Kabupaten Magelang | Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan kesiapan untuk mendukung Kabupaten Magelang sebagai kawasan baru pengembangan sapi perah. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat produksi susu di daerah sekaligus membantu pencapaian swasembada susu nasional. Dukungan pemerintah tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah ternak, tetapi juga mencakup upaya menjaga kondisi dan kinerja sapi agar produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyampaikan dukungan tersebut saat berada di Magelang pada Jumat. Ia mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa ke sentra sapi perah di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak. Kunjungan itu menjadi kesempatan untuk melihat kegiatan peternakan sekaligus membahas langkah yang diperlukan guna mengembangkan kawasan tersebut. Bagi daerah yang ingin memperluas populasi sapi perah, kesiapan peternak dan layanan pendukung perlu berjalan seiring.
Salah satu perhatian utama adalah pelayanan kesehatan hewan. Penambahan populasi perlu dibarengi pemantauan kesehatan ternak, penanganan penyakit, serta tindakan pencegahan yang memadai. Sapi yang sehat memiliki peluang lebih baik untuk mempertahankan produktivitasnya, sedangkan penyakit yang tidak tertangani dapat mengganggu kondisi ternak dan kegiatan usaha peternak. Karena itu, layanan kesehatan hewan merupakan bagian penting dari pengembangan sentra sapi perah, bukan sekadar bantuan tambahan.
Untuk mendekatkan layanan kepada peternak, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjalankan program kesehatan hewan keliling yang dikenal sebagai Healing. Program ini telah menjangkau 13 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Melalui layanan bergerak tersebut, peternak dapat memperoleh akses yang lebih dekat untuk berkonsultasi mengenai kondisi ternak, pengobatan, maupun pencegahan penyakit. Pendekatan ini juga membantu menghubungkan kebutuhan di lapangan dengan dukungan pemerintah.
Peternak di Magelang dapat berkoordinasi dengan pemerintah provinsi apabila membutuhkan layanan pengobatan atau langkah pencegahan. Koordinasi yang baik membantu penanganan dilakukan sesuai kebutuhan dan lebih dini. Dengan layanan kesehatan yang mendukung, pengembangan sapi perah di Magelang diharapkan dapat menjaga produktivitas ternak, memperkuat usaha peternakan, dan berkontribusi terhadap ketersediaan susu nasional.
Jawa Tengah memiliki posisi penting dalam peta persusuan nasional. Data tahun 2025 mencatat populasi sapi perah di provinsi ini mencapai 77.566 ekor, dengan produksi susu sekitar 75.366 ton. Angka tersebut setara dengan kontribusi 9,66 persen terhadap produksi susu nasional dan menempatkan Jawa Tengah pada peringkat ketiga di tingkat nasional. Capaian ini menunjukkan bahwa provinsi tersebut telah memiliki basis peternakan dan produksi yang berarti, meskipun masih terdapat ruang untuk memperkuat kapasitasnya. Data itu juga menjadi konteks bagi pemerintah daerah dalam menimbang cara mempertahankan produksi dari wilayah yang telah berkembang sekaligus memperluas peluang ke kawasan lain.
Selama ini, kegiatan sapi perah di Jawa Tengah telah terkonsentrasi di sejumlah wilayah yang lebih mapan, terutama Boyolali dan Klaten. Pengembangan di kedua daerah tersebut tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga rantai produksi, termasuk ketersediaan susu dan dukungan bagi peternak. Namun, rencana provinsi tidak hanya bertumpu pada sentra yang sudah dikenal. Pemerintah berupaya membuka peluang kawasan produksi baru di Magelang, Batang, dan Brebes. Langkah tersebut merupakan arah pengembangan, bukan penanda bahwa ketiga wilayah itu telah beroperasi sebagai sentra besar. Potensi masing-masing daerah masih perlu dinilai dan ditindaklanjuti melalui perencanaan, kesiapan sarana, serta keterlibatan pelaku usaha dan peternak.
Penentuan lokasi pengembangan memerlukan pertimbangan yang menyeluruh. Kesesuaian lahan menjadi salah satu faktor, karena kondisi wilayah perlu mendukung pemeliharaan ternak dan kegiatan pendukungnya. Ketersediaan air dan pakan juga penting untuk menjaga kebutuhan harian sapi serta keberlanjutan usaha. Selain itu, akses pasar perlu diperhitungkan agar susu dapat dipasarkan dan didistribusikan secara efisien. Pertimbangan tersebut dapat membantu pemerintah mengenali kendala maupun keunggulan tiap wilayah sebelum menetapkan langkah lanjutan. Dengan demikian, rencana di Magelang, Batang, dan Brebes dapat dipahami sebagai upaya memperluas basis produksi secara bertahap, sambil melengkapi peran Boyolali dan Klaten. Keberhasilannya akan bergantung pada kecocokan sumber daya lokal dengan kebutuhan peternakan dan jaringan pemasaran.Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa menilai Kabupaten Magelang memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai salah satu sentra susu nasional. Wilayah ini dinilai dapat berkontribusi terhadap upaya memenuhi kebutuhan susu dalam negeri sekaligus mendukung target swasembada nasional. Potensi tersebut menjadi alasan pemerintah mempertimbangkan Magelang sebagai lokasi pengembangan persusuan yang lebih terarah. Mustafa menyampaikan bahwa pihaknya akan mengusulkan wilayah tersebut sebagai proyek percontohan, sehingga pendekatan pengembangan dapat dirancang, diuji, dan menjadi bahan pembelajaran bagi daerah lain. Usulan ini mencerminkan harapan agar Magelang tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga contoh bagaimana ekosistem persusuan dibangun secara bertahap dengan memperhatikan kebutuhan peternak dan keberlanjutan usaha di tingkat daerah.
Meski demikian, target swasembada susu bukan sasaran yang mudah dicapai. Mustafa mengakui bahwa pekerjaan tersebut berat, tetapi pemerintah tetap akan mengupayakannya. Pernyataan itu menegaskan perlunya langkah nyata dan konsisten, bukan sekadar mengandalkan potensi alam atau minat masyarakat. Ketersediaan lahan dan kondisi wilayah yang mendukung harus disertai infrastruktur memadai, sumber daya manusia yang terampil, serta kelembagaan peternak yang mampu bekerja secara berkelanjutan. Infrastruktur diperlukan untuk menunjang kegiatan produksi dan penyaluran susu, sementara peningkatan kapasitas peternak penting bagi pengelolaan ternak, mutu produk, dan keberlangsungan usaha. Tanpa unsur-unsur tersebut, peluang daerah berisiko tidak berubah menjadi produksi yang stabil dan berdaya saing.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada koperasi sebagai wadah untuk menghimpun dan memperkuat posisi tawar peternak. Melalui kelembagaan yang berfungsi baik, peternak dapat berkoordinasi, menyusun kebutuhan bersama, serta memiliki suara lebih kuat ketika berhubungan dengan pembeli. Koperasi diharapkan membantu mengurangi ketergantungan pada perantara, yang dapat membatasi kendali peternak atas harga maupun penyaluran hasil. Selain itu, koperasi dapat mendukung pemasaran produksi dengan menghubungkan anggota kepada saluran penjualan yang lebih teratur. Penguatan manajemen, tata kelola, dan kemampuan usaha koperasi menjadi bagian penting dari persiapan. Dengan dukungan kelembagaan tersebut, pengembangan persusuan di Magelang diharapkan memberi manfaat lebih merata, memperkuat usaha peternak, dan menopang upaya peningkatan pasokan susu nasional.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai Kabupaten Magelang memiliki potensi agroklimat yang mendukung pengembangan sapi perah. Kondisi alam di sejumlah wilayah dinilai sesuai untuk kegiatan peternakan, sehingga dapat menjadi dasar bagi perluasan usaha sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Menurutnya, terdapat delapan kecamatan dengan kondisi wilayah yang berpotensi dikembangkan sebagai kawasan sapi perah. Potensi tersebut perlu ditindaklanjuti melalui perencanaan yang memperhatikan karakteristik setempat, kesiapan peternak, serta dukungan sarana dan kelembagaan.
Kecamatan Ngablak menjadi salah satu contoh wilayah yang telah memiliki ekosistem peternakan sapi perah yang berkembang. Aktivitas peternakan dan keberadaan koperasi di kawasan ini memberi pijakan untuk meningkatkan skala produksi. Namun, potensi wilayah belum sepenuhnya diimbangi kapasitas usaha yang memadai. Salah satu kendala utama adalah jumlah populasi ternak yang masih terbatas, sehingga volume susu yang dapat dihimpun belum cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pembeli industri secara langsung.
Di Magelang saat ini terdapat dua koperasi peternak, yaitu Sapto Argo dan Amarto. Masing-masing koperasi masih menghasilkan susu di bawah 2.000 liter per hari. Dengan jumlah produksi tersebut, keduanya belum mencapai kapasitas yang diperlukan untuk memasok langsung ke industri pengolahan susu. Akibatnya, peternak masih mengandalkan perantara dalam menyalurkan hasil produksi.
Baca juga: Transformasi Kawasan Lapangan Banteng yang Ramah untuk Warga Jakarta | Kompetisi Padel Menjadi Ajang Jaringan Pengusaha Muda di Jawa Timur | Revitalisasi Anak Kali Krukut Tanpa Penggusuran: Solusi Mengatasi Kawasan Terabaikan 121 kunjungan










