarta lainnya untuk mengikuti jejak Laysa. Namun, capaian satu gelar belum berarti target empat GM telah terpenuhi. Masih ada perjalanan panjang untuk melahirkan tiga pemegang titel GM lainnya. Keberhasilan Laysa diharapkan memperkuat keyakinan bahwa sasaran tersebut dapat diwujudkan melalui kerja pembinaan yang terarah, dukungan pemerintah, dan konsistensi para atlet dalam mengejar prestasi.
Kejurda Catur DKI 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi bagi para pecatur ibu kota, tetapi juga berfungsi sebagai tahapan seleksi untuk menentukan atlet yang akan mewakili DKI Jakarta pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-51. Kejurnas tersebut dijadwalkan berlangsung di Banten pada 23–29 Oktober 2026. Karena itu, setiap pertandingan dalam Kejurda memiliki arti penting bagi atlet yang ingin memperkuat kontingen Jakarta di tingkat nasional.
Para peserta yang mampu meraih hasil terbaik dalam proses seleksi akan memperoleh tiket menuju Kejurnas. Kesempatan ini sekaligus menjadi tantangan bagi atlet untuk menunjukkan kemampuan, konsistensi, serta kesiapan bersaing menghadapi pecatur dari berbagai daerah. DKI Jakarta datang dengan status sebagai juara bertahan, sehingga para wakilnya diharapkan dapat mempertahankan prestasi tersebut dan kembali membawa hasil maksimal dari Banten.
Kenneth berharap atlet yang lolos melalui Kejurda benar-benar memiliki KTP DKI Jakarta atau berdomisili di Jakarta. Menurutnya, aspek tersebut penting untuk memastikan bahwa kontingen yang tampil pada Kejurnas merepresentasikan pembinaan dan potensi pecatur yang berkembang di wilayah ibu kota. Selain kemampuan teknis, proses seleksi juga menjadi sarana untuk menilai kesiapan mental dan daya juang atlet dalam menghadapi persaingan yang lebih luas.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi DKI Jakarta, Andri Yansyah, turut menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi Percasi DKI dalam menggelar kompetisi. Ia menilai kesinambungan turnamen memberikan ruang bagi atlet untuk terus mengasah kemampuan melalui pertandingan yang kompetitif. Semakin banyak pertandingan yang diselenggarakan, semakin besar pula peluang lahirnya atlet berprestasi dan pecatur andal bergelar Grandmaster (GM), sebagaimana ditunjukkan Laysa Latifah setelah meraih gelar Woman Grandmaster (WGM). Kejurda pun diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pembinaan yang berkelanjutan bagi generasi pecatur Jakarta.











