KOTA JAMBI, JAMBI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, PT Permodalan Nasional Madani (Persero), atau PNM, mendukung pelestarian batik melalui pemberdayaan perempuan yang menggantungkan penghasilan dari usaha membatik. Dukungan tersebut menempatkan para perajin perempuan sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan batik, bukan hanya sebagai karya budaya, tetapi juga sebagai sumber penghidupan. Melalui tangan mereka, proses membatik terus berlangsung dan warisan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Setiap lembar batik berkaitan dengan kerja para perajin di berbagai pelosok negeri. Di balik motif, warna, dan susunan coraknya, terdapat ketekunan perempuan yang merawat keterampilan membatik sekaligus mempertahankan nilai budaya yang melekat di dalamnya. Kegiatan membatik menjadi ruang bagi para perajin untuk menghasilkan pendapatan, sementara karya yang mereka hasilkan turut menjaga keberadaan batik sebagai warisan Nusantara. Karena itu, pelestarian batik tidak dapat dipisahkan dari penguatan peran para perajin yang membuatnya.
Upaya PNM tersebut memiliki makna penting dalam menyambut dan memperingati Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa batik tetap hidup karena dikerjakan, dirawat, dan diteruskan oleh para perajin. Dukungan terhadap perempuan yang menekuni usaha membatik turut menjaga agar warisan budaya tersebut terus hadir melalui karya nyata. Dengan memperhatikan kehidupan para perajin di berbagai daerah, pelestarian batik berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat yang menjadi bagian dari keberlangsungannya.
Program klasterisasi PNM merupakan bentuk pelatihan berseri yang dilaksanakan secara berkelompok untuk membantu para perajin batik mengembangkan usahanya secara lebih terarah. Dalam program ini, para pengusaha batik dengan karakteristik dan kebutuhan yang sejenis dikumpulkan di satu wilayah. Pengelompokan tersebut memungkinkan materi pembekalan disusun sesuai kondisi usaha peserta, mulai dari penguatan keterampilan produksi hingga pengelolaan bisnis.
Pendekatan berkelompok memberikan manfaat penting bagi perajin, terutama karena proses pengembangan usaha tidak perlu dijalani seorang diri. Para peserta dapat saling bertukar pengalaman, mendiskusikan tantangan yang dihadapi, serta menemukan solusi berdasarkan praktik yang telah dilakukan oleh sesama pelaku usaha. Interaksi ini juga mendorong terbentuknya jejaring perajin, sehingga peluang kolaborasi dalam produksi, pemasaran, dan pengembangan motif dapat semakin terbuka.
Klasterisasi PNM telah dilaksanakan di sejumlah daerah yang memiliki potensi batik, yaitu Jambi, Madiun, Magelang, dan Lamongan. Setiap wilayah memiliki karakter budaya, motif, teknik, serta kondisi pasar yang berbeda. Karena itu, pelatihan yang diberikan melalui klaster dapat lebih dekat dengan kebutuhan lokal. Perajin tidak hanya memperoleh pengetahuan umum, tetapi juga mendapatkan pembekalan yang relevan dengan lingkungan usaha dan kekhasan batik di daerah masing-masing.
Melalui rangkaian pelatihan tersebut, PNM berupaya memperkuat kapasitas para pembatik secara berkelanjutan. Dukungan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan membuat produk, tetapi juga diarahkan untuk membantu pelaku usaha memahami pentingnya konsistensi mutu, pengembangan produk, serta pemasaran yang sesuai dengan perubahan kebutuhan konsumen. Dengan adanya pendampingan dalam komunitas, para perajin memiliki ruang untuk bertumbuh bersama dan menjaga keberlangsungan usaha.
Klasterisasi dengan demikian menjadi bagian dari dukungan PNM terhadap keberlanjutan usaha para pembatik. Program ini menyatukan potensi lokal, memperkuat rasa percaya diri pelaku usaha, dan membantu warisan batik tetap hidup melalui kegiatan ekonomi yang adaptif. Ketika keterampilan, jejaring, dan pengelolaan usaha dibangun secara bersamaan, perajin perempuan maupun pelaku batik lainnya memiliki dasar yang lebih kuat untuk mempertahankan serta mengembangkan usahanya.
Pelaksanaan klasterisasi PNM diwujudkan melalui pendampingan yang menyesuaikan potensi dan kebutuhan setiap daerah. Di Jambi, program ini menghadirkan pelatihan membatik bagi perajin perempuan, mulai dari pengenalan motif, teknik pencantingan, hingga proses pewarnaan dan penyelesaian kain. Pendampingan diberikan secara bertahap agar peserta tidak hanya mampu menghasilkan batik, tetapi juga memahami standar kualitas, efisiensi produksi, serta cara mengembangkan produk sesuai selera pasar. Selain peningkatan keterampilan, perajin memperoleh akses pemasaran sehingga karya mereka memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau konsumen di tingkat lokal maupun lebih luas.
Contoh lain terdapat di Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Di wilayah ini, peserta mengikuti pelatihan batik ecoprint yang memanfaatkan bentuk dan pigmen alami dari daun, bunga, serta tanaman di sekitar. Materi tersebut memperluas kreativitas perajin sekaligus menambah pengetahuan mengenai komposisi motif, pemilihan bahan, dan teknik pemindahan warna ke kain. Pengembangan ecoprint memberi alternatif bagi perajin yang ingin memperkaya produk tanpa meninggalkan akar tradisi membatik yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Di Desa Gandusari, Magelang, PNM membentuk kampung binaan batik yang dilengkapi tempat pelatihan dan alat pengunci warna. Fasilitas ini mendukung proses belajar yang lebih terarah serta membantu menjaga ketahanan warna agar produk tampak lebih baik dan memiliki nilai jual. Para nasabah dilatih oleh trainer sehingga dapat mengembangkan keterampilan dari batik tradisional menuju ecoprint. Pelatihan pewarnaan juga menjadi bagian penting karena kualitas warna menentukan daya tahan, keindahan, dan konsistensi produk.
Manfaat klasterisasi tidak berhenti pada nasabah PNM. Tempat pelatihan dan peralatan yang tersedia dapat digunakan oleh masyarakat sekitar, termasuk warga yang bukan nasabah. Dengan demikian, fasilitas tersebut menjadi ruang belajar bersama untuk bertukar pengalaman, mengembangkan inovasi, dan memperkuat ekosistem perajin. Pendekatan ini mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi berbasis komunitas sekaligus membantu menjaga keberlanjutan warisan batik Nusantara.
Direktur Utama PNM, Kindaris, menegaskan bahwa dukungan terhadap batik tidak dapat dipisahkan dari upaya memperkuat para pembatik sebagai pelaku utama di balik warisan budaya tersebut. Bagi PNM, menjaga batik bukan hanya tentang mempertahankan motif, teknik, dan nilai sejarah, tetapi juga memastikan pembuatnya memiliki kesempatan untuk terus berkarya dan mengembangkan usaha. Karena itu, PNM menghadirkan dukungan melalui pembiayaan serta program pemberdayaan yang disusun dengan pendekatan klasterisasi.
Menurut Kindaris, klasterisasi juga membuka kesempatan bagi para pembatik untuk belajar serta menggunakan fasilitas secara bersama. Pola ini mendorong terbentuknya hubungan yang lebih erat antarpelaku usaha. Mereka dapat bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan mengenai produksi dan pemasaran, serta saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Dengan demikian, pembatik tidak berjalan sendirian, melainkan tumbuh dalam lingkungan yang mengedepankan kolaborasi dan semangat gotong royong.
Klasterisasi menjadi salah satu bentuk dukungan PNM pada Hari Batik Nasional, ketika batik Indonesia diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Pengakuan tersebut membawa tanggung jawab untuk menjaga batik agar tetap hidup di tengah masyarakat dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Bagi PNM, merawat batik berarti memastikan para pembatik tetap berdaya: memiliki akses terhadap pembiayaan, pengetahuan, fasilitas, dan jejaring yang dapat memperkuat keberlangsungan usaha mereka.










