Kabupaten Seruyan | Letkol Cpn (Anm) Dudi Firmansyah dan Kapten Cpn (Anm) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio gugur dalam kecelakaan helikopter saat menjalankan tugas dalam operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Keduanya merupakan prajurit Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Puspenerbad) yang terlibat dalam misi tersebut. Kepergian mereka menjadi kehilangan bagi keluarga, rekan sesama prajurit, serta institusi yang mereka abdikan.
Dalam menjalankan tugas, personel Puspenerbad mendukung operasi penanganan kebakaran melalui pengerahan helikopter. Misi pemadaman di wilayah Seruyan merupakan bagian dari upaya menghadapi kebakaran hutan dan lahan, yang dapat menimbulkan dampak bagi masyarakat dan lingkungan. Kedua prajurit itu gugur ketika bertugas dalam operasi tersebut. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan penyebab kecelakaan, sehingga tidak ada dasar untuk menyimpulkan faktor yang memicu peristiwa itu.
TNI Angkatan Darat menyampaikan penghormatan dan duka cita atas gugurnya Letkol Cpn (Anm) Dudi Firmansyah dan Kapten Cpn (Anm) Nurhafiz Akbar Rizki Hartio. Pernyataan tersebut menjadi bentuk penghargaan atas pengabdian keduanya dalam menjalankan tugas negara. Di tengah kabar duka, perhatian juga tertuju kepada keluarga yang ditinggalkan dan rekan-rekan yang bertugas bersama mereka.
Peristiwa ini mengingatkan kembali pada risiko yang dihadapi personel ketika melaksanakan tugas operasi, termasuk dukungan udara dalam penanganan kebakaran. Namun, penghormatan terhadap kedua prajurit tidak mengurangi pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan informasi mengenai kecelakaan. Rincian yang belum dipastikan perlu menunggu keterangan resmi, sementara fakta yang telah disampaikan adalah bahwa keduanya gugur saat menjalankan misi pemadaman di Kabupaten Seruyan.
Nama dan pengabdian kedua prajurit tersebut patut dikenang sebagai bagian dari tugas kemanusiaan dan pelayanan kepada masyarakat. TNI AD menyampaikan belasungkawa kepada keluarga serta memberikan penghormatan atas dedikasi mereka. Di saat pencarian korban lain masih berlanjut, perhatian publik juga tertuju pada perkembangan upaya di lapangan. Doa dan dukungan bagi keluarga yang berduka diharapkan dapat menjadi penguat dalam menghadapi kehilangan ini.
Kedua jenazah prajurit Penerbad diberangkatkan dari Kuala Pembuang menuju Semarang pada Kamis pagi, 5 November 2026. Perjalanan dilakukan menggunakan pesawat CASA 212 A-9035. Setibanya di Lanumad Ahmad Yani, Semarang, jenazah disemayamkan terlebih dahulu sebelum menjalani proses pemberangkatan ke lokasi pemakaman masing-masing. Tahapan tersebut menjadi bagian dari penghormatan militer kepada para prajurit yang gugur saat menjalankan misi pemadaman.
Setelah disemayamkan di Semarang, jenazah Dudi Firmansyah direncanakan dibawa ke rumah duka. Dari sana, ia akan diberangkatkan untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung. Upacara pemakaman militer Dudi direncanakan dipimpin Panglima TNI yang bertindak sebagai inspektur upacara. Prosesi itu akan mengiringi penghormatan terakhir kepada Dudi sebelum jenazah dikebumikan di tempat peristirahatan yang telah ditentukan.
Dudi Firmansyah menjabat sebagai Kadep Pengembangan Pusdikk penerbad. Sementara itu, Nurhafiz Akbar Rizki Hartio tercatat menjabat sebagai Pabang 2 Siud Heli Serbu II Flite Heli C Dron 31/AYC. Penyebutan jabatan tersebut mengikuti keterangan yang disampaikan, tanpa memperluas singkatan atau mengubah susunan nama jabatan. Keduanya merupakan prajurit yang berada dalam misi ketika insiden terjadi.
Nurhafiz Akbar Rizki Hartio direncanakan dimakamkan di TMP Giri Tunggal, Semarang. Upacara pemakamannya akan dipimpin Kepala Staf Angkatan Darat. Dengan demikian, setelah tiba dan disemayamkan di Lanumad Ahmad Yani, jenazah Nurhafiz akan menjalani prosesi tersendiri di Semarang, sedangkan jenazah Dudi melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Pengaturan tersebut memungkinkan masing-masing prajurit dimakamkan di lokasi yang telah ditetapkan, dengan penghormatan militer sesuai rencana upacara.
Pemberangkatan menggunakan CASA 212 A-9035 menghubungkan Kuala Pembuang dengan Semarang sebagai tahap awal pemulangan kedua jenazah. Dari titik kedatangan itu, rangkaian perjalanan dilanjutkan sesuai tujuan akhir pemakaman: Bandung untuk Dudi dan Semarang untuk Nurhafiz. Keluarga dan jajaran TNI akan mengiringi proses penghormatan tersebut. Rencana upacara yang melibatkan Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat menegaskan penghormatan institusi kepada keduanya, sembari pencarian korban lain dalam misi tersebut masih berlanjut.
Pencarian dan evakuasi terhadap satu prajurit yang belum ditemukan masih berlangsung di lokasi kejadian. Tim gabungan terus menyisir area jatuhnya helikopter untuk menemukan korban dan membawa korban keluar dari lokasi. Upaya tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi perairan yang dinilai menyulitkan proses pencarian. Hingga pencarian berlanjut, informasi yang tersedia belum menyatakan bahwa prajurit tersebut telah ditemukan. Karena itu, operasi di lapangan tetap diarahkan untuk mencari korban yang masih hilang, sekaligus mendukung proses evakuasi apabila korban berhasil ditemukan.
Kapendam XXII/Tambun Bungai Kolonel Arh Dodo Sahata menyampaikan bahwa pencarian melibatkan personel TNI, Polri, Basarnas, dan BPBD. Tim gabungan menggunakan perahu landing craft rubber (LCR) untuk bergerak dan melakukan penyisiran di sekitar lokasi. Penggunaan perahu tersebut menjadi bagian dari upaya menjangkau area pencarian di tengah kondisi sungai yang tidak mudah. Personel dari berbagai unsur bekerja dalam operasi yang sama, sementara perkembangan pencarian dan evakuasi bergantung pada situasi di lapangan serta keselamatan tim yang bertugas.
Sejumlah kendala dilaporkan selama penyisiran. Air di sekitar lokasi keruh, arus sungai deras, dan terdapat tumpahan minyak di area jatuhnya helikopter. Kondisi itu dapat membatasi jarak pandang serta menyulitkan pergerakan perahu dan pencarian di permukaan maupun sekitar titik kejadian. Menjelang siang, air mulai pasang dan arus disebut semakin kuat, sehingga tim harus menghadapi perubahan kondisi perairan saat operasi berlangsung. Keterangan mengenai kondisi tersebut disampaikan sebagai faktor yang memengaruhi proses pencarian, bukan sebagai penanda bahwa operasi telah dihentikan.
Nama prajurit yang belum ditemukan disebut sebagai Heri Prasetyo. Namun, penyebutan pangkat dalam bahan keterangan tidak seragam: pada satu bagian ia disebut Sertu, sedangkan dalam pernyataan Kapendam disebut Serda. Perbedaan itu perlu dicatat apa adanya dan tidak dapat diselaraskan tanpa keterangan tambahan. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan alasan perbedaan penyebutan tersebut. Sementara itu, tim gabungan tetap melanjutkan pencarian menggunakan LCR di tengah air keruh, arus yang kian kuat, pasang, serta tumpahan minyak di sekitar lokasi. Proses evakuasi akan mengikuti hasil pencarian dan kondisi yang memungkinkan di lapangan.
Sekitar pukul 13.00 WIB pada Kamis, tim penyelam Basarnas menghentikan sementara kegiatan penyelaman dalam operasi pencarian korban. Keputusan tersebut diambil setelah kondisi perairan dinilai berisiko bagi keselamatan personel. Dengan mempertimbangkan keadaan di lapangan, keselamatan penyelam menjadi perhatian utama sebelum pencarian dapat dilanjutkan. Penghentian ini bersifat sementara, bukan penutupan operasi, sementara tim menunggu perkembangan kondisi alam untuk menentukan langkah berikutnya.
Perubahan kondisi perairan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam kegiatan pencarian, terutama ketika personel harus bekerja di bawah permukaan air. Tim perlu menilai situasi sebelum kembali melakukan penyelaman, agar upaya menemukan korban tidak menambah risiko bagi anggota yang bertugas. Perkembangan alam akan dipantau dan menjadi dasar untuk memutuskan waktu serta cara pencarian selanjutnya. Sampai keputusan lanjutan dibuat, kegiatan penyelaman ditunda demi menjaga keselamatan tim Basarnas.
Penghentian penyelaman tersebut perlu dibedakan dari evakuasi lima prajurit yang sebelumnya berhasil diselamatkan. Pada pukul 10.10 WIB, mereka diberangkatkan menuju Banjarmasin menggunakan helikopter Penerbad untuk memperoleh perawatan medis. Kelima prajurit itu adalah Kapten Cpn Febri, Letda Cpn Frjiz, Pratu Gilang, Serka Kadia, dan Kapten Suganda. Mereka mengalami luka yang cukup serius serta trauma, sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.
Evakuasi itu merupakan langkah.
Baca juga: Operasi SAR KM Virgo Transport 8 Memasuki Hari ke-21, Pencarian 55 Korban Diperluas | Pesan Prabowo pada HUT Ke-81 TNI: Kekuatan Prajurit Berasal dari Rakyat | Kasum TNI : Mahasiswa dan Prajurit TNI Meriahkan Tinju Amatir Rakyard Rumble Piala Panglima TNI 237 kunjungan









