Empat Kawasan Gunung di Jawa Timur Dilanda Karhutla, Pemadaman Terkendala Akses

Api Belum Padam di Empat Kawasan Gunung Jawa Timur

Medan | Hingga Selasa, 20 Oktober, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di empat kawasan gunung dan pegunungan di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, wilayah terdampak meliputi Gunung Bromo di Probolinggo, Gunung Arjuno-Welirang di Pasuruan, Gunung Sigiran di Mojokerto, serta Taman Kursi di kaki Gunung Argopuro, Situbondo. Keempat lokasi tersebut menjadi titik yang dilaporkan mengalami kebakaran. Informasi ini menegaskan bahwa peristiwa tidak hanya terpantau pada satu kawasan, melainkan mencakup beberapa wilayah berbeda di provinsi tersebut. Sampai waktu pelaporan, kebakaran masih berlangsung di lokasi-lokasi itu.

Lokasi yang disebut BPBD memiliki cakupan geografis yang tersebar, mulai dari kawasan Bromo di Probolinggo hingga Taman Kursi di wilayah Situbondo. Dua lokasi lain yang masuk dalam pendataan adalah Gunung Arjuno-Welirang di Pasuruan dan Gunung Sigiran di Mojokerto. Penyebutan kawasan-kawasan itu merujuk pada data BPBD Jawa Timur mengenai titik kebakaran yang masih terjadi hingga Selasa tersebut. Dengan demikian, laporan mencatat empat kawasan terdampak: Bromo, Arjuno-Welirang, Sigiran, dan Taman Kursi. Tidak ada taksiran luas area terbakar yang dapat disampaikan saat ini, karena pengumpulan data mengenai luasan di seluruh lokasi masih dilakukan.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyampaikan bahwa luas area yang terbakar di lokasi-lokasi tersebut masih dalam pendataan. Keterangan itu berlaku untuk kawasan yang dilaporkan, sehingga angka luas kebakaran belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia. Pendataan diperlukan untuk mencatat luasan terdampak pada setiap titik, termasuk empat kawasan gunung dan pegunungan yang masuk laporan. Untuk saat ini, informasi yang telah disampaikan mencakup keberadaan kebakaran serta nama kawasan dan wilayah administratifnya. Rincian mengenai luasan masih menunggu hasil pendataan BPBD. Karena itu, perkembangan laporan berfokus pada lokasi yang terdampak, sementara besaran area yang terbakar belum diketahui. Tidak ada angka luasan yang disampaikan untuk Bromo, Arjuno-Welirang, Sigiran, maupun Taman Kursi secara terpisah.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut akses menuju titik kebakaran menjadi salah satu kendala utama dalam pemadaman karhutla di kawasan pegunungan. Kondisi medan yang terjal dan lokasi api yang jauh dari jalur yang dapat dilalui membuat petugas tidak selalu bisa mendekati sumber kebakaran melalui darat. Karena itu, penanganan di lapangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan personel, tetapi juga pada kemungkinan mencapai titik api dengan aman.

Di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, yang berada dalam wilayah Tahura Raden Soerjo, Emil menjelaskan bahwa titik api terletak pada ketinggian dan medan yang tidak dapat dijangkau petugas darat. Keterangan tersebut menggambarkan hambatan khusus di lokasi itu: tim tidak bisa langsung mencapai kobaran untuk melakukan pemadaman dari dekat. Perbedaan ketinggian, kondisi lereng, serta keterbatasan akses dapat memperpanjang perjalanan menuju lokasi dan menyulitkan penempatan personel maupun perlengkapan yang diperlukan.

Emil juga menyoroti bahwa kondisi serupa dapat menjadi tantangan pada upaya penanganan di lokasi lain yang sulit diakses. Namun, keterangan mengenai titik api di Arjuno-Welirang tidak berarti seluruh titik kebakaran di empat kawasan gunung memiliki keadaan yang sama. Tingkat kesulitan dapat berbeda menurut letak api dan kondisi medan masing-masing. Dalam situasi seperti ini, petugas perlu menilai akses serta keselamatan sebelum menentukan cara mendekati titik kebakaran. Hambatan jangkauan juga membuat respons harus disesuaikan dengan keadaan setempat, bukan diterapkan dengan asumsi bahwa seluruh lokasi dapat ditangani melalui jalur darat. Penjelasan tersebut menempatkan akses sebagai persoalan praktis yang berpengaruh langsung terhadap proses pemadaman, khususnya pada titik yang berada di ketinggian atau terpencil. Dengan demikian, tantangan di lapangan berkaitan erat dengan posisi kebakaran dan kemampuan tim mencapai area terdampak, sementara kondisi setiap kawasan tetap perlu dipahami secara terpisah.

Pemadaman melalui udara dinilai diperlukan untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kawasan gunung di Jawa Timur, terutama pada titik yang sulit dijangkau petugas. Metode water bombing dilakukan dengan menjatuhkan air dari helikopter ke area terbakar. Upaya tersebut dapat menjangkau lokasi yang akses daratnya terbatas, sehingga menjadi salah satu opsi yang dibutuhkan dalam penanganan kebakaran di medan pegunungan.

Kendala akses menjadi tantangan dalam proses pemadaman. Petugas tidak selalu dapat mencapai titik api dengan cepat melalui jalur darat, sementara kondisi di lapangan membutuhkan penanganan yang menjangkau area terdampak. Dalam situasi seperti itu, dukungan helikopter untuk membawa dan menjatuhkan air dipandang dapat membantu upaya pemadaman. Namun, pelaksanaan pemadaman udara bergantung pada ketersediaan armada serta koordinasi dengan lembaga terkait.

Emil menyampaikan bahwa helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada saat itu masih difokuskan untuk penanggulangan karhutla di Kalimantan dan Sumatera. Kondisi tersebut membuat dukungan pemadaman dari udara untuk Jawa Timur belum dapat dilakukan saat itu. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa kebutuhan di daerah lain juga menjadi pertimbangan dalam pengaturan penggunaan helikopter BNPB, tanpa memastikan kapan armada dapat dialihkan.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur, menurut Emil, terus berkoordinasi dengan BNPB agar wilayahnya dapat mengakses bantuan pemadaman udara. Koordinasi itu diperlukan untuk menyampaikan kebutuhan penanganan di lapangan dan membahas kemungkinan dukungan yang tersedia. Upaya tersebut berlangsung di tengah kebutuhan menjangkau titik api yang aksesnya sulit. Belum ada kepastian mengenai persetujuan bantuan ataupun waktu kedatangan helikopter, sehingga penanganan tetap mengikuti perkembangan koordinasi dan kondisi kebakaran.

Sambil menunggu kemungkinan bantuan udara, petugas di lokasi kebakaran hutan dan lahan memusatkan upaya pada pembuatan sekat bakar. Langkah ini dilakukan untuk membatasi jalur rambatan api dan mengurangi risiko kebakaran meluas ke area di sekitarnya. Sekat dibuat dengan membersihkan atau membuka bagian tertentu dari vegetasi yang dapat menjadi bahan bakar, sehingga diharapkan api lebih sulit bergerak melewati batas tersebut. Upaya ini menjadi penting karena akses menuju kawasan terdampak dilaporkan sulit, sementara kondisi medan dan penyebaran titik api membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan bertahap. Petugas juga mempertimbangkan arah serta potensi perluasan api saat menentukan lokasi sekat.

Menurut Emil, polisi hutan, personel Manggala Agni, dan relawan terlatih bekerja bersama dalam upaya pemadaman sekaligus pembuatan sekat. Pembagian tugas dilakukan agar penanganan di lapangan dapat berjalan sesuai kebutuhan, termasuk mengamati perkembangan api dan membersihkan area yang dipilih sebagai pembatas. Kerja sama berbagai unsur tersebut diperlukan karena pemadaman di kawasan gunung menghadapi tantangan berupa medan yang sulit dijangkau. Ketersediaan personel dan peralatan juga menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah yang dapat dilakukan. Dengan mengutamakan koordinasi, petugas berupaya menjaga keselamatan tim sambil menjalankan pekerjaan di sekitar area terdampak.

Pembuatan sekat diarahkan untuk mencegah api mendekati permukiman warga maupun fasilitas umum. Karena itu, pemantauan terhadap titik api dan batas kebakaran menjadi bagian dari penanganan yang berjalan bersamaan dengan pekerjaan di lapangan. Petugas perlu memastikan jalur pembatas ditempatkan secara tepat dan dapat mendukung upaya menahan rambatan, tanpa mengabaikan keselamatan warga serta personel. Bantuan udara masih menjadi kemungkinan yang dinantikan, tetapi langkah darat tetap dilakukan sembari menunggu perkembangan dan dukungan yang tersedia. Polisi hutan, Manggala Agni, serta relawan terlatih terus berkoordinasi untuk melakukan pemadaman dan membangun sekat bakar. Pembuatan sekat ini merupakan bagian dari penanganan yang sedang dilakukan di kawasan terdampak.

Baca juga: Upaya Pemadaman Karhutla di Jawa Timur | Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla | Penguatan Kawasan Industri di Jawa Timur

Pos terkait