DEPOK, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Sejumlah mahasiswa IPB University menyampaikan keluhan mengenai keberadaan seorang pria yang disebut berulang kali terlihat berdiri diam di sisi jalan kawasan Bara-Balio, Dramaga, Bogor. Sosok tersebut menjadi perhatian karena berada di lokasi yang cukup sering dilalui mahasiswa dalam aktivitas sehari-hari. Keluhan itu terutama muncul dari mahasiswa yang merasa kurang nyaman ketika harus melewati kawasan tersebut dan mendapati pria yang sama atau seseorang dengan ciri serupa berada di pinggir jalan.
Kawasan Bara-Balio merupakan salah satu jalur yang banyak digunakan mahasiswa IPB University, termasuk ketika mereka pulang atau bepergian pada malam hari. Kondisi jalan yang tetap dilalui setelah kegiatan perkuliahan, organisasi, maupun aktivitas lain membuat rasa aman menjadi perhatian penting. Dalam situasi seperti itu, keberadaan seseorang yang berulang kali terlihat berdiri tanpa aktivitas yang jelas dapat menimbulkan pertanyaan dan kewaspadaan, meskipun belum diketahui maksud atau latar belakangnya.
Informasi mengenai pria tersebut beredar melalui unggahan dan percakapan di media sosial. Sejumlah mahasiswa membagikan pengalaman mereka sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi lingkungan sekitar kampus dan jalur yang biasa digunakan. Namun, sampai informasi ini disampaikan, keluhan tersebut tidak dapat disamakan dengan laporan resmi mengenai tindak kriminal. Belum ada keterangan yang memastikan bahwa pria itu melakukan pelanggaran atau tindakan berbahaya. Karena itu, informasi yang beredar perlu disikapi secara hati-hati dengan membedakan rasa tidak nyaman, pengamatan pribadi, dan fakta yang telah diverifikasi. Mahasiswa tetap diimbau memperhatikan keselamatan saat melintas, terutama pada malam hari, serta menyampaikan kejadian kepada pihak kampus, pengelola kawasan, atau aparat apabila menemukan situasi yang dianggap mengancam.
Seorang mahasiswa IPB membagikan pengalamannya melalui Threads mengenai sosok pria yang beberapa kali ia lihat berdiri di sisi Jalan Bara-Balio. Dalam unggahan tersebut, mahasiswa itu menyebut bahwa pria yang sama tampak berada di kawasan tersebut pada waktu yang berbeda. Ia melihatnya bukan hanya pada siang hari, tetapi juga ketika malam mulai larut. Keterangan itu kemudian menarik perhatian mahasiswa lain yang mengenal atau kerap melintasi jalur tersebut.
Berdasarkan cerita yang beredar dalam unggahan itu, pria tersebut biasanya berdiri di tepi jalan tanpa aktivitas yang dijelaskan secara terperinci. Tidak disebutkan apakah ia sedang menunggu seseorang, beristirahat, atau memiliki keperluan tertentu di lokasi itu. Karena informasi mengenai tujuan dan kegiatannya belum diketahui, pengamatan mahasiswa tersebut masih berupa kesaksian personal mengenai keberadaan sosok yang dinilai muncul berulang kali.
Kebiasaan berdiri diam di tempat yang tidak lazim bagi pejalan kaki membuat sebagian mahasiswa merasa kurang nyaman. Kekhawatiran terutama dirasakan oleh mereka yang pulang pada malam hari dan harus melewati kawasan Jalan Bara-Balio dalam kondisi jalan yang lebih sepi. Pada waktu seperti itu, kehadiran seseorang yang terlihat berdiri tanpa aktivitas yang jelas dapat memunculkan kewaspadaan, meskipun belum ada keterangan bahwa pria tersebut melakukan tindakan mengganggu atau melanggar hukum.
Unggahan mahasiswa itu pada akhirnya menjadi ruang berbagi pengalaman bagi warga kampus yang memiliki rute perjalanan serupa. Sejumlah mahasiswa diingatkan untuk tetap memperhatikan lingkungan sekitar, khususnya saat berjalan sendirian pada malam hari. Mereka juga dapat memilih melintas bersama teman, memberi tahu orang terdekat mengenai rute perjalanan, dan menghindari kesimpulan terburu-buru sebelum terdapat informasi yang lebih jelas mengenai sosok tersebut.
Akun @shyfiony menyampaikan pengalaman pribadi mengenai keberadaan seorang pria yang kerap terlihat berdiri di sisi Jalan Bara-Balio. Dalam unggahannya, mahasiswa tersebut menggambarkan sosok itu memiliki gelagat yang menurutnya terasa aneh. Pengamatan tersebut kemudian memunculkan rasa tidak aman dan tidak nyaman, terutama ketika ia harus pulang pada malam hari. Perasaan itu disampaikan berdasarkan situasi yang dialaminya dan cara ia memaknai keberadaan pria tersebut di sekitar jalan.
Dalam lanjutan unggahannya, @shyfiony mengakui bahwa pria itu pada dasarnya hanya berdiri diam. Namun, sikap tersebut justru dinilainya janggal karena tatapan pria itu disebut tampak kosong. Ia juga menyebut keberadaan sosok tersebut terlihat pada waktu yang berbeda, baik siang maupun malam. Pola kemunculan yang terus diperhatikan itu membuatnya semakin waspada saat melintasi lokasi tersebut, khususnya ketika kondisi jalan lebih sepi dan aktivitas warga mulai berkurang.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran dari sudut pandang mahasiswa yang bersangkutan. Rasa tidak nyaman itu tidak serta-merta berarti pria tersebut telah melakukan tindakan melanggar hukum atau mengganggu orang lain. Sampai pada konteks unggahan tersebut, penilaian mengenai gelagat, tatapan, dan keberadaannya merupakan pengalaman serta persepsi pribadi @shyfiony. Karena itu, informasi tersebut perlu dipahami secara proporsional, dengan membedakan perasaan aman seseorang ketika berada di ruang publik dan bukti faktual mengenai adanya pelanggaran.
Unggahan itu sekaligus memperlihatkan bagaimana situasi yang tampak sederhana, seperti seseorang berdiri diam di tepi jalan, dapat menimbulkan kekhawatiran apabila berlangsung berulang dan dipersepsikan tidak biasa. Pengalaman tersebut menjadi alasan mahasiswa menyampaikan perhatian publik terhadap lokasi itu, tanpa memberikan kesimpulan pasti mengenai maksud atau tindakan pria yang diamatinya.
Hingga informasi ini disusun, belum ada keterangan terverifikasi yang menunjukkan bahwa pria yang kerap terlihat berdiri di sisi jalan Bara-Balio melakukan tindakan kriminal atau mengancam keselamatan mahasiswa. Sorotan yang beredar lebih banyak berangkat dari pengamatan mengenai keberadaannya yang dianggap tidak biasa, terutama karena ia disebut sering berada di lokasi yang sama dan berdiri dalam waktu tertentu.
Kekhawatiran tersebut juga berkaitan dengan posisi pria itu yang disebut berada di sisi jalan, bukan di atas trotoar. Lokasinya dinilai cukup dekat dengan jalur kendaraan, sehingga keberadaannya menimbulkan pertanyaan mengenai aspek keselamatan, baik bagi pejalan kaki maupun pengendara yang melintas. Dalam situasi seperti ini, perhatian publik dapat dipahami sebagai bentuk kewaspadaan, tetapi tidak seharusnya langsung diarahkan menjadi tuduhan tanpa dasar yang jelas.
Belum terdapat informasi yang memastikan bahwa pria tersebut mengganggu arus lalu lintas, membahayakan pengguna jalan, atau melakukan tindakan yang meresahkan secara langsung. Demikian pula, belum ada penjelasan resmi yang menyatakan bahwa ia membutuhkan bantuan tertentu, mengalami kondisi khusus, atau memiliki tujuan tertentu ketika berada di kawasan tersebut. Karena itu, pemaknaan atas keberadaannya masih perlu ditempatkan secara hati-hati sambil menunggu keterangan dari pihak terkait.
Pengguna jalan tetap dapat meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga jarak aman dan memperhatikan kondisi sekitar, terutama ketika melintas di area yang ramai kendaraan. Apabila ditemukan perilaku yang benar-benar mengganggu, membahayakan, atau membutuhkan penanganan, laporan sebaiknya disampaikan kepada petugas berwenang dengan menyertakan waktu, lokasi, dan fakta yang dapat diverifikasi. Pendekatan tersebut membantu menjaga keamanan sekaligus mencegah penyebaran asumsi yang belum terbukti.










