Yogyakarta | Perum Bulog memperkenalkan nama dan tampilan baru untuk beras medium dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yaitu “Beras Kita Medium”. Peluncuran identitas tersebut berlangsung di Balai Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (20/10). Pembaruan ini menandai hadirnya identitas baru bagi beras SPHP medium, bukan peluncuran program pangan yang berbeda.
Dengan nama dan tampilan baru, produk beras medium SPHP diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya Bulog dalam menyampaikan informasi mengenai beras program tersebut. Nama “Beras Kita Medium” menjadi penanda yang dapat membantu masyarakat mengenali produk yang sebelumnya disebut beras SPHP medium. Perubahan identitas ini berfokus pada penyebutan dan tampilan produk, sementara konteksnya tetap berada dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan.
Pemilihan Potorono sebagai lokasi peluncuran menempatkan pengenalan identitas baru ini di wilayah Kabupaten Bantul. Acara berlangsung di balai kalurahan setempat, di Kapanewon Banguntapan. Informasi mengenai nama produk, jenis beras, program yang menaunginya, serta lokasi dan waktu peluncuran menjadi pokok peristiwa yang disampaikan kepada publik.
Perlu dibedakan perubahan identitas produk dan perubahan program. Beras Kita Medium bukan program baru yang menggantikan SPHP, melainkan nama baru untuk beras medium yang berada dalam program tersebut. Dengan demikian, penyebutan Beras Kita Medium merujuk pada beras SPHP medium yang diperkenalkan dengan tampilan dan identitas berbeda. Penjelasan ini penting agar masyarakat tidak menganggap pengenalan tersebut sebagai peluncuran skema pangan yang terpisah.
Peluncuran di Bantul itu memperkenalkan cara baru untuk mengenali beras medium SPHP melalui nama Beras Kita Medium. Fokus kegiatan adalah identitas produk, sedangkan keterkaitannya dengan program stabilisasi pasokan dan harga tetap menjadi bagian utama dari pengenalan. Masyarakat dapat memahami bahwa nama baru tersebut mengacu pada beras medium dalam program SPHP, yang diperkenalkan Bulog di Balai Kalurahan Potorono pada Selasa (20/10).Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa pembaruan identitas beras SPHP medium tidak semata-mata berkaitan dengan perubahan tampilan wadah. Nama dan kemasan yang diperkenalkan kembali tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari upaya memperkuat identitas produk di tengah masyarakat. Dengan demikian, perubahan yang terlihat pada kemasan membawa pesan yang lebih luas daripada aspek visual, yakni penegasan terhadap peran beras SPHP dalam mendukung agenda pangan nasional.
Penjelasan itu menempatkan pembaruan sebagai langkah strategis Bulog untuk menguatkan pengenalan beras SPHP sekaligus menyampaikan semangat yang melekat pada produk tersebut. Identitas yang lebih jelas diharapkan dapat menghubungkan nama beras SPHP dengan tujuan penyediaannya: menghadirkan beras berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Pernyataan tersebut menggambarkan arah dan maksud pembaruan, tanpa mengubah pesan dasarnya bahwa beras SPHP ditujukan untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks kemandirian pangan nasional, penguatan identitas beras SPHP menjadi bagian dari upaya Bulog untuk menegaskan kontribusi produk tersebut terhadap agenda yang lebih besar. Rizal memaknai nama dan kemasan baru sebagai sarana membawa semangat keterjangkauan dan kualitas kepada publik, bukan sebagai tujuan tersendiri. Karena itu, pembaruan ini perlu dipahami sebagai penegasan identitas sekaligus pesan mengenai tujuan program. Fokusnya adalah memperkuat pengenalan beras SPHP dan menyampaikan komitmen menghadirkan beras berkualitas dengan harga terjangkau, sejalan dengan dukungan terhadap kemandirian pangan nasional.
Beras Kita Medium dari Perum Bulog tersedia dalam kemasan berukuran lima kilogram. Ukuran ini menjadi bagian dari identitas baru beras SPHP medium yang diperkenalkan Bulog di Bantul. Informasi mengenai kemasan tersebut membantu masyarakat mengenali produk saat mencari beras untuk kebutuhan rumah tangga. Selain mencantumkan jenis beras dan ukuran, tampilan kemasan dirancang untuk menyampaikan pesan yang lebih luas tentang pangan nasional. Unsur visualnya mengangkat nilai patriotisme, ketahanan pangan, serta semangat swasembada beras. Dengan demikian, identitas kemasan tidak hanya berfungsi sebagai penanda produk, tetapi juga membawa tema yang berkaitan dengan upaya menjaga ketersediaan pangan di Indonesia.
Nilai patriotisme dalam desain menempatkan beras sebagai bagian dari kepentingan bersama, sementara tema ketahanan pangan mengingatkan bahwa ketersediaan bahan pokok berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Semangat swasembada beras nasional juga menjadi pesan yang tercermin melalui identitas baru tersebut. Ketiga nilai itu disampaikan lewat kemasan Beras Kita Medium tanpa mengubah penjelasan mengenai ukuran produk: satu kemasan berisi lima kilogram. Penyampaian pesan melalui desain memberi konteks bagi masyarakat untuk memahami arah komunikasi Bulog, yaitu menghubungkan beras dengan ketahanan pangan dan cita-cita memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri. Makna tersebut merupakan tema identitas, bukan keterangan tambahan tentang karakteristik atau kandungan produk.
Bulog menjelaskan filosofi Beras Kita sebagai “beras keluarga Indonesia sejahtera”. Filosofi ini bertumpu pada pemahaman bahwa ketahanan pangan nasional berawal dari terpenuhinya kebutuhan gizi setiap keluarga. Dengan kata lain, kondisi pangan di tingkat nasional memiliki kaitan dengan pemenuhan kebutuhan keluarga sehari-hari. Pernyataan tersebut menyampaikan cara Bulog memaknai hubungan keluarga, kebutuhan gizi, dan ketahanan pangan. Namun, filosofi itu tidak dimaksudkan sebagai jaminan atau klaim tambahan mengenai kandungan gizi Beras Kita Medium. Pesan tersebut menjelaskan nilai yang ingin diangkat melalui identitas produk, bukan memberikan informasi komposisi atau manfaat gizi khusus. Karena itu, konsumen dapat membedakan filosofi kemasan dan informasi faktual mengenai produk yang tersedia dalam ukuran lima kilogram.
Ahmad Rizal menjelaskan bahwa pembaruan tampilan kemasan Beras Kita tidak semata-mata berkaitan dengan identitas produk. Di balik desain baru tersebut, Bulog ingin menghadirkan pesan tentang hubungan lembaga dengan masyarakat, terutama keluarga-keluarga di Indonesia. Beras merupakan kebutuhan pokok yang hadir dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kemasannya dipandang sebagai salah satu cara untuk memperlihatkan kedekatan Bulog dengan rumah tangga yang mengandalkan pangan tersebut. Melalui identitas yang lebih mudah dikenali, Beras Kita diharapkan mencerminkan peran Bulog dalam kehidupan masyarakat tanpa menghilangkan perhatian terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaan beras.
Filosofi kemasan itu juga memuat apresiasi kepada petani. Ahmad Rizal menyebut petani sebagai fondasi kekuatan pangan bangsa, mengingat peran mereka dalam menghasilkan bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat. Dengan menempatkan penghargaan terhadap petani sebagai bagian dari pesan Beras Kita, Bulog menegaskan bahwa identitas produk tersebut tidak hanya berbicara kepada konsumen. Pesan itu turut mengakui kontribusi para pelaku di tingkat produksi, yang menjadi bagian penting dalam sistem pangan. Karena itu, kemasan baru dipaparkan sebagai simbol yang menghubungkan kedekatan dengan keluarga Indonesia dan penghormatan kepada petani.
Ahmad Rizal turut mengaitkan langkah pengenalan identitas baru ini dengan momentum dua tahun kepemimpinan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Penyebutan momentum tersebut menjadi konteks bagi Bulog dalam memperkenalkan filosofi kemasan Beras Kita. Dalam penjelasan yang disampaikan, fokusnya adalah pada makna simbolis produk: kedekatan lembaga dengan keluarga Indonesia serta apresiasi terhadap petani sebagai fondasi kekuatan pangan bangsa. Dengan demikian, pembaruan identitas diposisikan sebagai cara menyampaikan nilai-nilai tersebut kepada publik. Penjelasan ini tidak dengan sendirinya menyatakan perubahan pada kebijakan, ketersediaan, ataupun perkembangan penyaluran beras; hal-hal yang disebutkan berkenaan dengan tujuan dan pesan di balik kemasan.
Baca juga: Mengenal Anggota NO NA yang Hafal Identitas Indonesia










